8.pity

3.4K 376 12
                                        

Renjun mencoba membuat dirinya tertidur namun sayangnya tak bisa, di benaknya rasa takut dan khawatir menghantui pikirannya terus-menerus.

Takut bagaimana jika Mark terlalu kelewatan batas? Bagaimana jika Mark melakukan itu terlalu berlebih-lebihan? Pikirannya terlalu bercampur aduk.

Renjun menggapai ponsel yang ada di samping bantalnya dan mengecek jam berapa ini.

Sejak tadi sore, berarti sekarang sudah jam 7.

Apakah Mark sudah berhenti ataukah belum? Bagaimana jika perilaku Mark bisa membunuh Haechan saat itu juga — tidak, Jangan sampai. Jika itu terjadi maka Renjun akan mengutuk dirinya sendiri saat itu juga.

Renjun pun memutuskan untuk menemui Haechan melalui tangga ruangan yang ada di lantai kamarnya, itu adalah tembusan jalan pintas.

Ia menggeser lemari yang menutupi lantai itu, dengan susah payah akhirnya tenaganya mampu menggeser lemari besar tersebut.

Ctak!

Renjun meringis saat bunyi kunci yang mengunci ruangan tersebut berbunyi cukup keras, semoga Mark tidak mendengar nya.

Saat merasa kurang aman, Renjun berlari kearah pintu kamarnya dan menguncinya rapat agar siapapun tidak bisa masuk.

Setelah itu dia mengambil satu selimut dan bantal dari tempat tidurnya dan membawanya ke dalam bawah ruangan.

Renjun mengendap-endap mendekati tubuh Haechan, ia melihat tak begitu jelas karena memang pengelihatan matanya kurang bagus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Renjun mengendap-endap mendekati tubuh Haechan, ia melihat tak begitu jelas karena memang pengelihatan matanya kurang bagus. Renjun sedikit heran karena tubuh adiknya tak sama sekali bergerak.

"H-haechan?" Panggil Renjun pelan.

Degg

"Donghyuck!" Teriak Renjun seketika saat melihat jelas punggung adiknya dan tercetak jelas luka memar dengan darah yang keluar dari sana.

Renjun melemparkan bantal dan selimut yang di bawanya dan berlari cepat mendekati tubuh anak itu yang tergeletak lemas.

Grepp

Laki-laki itu langsung mendekap erat tubuh adiknya yang sudah mulai dingin di pelukannya saat itu juga, matanya memerah menahan tangis tak tega melihat keadaan miris Haechan.

Renjun menepuk pipi Haechan lembut "Haechan? Kau mendengar Hyung?"

Tangis seakan-akan ingin meledak saat ini, Mark benar-benar keterlaluan! Bagaimana tega orang itu mencelakai adiknya sendiri!?

Renjun mencoba meraih selimut dan bantal yang tadi dia lempar, setelah mendapatkannya ia menggelar selimut tersebut di samping Haechan dan menggendong agar anak itu beralaskan selimut dan satu bantal.

Setidaknya dia tidak terlalu kedinginan.

"Maaf.. maaf Haechanie aku b-belum bisa melakukan apapun saat ini — T-tapi ku pastikan aku akan menjaga mu.." Isakan nya kini mulai terdengar samar, Renjun membelai rambut sang adik dan merapikan surai yang tak tertata.

Equanimity || Nct Dream [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang