Albara menghentikan mobil nya saat tidak sengaja melihat sosok laki-laki berbadan gempal dengan setelan Jas rapi akan memasuki mobil nya. Wajah itu memang mirip Arsenio. Tapi, dua tahun yang lalu Albara mrnyaksikan sendiri bagaimana laki-laki dengan dua penyakit parah tersebut di makamkan.
Tak ingin penasaran, Albara turun dari motor nya dan menghampiri laki-laki tersebut.
"Tunggu, Sen!" Albara menahan bahu cowok itu, membuat nya berbalik menatap Albara dengan tatapan dingin.
Laki-laki mirip Arsenio itu menepis kasar tangan Albara yang mencekal pundak nya, cowok itu menatap Albara remeh, "do we know?"
Albara berdecih, "gak usah sok inggris lo,"
"You don't need to know me too well" ujar nya.
"Sombong banget sih lo, Sen. Alana nangis bertahun-tahun gara-gara lo"
"Who is Alana? I don't know and I don't want to know. You better go now and never talk to me again, because we don't know each other" ujar laki-laki itu.
"Lo bukan Arsenio yang gue kenal!"
"Who is Arsenio? I'm Argenta not Arsenio!"
Apakah Argenta dan Arsenio sosok yang sama?
***
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum, Nya"
"Waalaikumussalam, nggeh sebentar," Zahra berjalan membuka pintu dengan kemoceng di tangan nya.
"Bi Tutik? Kata nya njenengan pulang seminggu lagi?" Tanya wanita itu usai mencium punggung tangan asisten rumah tangga tersebut.
"Alhamdulillah neng, saudara Bibi teh sudah siuman beberapa hari yang lalu, dan sekarang kondisi nya sudah membaik" ujar Bi Tutik.
"Alhamdulillah, monggo ma-- huek..huek." Zahra menutupi mulut nya dengan tangan kanan, lalu berlari menuju kamar mandi.
Bi Tutik panik, wanita paruh baya tersebut langsung menghubungi Albara.
"As-assalamualaikum den,"
"Waalaikumussalam Bi, kenapa Bi?" Tanya laki-laki itu di seberang sana.
"Neng Zahra den, tiba-tiba mual-mual terus muntah-muntah. Cepat pulang atuh, kasihan teh si eneng"
"Oke, Bara langsung pulang Bi. Di rumah nggak ada Mama dan Papa kan?"
"Tuan dan nyonya belum pulang, palingan ya malam den. Emang nya kalo ada kenapa den?"
"Ceritanya panjang Bi. Bara pulang sekarang, 5 menit sampai"
"Jangan ngebut-ngebut den, astagfirullah. Nan--"
Tut..Tut..Tut...
***
"Huek..huek" Laki-laki berhoodie hitam tersebut langsung menghampiri istri nya dalam kamar mandi di ruang tengah. Satu tangan nya terangkat, memijat tengkuk leher Zahra sambil mengusap perut buncit wanita itu yang beberapa hari lalu usianya memasuki bulan ke 3.
Mengetahui kehadiran Albara, Zahra menoleh, menatap lekat laki-laki beriris hitam itu, "kang, njenengan bukan nya berangkat kuliah? Kok ada di sini?"
Albara mencekal kedua lengan Zahra, lalu mengusap lembut pipi cubby milik wanita tersebut, "kuliah itu nggak penting, yang penting itu istri"
Zahra mencubit perut sang suami dengan pipi yang bersemu merah, "dasar bucin!" Ledek nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALBARA✔
Fiksi Remaja● SPIN OFF ARSENIO ● "𝚃𝚎𝚛𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚋𝚎𝚗𝚊𝚛 𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐. 𝙼𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒 𝚜𝚎𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚊𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚑𝚊𝚍𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝."-𝓝𝓪𝓯𝓲𝓼𝓪 𝓐𝔃-𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪. L...
