[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
"Lee Haechan? Wah aku sangat terkejut jika orang seperti mu ada di pinggir jembatan yang sepi di matahari yang mulai tenggelam" Ucapan itu di ucapkan dari seseorang yang baru saja datang dan langsung berbicara kepada Haechan.
Haechan melepas maskernya dengan senyum simpul "Memangnya apakah ada larangan untukku disini?"
Hyunjin ikut menatap air sungai yang mengalir di bawah jembatan dengan Haechan.
"Aku sedang berbaik hati, jadi jangan berharap"
"Siapa yang berharap?"
"Hanya memberitahu — "
"Terkadang aku sudah cukup muak dengan kehidupan ini kau tau? Tidak di rumah ataupun di sekolah semua sama saja, seandainya aku bisa merubah semua ini mungkin aku memilih untuk menghabiskan nyawa ku saat ini juga. Tapi aku tidak sebodoh itu, meski adik-adik ku tidak menganggap ku ada aku tetap memiliki kewajiban untuk menjaga mereka" Ucapan Hyunjin di potong oleh Haechan dengan kalimat yang panjang, Hyunjin menatap sekilas laki-laki yang berada di sebelahnya "Kau tau? Saat dirimu memukul Jisung disitu aku yang terkena imbasnya Hwang Hyunjin" Kekehnya.
Setelah Haechan mengatakan itu mengapa rasa tak tega Hyunjin dan rasa bersalahnya mendadak bermunculan?
"Bahkan jika aku bisa menyuruhmu lebih baik kau membuli ku dari pada kau menyakiti saudara-saudara ku"
"Ada apa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?"
"Aku hanya ingin bercerita kepada diriku sendiri jika kau tidak mau mendengarkannya"
Ia lalu melirik jam tangan yang terpasang di tangannya, ternyata jam sudah mulai menunjukan pukul 5.
Dia harus kembali.
"Aku harus pergi terlebih dahulu" Pamit Haechan tanpa melihat lawan bicaranya, dia pun memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan menjauh dari Hyunjin.
"Ceritamu hampir mirip dengan ku Lee"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah demi langkah ia lalui dengan melihat suasana jalan raya yang mulai sepi karena hari yang semakin larut.
Haechan memasang kembali earphone nya ke telinga dan memutar lagu kesukaannya. Mendengar lagu yang baru terputar pikirannya terbayang bagaimana kehidupannya di masa depan nantinya, bagaimana nasip penyakit yang di derita adiknya nanti? Apakah semua akan baik-baik saja?
Saat sedang asik berpikir dengan firasat-firasatnya, nada dering telepon menghentikan aktifitasnya.
"Yeoboseyo Hyung"
Apakah kau tidak bisa di percaya? Jeno menelepon ku untuk mengajarinya tentang mata pelajaran, dimana kau!? Berguna lah sedikit Lee Haechan! Kembali kerumah dan ajari Jeno dan yang lain.
Benar bukan? Bentakan sudah membuatnya muak dengan apapun, di seberang telepon Mark langsung membentaknya karena tentang masalah ini.
Padahal bukannya dirinya juga membutuhkan waktu istirahat? Tidak bolehkah ia beristirahat walau hanya sebentar?..