Aku memasuki cottageku dengan linglung. Segera ku berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya karna langkahku terasa semakin limbung.
Syukurlah Sisca yang sedang asyik dengan tablet pc-nya sama sekali tak menyadari keadaanku saat ini. Kepalaku rasanya pusing.
Pusing sekali.
Aku pusing memikirkan apa yang harus kulakukan atas sikap mas Radit beberapa saat yang lalu. Tentang rasa sayang yang ia ungkapkan padaku dan terlebih lagi tentang kesalahpahamannya.
Oh.. Tuhan.. Bagaimana aku menjelaskannya? Aku bukan marah, aku bukan tak suka. Aku hanya tak tahu apa yang harus kulakukan. Dan aku.. Aku tak tahu perasaanku yang sebenarnya terhadap mas Radit..
Aaaaaaa.... pusiiiiinggg..
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur empuk berseprai broken white di samping Sisca yang sejak tadi hanya tertawa sendiri dengan tabletnya itu.
"hei, Van.. kapan datang?" tanyanya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya padaku. Ahh.. benar saja, rupanya sejak tadi ia benar-benar tak menyadari kehadiranku.. Benar-benar Gadget Mania!
"mm.. beberapa saat yang lalu.." jawabku lesu.
"kamu dari mana saja? Pergi sama mas Radit ya? haha.. kamu tahu tidak, mas Rezzy sejak tadi cari kamu! mungkin ia takut mas Radit merebut kamu darinya.. hihihi.." tanya Sisca yang sepertinya memang tidak memerlukan jawaban lagi.
"benarkah? kapan?" tanyaku seraya bangkit duduk.
"sejak sore tadi.. haha ku rasa ia mengecek semua anggota, dan begitu tahu mas Radit juga sedang tidak di tempat, ia curiga jika kalian pergi bersama. Apalagi kalian berdua sama-sama tak membawa ponsel, wah.. kamu tak tahu betapa resahnya ia! hahahaaa.." goda Sisca dengan tawa renyah.
Aku melirik ponsel yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurku,
"Ah ya.. aku lupa membawa ponselku.." gumamku seraya meraihnya.
Aku melongo ketika mendapati begitu banyak notification di layar ponselku. Terdapat 17 missed call, 9 pesan messenger dan 5 sms. Dan setelah ku cek, semua dari satu nama, mas Rezzy.
Spontan ku hubungi nomornya. Setelah dua kali dering, terdengar suara jawaban dari seberang.
"Vanya? kamu di mana?" tanya mas Rezzy segera.
"aku sudah di cottage. Mas Rezzy cari aku?" tanyaku.
"ya, aku sempat bingung mencarimu karna kamu tak menjawab teleponku. Kamu baik-baik saja?" tanyanya masih terdengar khawatir.
"hooh.." gumamku mengiyakan.
Ada jeda panjang diantara kami sebelum akhirnya ia berdeham dan dilanjutkan dengan pertanyaan,
"mm.. apa yang sedang kau lakukan?"
"tak ada.." jawabku singkat. Pikiranku masih berkelana memikirkan sosok berkacamata yang berhasil membuatku galau hingga saat ini.
"mm.. bagaimana kalau kita mencari udara segar di luar?" ajaknya.
"boleh.." ucapku tanpa pikir panjang. Mungkin jika aku keluar dengannya dapat meregangkan otot-otot syarafku.
"baiklah. kalau begitu tunggu aku.." ucap mas Rezzy riang.
"kita mau kemana?" tanyaku sedikit khawatir karna kami tengah menelusuri jalan setapak temaram yang menanjak dan semakin lama semakin menggelap dengan penerangan yang seadanya. Jalan ini adalah jalan yang kulalui bersama mas Radit sore tadi. Namun bedanya kini kami melaluinya setelah malam tiba. Aku sedikit bergidik mendengar suara-suara burung atau apalah aku ta tahu yang jelas suara-suara itu menggema di antara pepohonan yang saing menjulang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Part of Life
عاطفيةAndra, cinta pertama Vanya. Laki-laki yang sudah sejak awal masuk SMP ia sukai tiba-tiba saja menghilang ketika mereka masih duduk di kelas 2 SMA. Vanya yang merasa benar-benar kehilangan pun terus berusaha mencarinya hingga ia bertemu dengan Radit...
