[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
"Apa mau kalian memaafkan ku?" Tanya Haechan dengan senyum miris yang meliputi, merasa Jeno tak menjawab Haechan pun mengangkat alisnya menyuruh agar Jeno bersuara "Jangan di jawab, Jeno ingin bercerita?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak ada lain yang ingin ku katakan, terlalu banyak yang sudah di sampaikan oleh kalian" Balasnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku terlalu banyak menaruh rasa benci dan ketidaksukaan kepada mu, terlalu banyak sehingga aku lupa"
Haechan sekilas melirik Jeno, senyum tulus ia utarakan "Aku tidak menyuruhmu untuk menganggapku juga, Gwenchana yorobun.. jangan memaksa untuk melupakan itu jika kalian tidak bisa"
Di tengah percakapan, Jisung mendekat ke arah api kemudian memakai sarung tangan dan capit guna mengambil makanan yang pastinya sudah matang.
"Hati-hati Jisung-ah" Ucap Chenle menyuruh agar Jisung berhati-hati dengan api.
"Jisung dan Chenle naik kelas dan 1 tahun depan lulus, Jeno lulus 4 hari lagi" Ucap Haechan tiba-tiba, dia ingin tau apa yang adik-adiknya rencanakan untuk kedepan "Apa cita-cita kalian?"
Chenle nampak berpikiran sejenak "Aku ingin menjadi pemain basket terkenal"
"Aku ingin menjadi penerus perusahaan"
Jawaban Jeno mendapatkan semua perhatian,Chenle dan Jisung yang saling bertatapan karena sama-sama binggung dengan cita-cita Jeno yang berubah seketika "Hyung? Kau mau mengurus perusahaan?" Tanya Chenle tak percaya.
Setahu Chenle, Jeno paling anti jika Mark menyuruh anak itu untuk membantunya mengurus dokumen.
"Itu kewajiban yang Mark Hyung berikan kepadaku" Balasnya menatap sekilas Haechan "Jadi aku juga harus mengikutinya" Celetuk Jeno.
"Lalu— ?" Chenle mengangkat satu alisnya mengarah kepada Haechan, yap dia binggung mengapa tidak Haechan saja? Lagi pula umur Haechan lebih tua dari umur Jeno.
"Aku juga akan membantunya" Seakan paham tatapan Chenle, Haechan membalas.
"Oh ku kira"
Merasa sudah tidak ada lagi yang berbicara, Haechan menepuk punggung Jisung yang masih binggung mengambil makanan yang terkubur api "Kemari kan Jisung"
Jisung pun menyerahkan alat tersebut. Baru saja akan melepaskan sarung tangan, Jisung membulat kaget kala Haechan mengambil umbi-umbian tersebut dan meletakkannya pada piring yang sudah tersedia, bukan kah jika seperti itu tangan pasti bersentuhan dengan api yang panas?
"H-hyung tidak panas?" Tanya Jisung menunjuk punggung tangan Haechan, refleks Haechan tertawa pelan "Tidak, tapi jangan sekali-kali kau mencoba seperti tadi"
Haechan menyuruh agar si bungsu duduk di tempatnya, biarkan ia yang mengambil semua makanan tersebut.