"Kak, ku mohon katakan di mana Vanya.. Aku janji aku tak akan mengganggunya lagi jika kehadiranku hanya akan membuatnya merasa tak nyaman. Tapi aku.. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, kak.. Sekali saja. Atau mungkin untuk yang terakhir, jika ia memang tak ingin lagi bertemu denganku.." ucap Radit putus asa..
Venita mendesah frustasi mendengar perkataan Radit. Sudah beberapa hari ini Radit menerornya dengan kalimat-kalimat memohon yang ia lontarkan baik melalui telepon, sms maupun pesan messenger. Ia sebenarnya mau saja memberitahu dimana Vanya berada atau sekedar memberi nomor ponselnya yang baru, tapi ia takut ini hanya akan melukai Vanya dan membuatnya semakin sulit untuk move on dari Radit..
"ya tuhaaaaann.. kamu buat kakak bingung, Dit! hhh.. Baiklah, kakak akan memberitahu di mana Vanya, tapi kamu harus janji jika Vanya menolak untuk bertemu denganmu kamu harus berhenti menemuinya. Ok?!" ucap Venita akhirnya. Radit berjingkrak ceria sambil terus menempelkan ponselnya di telinga.
"Jogja, Vanya di Jogja. Alamat dan nomor ponselnya nanti kakak sms. Ia hanya bersama mama, karna Vanya bilang Verly pagi ini terbang menuju Jakarta. Yah, semoga kamu berhasil Dit.. Kakak hanya ingin kalian bahagia, jadi jangan sampai kamu membuat Vanya sedih. Ok?!"
"Oh.. terimakasih banyak kak Ven! Aku tahu, kakak pasti akan membantuku! Siap, kak! Siap.. Aku berjanji tak akan membuatnya bersedih, sungguh.." ucap Radit tak terbendung. Ia senang sekali karna usahanya untuk mencari Vanya tak sia-sia.
"ya sudah, semoga berhasil ya Dit.. Menurut informasi dari Vanya, Verly pagi ini kembali ke Jakarta dengan penerbangan pertama. Jadi mungkin Vanya akan sangat kesepian di sana.." ucap Venita lagi.
"Baik, kak! Aku mengerti. Sekali lagi terimakasih banyak ya, Kak!" ucap Radit riang kemudian memutus sambungan telepon mereka, dan mulai menghubungi nomor lain.
"Jas, tolong carikan tiket pesawat untukku ke Jogja. Hari ini, jadwal terdekat dengan penerbangan apapun, kelas manapun yang tersisa. Pokoknya sesegera mungkin, ok? Terimakasih, Jas.." ucap Radit pada Jasmine. Semenjak kepergian Vanya, Jasmine menjadi satu-satunya sekretaris di perusahaan mereka, karnanya ia sedikit agak over job belakangan ini. Dan Radit kini menambah satu lagi tugas di luar tugas-tugas pokoknya..
"Alika? Kamu sudah bertemu Andra? Jadi selama ini........." Aku tak tahu lagi harus berkata apa lagi. Ini apa maksudnya? Apa selama ini Alika sudah mengetahui keberadaan Andra dan justru menyembunyikannya dariku?
"Vanya? Kamu kenal Alika? Alika ini tunanganku, Van.." tanya Andra tak mengerti.
Rasanya hatiku seperti ditusuk belati yang begitu tajam mendengarnya. Sakit.. Rasanya hatiku begitu sakit. Jadi benar Alika sahabatku itu tunangan Andra? Ya tuhan bagaimana mungkin ia mengkhianatiku seperti ini!
"Sebaiknya kamu tanya langsung pada tunanganmu yang hebat itu" ucapku pelan seraya berjalan pergi meninggalkan mereka. Rasanya lututku begitu lemas, dan tak sanggup untuk berkata lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Part of Life
RomanceAndra, cinta pertama Vanya. Laki-laki yang sudah sejak awal masuk SMP ia sukai tiba-tiba saja menghilang ketika mereka masih duduk di kelas 2 SMA. Vanya yang merasa benar-benar kehilangan pun terus berusaha mencarinya hingga ia bertemu dengan Radit...
