Everything Has Changed

3.4K 146 25
                                        

Dua minggu sebelumnya..

"Dit, tunggu.." ucap Rezzy seraya menarik lengan Radit yang sedang berjalan melewati ruangannya menuju ruang Divisi Creative. Sudah berbulan-bulan terakhir ini Radit bersikap dingin padanya, semenjak Radit kembali dari Makasar. Semenjak dirinya kembali pada Naira. Atau bahkan jauh sebelum itu, semenjak ia memulai hubungan dengan Vanya. Semenjak itulah hubungan mereka tak sehangat dulu.

Radit menoleh dengan tatapan tak suka pada Rezzy.

"Bisakah kita bicara?" pinta Rezzy tanpa melepaskan jemarinya dari lengan jas Radit.

Tanpa banyak bicara Radit kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Rezzy.

"Gue cuma mau kasih ini.." ucap Rezzy seraya mengangsurkan selembar undangan kepada Radit.

"Apa ini?" tanya Radit dengan malas.

"Itu undangan pesta pertunangan gue. Gue harap lo bisa datang bersama Vanya" jawab Rezzy membuat Radit menatapnya tak suka.

"Mudah banget kelihatannya bagi lo, Rez! Apa lo ga pernah memikirkan perasaan Vanya?! Seenaknya lo mencampakan dia ketika Naira telah kembali, lalu sekarang semudah itu lo minta gue datang bersama Vanya?! Lo gila!" Ucap Radit tak habis pikir.

 "Lo tahu, sedalam apa luka yang lo torehkan di hati Vanya, Rez?! Hidupnya begitu berat semenjak lo campakan dia, Rez.. Dan sekarang disaat ia sedang menata ulang kembali hidupnya, dengan mudahnya lo minta gue datang bersamanya di pesta pertunangan lo dan Naira?! Lo memang ga punya hati!" Lanjut Radit benar- benar naik pitam.

Selama ini dia memilih diam, hanya karna masih menghormatinya sebagai sahabat sekaligus atasannya. Tapi kelakuannya kini membuat Radit benar-benar tak habis pikir.

 

Plak!

Tiba-tiba saja Rezzy menampar wajah Radit. Meski tak seberapa keras, tapi tamparannya cukup membuat Radit terkejut.

"Apa-apaan nih?" ucap Radit antara kesal dan tak habis pikir.

Plak!

Bukannya menjawab, Rezzy justru menampar pipi Radit sekali lagi.

"Kenapa? Apa gue salah?! Apa yang gue ucapkan salah?!"

"Ya! Lo salah! Lo yang kenapa? Wake up, Dit! Kapan lo sadar? Gila.. Lo benar-benar naif atau bodoh sih?" Bentak Rezzy kesal. Dan Radit tak kalah kesalnya dengan sahabatnya itu. Ia menarik kerah baju Rezzy dan meremasnya dengan marah sehingga membuat Rezzy sedikit tercekik.

"Apa maksud lo?!" tanya Radit begitu kesal.

"Sampai kapan lo diam begini, Dit? Lo tuh sebenarnya cinta ga sih sama Vanya?!" jawab Rezzy membuat Radit semakin tampak tak suka.

"Ada hak apa lo berani membicarakan perasaan gue terhadap Vanya?! Apa lo ga sadar, apa yang telah lo lakuin terhadap Vanya? Apa lo pikir, lo masih pantas bicara tentang Vanya di hadapan gue?" sindir Radit begitu tajam.

"Lo ga ngerti juga rupanya, Dit.. Mau sampai kapan lo bersikap naif begini Dit?"

"Ya! gue naif! Gue naif, berpikir bahwa lo benar-benar akan membahagiakan Vanya. Gue naif, berpikir bahwa lo adalah orang yang bisa gue percaya untuk selalu mendampingi Vanya! Tapi apa? Lo justru mencampakan Vanya, setelah semua kepercayaan yang udah gue berikan pada lo.."

Bugg!

Kali ini kepalan tangan Rezzy yang mendarat di pipi Radit. Dan Radit semakin tak tahan dengan sikap seenaknya Rezzy ini. Hampir saja Radit membalas perlakuan Rezzy tersebut, ketika Rezzy berkata,

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 15, 2013 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Part of LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang