The Missing Puzzle Pieces..

5K 67 32
                                        

"Pagi, Dis! Perasaan aku udah lama deh ga ketemu kamu.. Lagi sibuk skripsi ya?" sapa Alika ceria saat mereka berpapasan dengan Gendis di pelataran rumah Vanya.

"Oh.. Mbak Alika.. hehe iya mbak, lagi skripsi nih.. Mau bertemu mbak Vanya, mbak? Masuk aja.. Paling masih di kamar atau sedang sarapan di halaman belakang.." ucap Gendis to the point, berharap percakapan mereka tak berlangsung lama.

"oh.. oke, aku masuk ya.. Semoga sukses skripsinya!" ucap Alika disertai senyum tulus pada Gendis.

"iyaa.. Terimakasih ya mbak.." ucap Gendis dengan senyum dipaksakan.

Sepeninggal Alika, mimik wajah Gendis berubah kesal.

"bisa-bisanya ia tersenyum semanis itu terhadapku! Apa ia benar-benar tak sadar kalau ia begitu jahat terhadapku?! Aku yang lebih dulu mengenal lelaki itu, dan aku yang mengenalkan padanya! Kemudian dengan tanpa dosanya ia bercerita padaku kalau ia dilamar oleh lelaki yang kusukai tersebut! Benar-benar menyebalkan.." gerutu Gendis penuh emosi.

Ia benar-benar tak habis pikir, sahabat Vanya yang banyak ia bantu semenjak kedatangannya ke Jogja tersebut justru menjadi pagar makan tanaman baginya..

"Vanyaaaa... Gimana keadaan lo? masih sering kram perut?" sapa Alika sambil menghampiriku yang tengah menikmati sarapan di halaman belakang. Aku sedikit terkejut menatap kedatangannya. Ya, jujur saja aku masih tak terima karna aku bahkan harus tahu soal pertunangannya itu dari orang lain.

"oh.. Hai, Al.." ucapku datar dengan senyum sedikit dipaksakan.

"Sorry ya, lo pasti marah karna gue tiba-tiba aja membatalkan janji kita.." ucapnya menyesal seraya duduk di sebuah kursi rotan di sampingku.

"Gapapa.." jawabku lagi-lagi seadanya.

"Tapi lo terlihat sedang marah sama gue.." ucapnya sambil terus memperhatikan gerak-gerikku.

"kelihatan ya?" tanyaku tak acuh.

"tentu saja, kita sudah bersahabat sepuluh tahun lebih, Nya.. Sejak tadi lo tuh sama sekali ga mau menatap mata gue, itu artinya lo sedang ingin menyembunyikan perasaan lo.." ucapnya yakin.

"Oh.. Iya ya? Kita sudah sepuluh tahun sahabatan ya? Ya ampun.. Ga nyangka deh lo masih ingat!" sindirku tajam.

"Lo kenapa sih, Nya?" tanyanya mulai kesal atas sikapku.

"Lo yang kenapa? Kenapa lo ga mau cerita kalau lo udah bertunangan? Gue bahkan harus tahu itu lewat Gendis, Al!" Omelku akhirnya. Ia terkesiap mendengarnya. Reaksinya sedikit melebihi dugaanku. Ia tampak begitu terkejut dan salah tingkah karna ucapanku barusan.

"So.. Sorry, Nya.. Sorry banget.. Gue, gue ga bermaksud menyembunyikan ini semua.. Gue.. Gue.. Mmm.. Gue cuma ga enak sama lo, bagaimana bisa gue cerita ke elo kalau belum lama ini gue bertunangan sedangkan lo baru aja cerita kalau lo baru aja patah hati.." ucap Alika akhirnya. Ia tampak begitu berat mengucapkannya. Tersirat rasa bersalah yang begitu dalam di wajahnya. Dan selain itu, ia benar-benar tampak begitu salah tingkah.

Oh! Benarkah itulah alasannya ia tak bercerita? Ya tuhan, kini justru aku yang merasa bersalah!

"Maafin gue ya, Nya.." ucapnya lagi dengan nada memohon setelah aku tak kunjung menjawabnya.

"Maafin gue ya, Al.. Ternyata lo justru ingin jaga perasaan gue.. Gue kekanak-kanakan banget.. Ga seharusnya gue ngerusak kebahagiaan lo.." tuturku tulus. Jujur, aku jadi malu sendiri mendengarnya. Bagaimana bisa aku justru marah tanpa alasan pada sahabat baikku sendiri!

"Ga apa-apanya.. Justru gue yang minta maaf.. Maafin gue, Nya.. Maafin gue, sungguh.." ucapnya dengan suara bergetar seraya memelukku erat.

"Hei, sudahlah.. Tak apa, Al.. Sikap lo justru membuat gue merasa ga enak tahu ga.. Hehe. Eh, tahu ga! Lo pasti kaget kalau denger cerita gue!" ucapku riang, mencoba memperbaiki suasana.

Part of LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang