Setiap malam.
Sedu membanjiri mata.
Tragedi memenuhi kepala.
Teriakan memecahkan gendang telinga.
Aku tak bisa bicara.
Pada siapa?
Nyatanya memang tak ada.
Hanya aku yang di sana.
Tak lama aku melihat cahaya.
Dengan sepasang sayap di punggungnya.
Aku tak bertanya dia siapa.
Sebab aku tahu, aku telah tiada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sajak Iseng
PuisiBerisi sajak iseng yang tertuang diantara malam dan siang. Ditulis oleh sebuah tinta yang keluar dari balik jemala. Dariku sajak sederhana.
