"Yeoboseyo" Jawabnya mengangkat telepon yang masuk.
Pulang bersama Jeno.
Ucapan Mark membuat Haechan mengerutkan keningnya binggung, tiba-tiba?
"Tidak Hyung"
Kau tidak ingin mengambil untung saat aku melontarkan ini? Wah.. benar-benar idiot
"Sama saja kau seperti mengasihani ku, aku bisa pulang sendiri dengan teman ku" Tolak Haechan, dia ingin menghindari adik-adiknya sementara. Hanya sebentar, tidak akan lama.
Terserah
Pipp
"Bagaimana?" Haechan menatap Jihyo saat wanita itu melontarkan pertanyaan singkat "Ya begitu, aku akan pulang sendiri nantinya — dan ya, maaf merepotkan mu Noona" Ucap Haechan tidak enak kepada Jihyo.
"Tidak!" Sentak nya tidak setuju dengan ucapan Haechan "Ini sudah tugas ku, ngomong-ngomong apakah kau memiliki riwayat penyakit?" Jihyo bertanya dengan menatap intens Haechan.
"M-maaf?"
"Ah Mianhae, maaf jika berbicara yang tidak-tidak" Haechan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Kalau begitu aku akan kembali ke kelas"
Baru akan hendak turun dari ranjang, Hyunjin dan Felix menampakkan kepalanya.
"Terlalu lama? Sedang antri! Jangan berkomentar Noona" Celetuk Felix langsung memotong Jihyo yang akan mengucapkan rangkaian kata. Bisa Felix tebak jika ucapan yang akan di lontarkan Jihyo adalah komentar yang membuatnya malas.
Hyunjin berjalan mendekat ke ranjang Haechan, ia memberikan sebuah kantong kepada Haechan dengan wajah datar. Tentu saja langsung membuat Haechan diam.
"Tampilkan senyum mu anak kecil" Sinis Jihyo.
"Arra!" Balas Hyunjin dengan senyum lebar bahkan membuat matanya menyipit, Haechan terkekeh kecil dan mengambil alih kantong yang Hyunjin berikan.
"Makan, baru kau kembali"
"Aku bisa memakannya nanti"
Hyunjin meletakkan sumpitnya kala Haechan menolak "Makan saja, guru juga tidak akan memarahi mu. Tadi jam kosong"
"Jinjja?"
"Uhm"
Mereka bertiga pun makan bersama, tanpa di sadari sembari makan Hyunjin yang terus-terusan menanyakan dan mencari topik membuat mereka bertiga semakin dekat. Hyunjin yang mulai tau mood Haechan, dan Haechan pula juga tau kebiasaan Hyunjin dan Felix.
Suatu pernyataan Hyunjin yang mengatakan selama ini dia tidak hidup dengan orangtuanya begitu juga dengan Felix yang tidak pernah bahagia dengan keluarganya membuat Haechan tercekat.
Mereka berdua ternyata sama sepertinya. Tidak sebahagia yang Haechan kira, mereka hanyalah mencari pelampiasan kepadanya selama ini.
Jihyo berdehem kecil di saat Hyunjin, Felix dan Haechan tengah tertawa bersama. Mereka bisa dekat dengan waktu yang singkat.
"Sudah akrab kalian? Umm Haechan?"
Haechan berpaling, menatap Jihyo yang memanggil namanya "Ya, Noona?"
"Jangan terlalu lelah, karena luka kepalamu itu — terlihat sedikit errr mengerikan"
"Ini?" Tanya anak itu dengan polos menyentuh permukaan dahi yang di mana ada luka yang masih basah.
Ketiga orang yang ada di sana meringis, Felix menyambar tangan Haechan agar turun. Dia takut melihatnya, nyerinya sangat terasa.
"Ingin kembali ke kelas? Sebentar lagi sudah ingin masuk jam ketiga"
KAMU SEDANG MEMBACA
Equanimity || Nct Dream [END]
Fanfiction[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ] 『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』 «-Lee Haechan Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
![Equanimity || Nct Dream [END]](https://img.wattpad.com/cover/307957819-64-k158430.jpg)