[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
Mark diam mematung di depan makam orang yang tidak di sangka-sangka pergi secepat ini terlebih lagi tadi malam adiknya yang satu ini hanya mengucapkan akan pergi sebentar.
Tapi mengapa ternyata pergi menjemput maut?
Di sana terdapat bingkai yang di hiasi oleh bunga-bunga berwarna putih di sekitarnya. Mark sudah tidak bisa meneteskan air matanya lagi melihat semua ini, di sisi lain Chenle dan Jisung tengah menenangkan Jeno yang seperti orang kesetanan. Haechan? Entah di mana anak itu, di waktu yang seperti ini dia malah tidak ikut.
Situasi ini sangat mirip sewaktu Renjun pergi meninggalkan mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
엘이재민 [ Lee Jaemin ]
Senyum lebar nan manis itu kini lenyap 1, anak baik pemilik hati selembut kapas sudah pergi dan tidak akan tampak lagi.
Walau dirinya di luar yang terlihat sangat tidak peduli dengan apapun, akan tetapi percayalah jika Jaemin dengan Renjun adalah malaikat tak bersayap.
Sekarang keduanya sudah pergi.
Mereka memiliki siapa lagi?
"Jaemin-ah sudah bertemu dengan Renjun, Eomma nado Appa?" Kekeh miris Mark namun ia tetap menunjukan senyum simpulnya. Dia tidak bisa menunjukan sisi lemahnya di hadapan semua adik-adiknya saat ini.
Mark merasa ini semua adalah kejadian yang terulang dari awal Renjun pergi hingga Jaemin ikut menyusul.
Mark harap, ini yang terakhir.
"Nana H-hyung sudah pergi.. aku sendiri d-disini" Ucap Jisung menatap nanar bingkai foto seorang laki-laki yang tadi malam berjanji kepadanya bahkan mengecup pipinya sekilas, laki-laki itu berkata tidak akan lama dan akan pulang membawa snack kesukaannya.. tapi malah berita seperti ini yang Jisung dapatkan.
Chenle merangkul tubuh si bungsu, walaupun Chenle kadang tidak bisa diam tapi ia juga memiliki sisi hangat dalam hatinya.
"Jaemin Hyung tidak akan suka kau terisak seperti ini" Walaupun kenyataannya, tadi malam Chenle lah yang terlebih dahulu meneteskan air mata sedangkan Jeno yang mengamuk habis-habisan tidak terima mendapatkan berita yang menurutnya mustahil untuk terjadi.
Yang lain hanya diam mendengarkan penjelasan dari seberang telepon, di sana Hyunsuk lah yang menjelaskan.
Akhir-akhir ini, suasana kota Seoul sedang ada di masa musim hujan. Terkadang hujan bisa saja datang tak menentu dan terkadang sangat menyeramkan karena petir yang menyambar.
"Na, kau tau jika aku tidak menyukai siapapun yang mengkhianati ku bukan?" Tanya Jeno menghapus kasar air matanya dan menunjuk bingkai foto kembarannya dengan tatapan tajam "Kau, benar-benar mengecewakan ku"