[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
Perdebatan kecil antara Baekhyun dan Haechan yang saling menyinggung padahal hanya perkara obat di akhiri dengan Haechan yang mengalah, Baekhyun menghela nafas lega karena Haechan akhirnya mau meminum obat pemberian dokter tadi.
Pada awalnya Baekhyun memberitahu Haechan jika anak itu tidak perlu mengeluarkan semua dengan 1 malam sekaligus, tapi Haechan dengan pikirannya yang keras kepala hanya membuat Baekhyun pasrah.
Sekretaris bermarga Byun tersebut malam ini akan lembur membantu Haechan mengerjakan semuanya.
"Haechan-ah sekarang sudah jam 6 sore" Ujar Baekhyun melirik jam yang terpasang pada dinding.
"Pulang saja Hyung, aku bisa menyelesaikannya"
"Mulutmu itu harusnya di periksa terlebih dahulu sebelum berbicara." Saut Baekhyun menatap Haechan yang fokus pada lembaran kertas di depannya, untung saja dia sedikit baikan tapi masih dengan wajah pucat yang nampak mengerikan sedikit "Kau pulang jam berapa? Aku bisa membawa ini ke rumah ku Haechan-ah jika kau mau, aku akan memberimu nomor teleponku— "
"Ani, Hyung aku tau kau kelelahan. Pulang lahh" Bujuk Haechan dengan wajah memelas.
"Ck, aku takut besok aku menemukan mu hilang kesadaran — awh!"
Haechan menampar pipi Baekhyun pelan membuat sang pemilik pipi memekik tak terima "Hey kau menamparku"
"Maaf, pulang lah atau kau tidak akan memiliki istri Hyung"
"Wah, apa hubungannya!? Aku hanya khawatir kepadamu — aku tau ini sedikit berlebihan tapi kau juga masih dalam masa pubertas Haechan-ah, kau saja tahun depan baru masuk usia 20 tahun"
"Aku sudah dewasa" Potong Haechan cepat, ia berdiri kemudian menggandeng tangan Baekhyun agar keluar. Tak lupa membawa tas dan handphone milik Baekhyun yang tertinggal.
"Selamat malam Hyung, sampai bertemu besok" Haechan menampilkan senyum manisnya kepada Baekhyun.
"Tapi —"
Brakk
Lagi-lagi ucapan yang tidak di selesaikan itu membuat Baekhyun ingin menendang pintu ruangan ini, untung saja Baekhyun masih sayang dengan pekerjaannya.
"Aku besok akan kemari lebih awal" Ucapnya sebelum pergi menjauh dari ruangan CEO tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di lain tempat, beberapa anak tengah menikmati permainan di timezone tanpa beban sedikitpun.
Lagi pula apa yang harus di bebankan?
Jeno hanya duduk mengawasi kedua adiknya yang tengah bermain basket, dia ikut tersenyum saat salah satu dari mereka menggerutu karena tidak bisa mencetak point' atau meleset tak sesuai ring. Jeno tiba-tiba ingat akan Jaemin dan Renjun.
Senyum tipisnya pudar begitu saja.
"Pasti lebih menyenangkan jika mereka semua masih ada" Gumamnya dalam hati, Jeno merasa semua berat karena orang-orang yang dia sayangi pergi dengan mudahnya begitu saja.