Usus melebar lima sentimeter, sedangkan jantung mogok kerja untuk pertama dan terakhir kali.
Pertanda digaungkannya kematian di bawah lampu jalan.
Jam berapa? Jam tiga pagi katanya.
Selamat! Telah menempuh ketidaksadaran abadi.
Rasanya agak aneh bernapas tanpa oksigen.
Tak ada hingar bingar seperti dulu yang suaranya sumbang.
Itu sangat meriah saat mereka mulai memotret dan merekam.
Akankah terkenal dan viral seperti artis skandal porno?
Tubuh hancur berai, kaki di kepala, kepala di kaki.
Sedang menunggu apa?
Mungkin sirine ambulans, juga datangnya para penghukum.
Semua sama bukan? Akan dibawa ke alam sana.
Atap gedung dipilih menjadi tempat tragedi.
Disorot bulan purnama, sempat terlihat bimbang lalu mengambil ancang-ancang.
Lompatlah! Apa yang ditunggu!?
Dalam hitungan ketiga! Satu dua tiga!
Tumbang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sajak Iseng
PoésieBerisi sajak iseng yang tertuang diantara malam dan siang. Ditulis oleh sebuah tinta yang keluar dari balik jemala. Dariku sajak sederhana.
