Tidak terasa, hari begitu cepat berlalu. Setelah Haechan pulang dari rumah sakit dan langsung menuju aula tak sengaja netra nya berhadapan dengan Jeno tapi dengan cepat Haechan berlari mundur agar keberadaan tidak di ketahui oleh sang adik dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke tempah guru sedang mengumumkan dan memberi semangat kepada semua muridnya yang ikut olimpiade.
Haechan yang semakin sering mengajari Jeno membuat keduanya akrab tapi tidak se akrab hubungan antar saudara lainnya.
Hanya Haechan yang suka menyapa dan sang adik membalasnya dengan deheman singkat.
Renjun beberapa kali terkena amukan Mark karena terlalu berlebih-lebihan menurut Mark memperhatikan Haechan walau hanya menawarkan makan dan hanya bertegur sapa itu menurut Mark terlalu berlebihan dan memanjakan Haechan secara tidak langsung. Dalam pemikiran Mark, menurutnya jalan yang ia lewati bagus untuk pertumbuhan mental beserta mendidik sifat Haechan agar tumbuh dewasa.
Akan tetapi tidak kah Mark tau? Jika perlakuan kasar dan permainan tangan nya membuat mental Haechan semakin parah.
Kini hari Selasa dan olimpiade diadakan hari Kamis.
Pagi ini hanya Mark dan Renjun yang bekerja sedangkan yang lain libur karena guru ada rapat penting, pengumuman itu tentu membuat Chenle senang bukan main dengan Jisung pun sama. Ngomong-ngomong si bungsu sudah sembuh 2 hari setelah Haechan pergi dari rumah sakit.
Kini ada semua orang di ruang keluarga kecuali Mark.
Renjun memang menyuruh adik-adiknya untuk berkumpul sedangkan Mark sudah berangkat ke kantor sejak jam 6 tepat dini hari.
"Chenle buka mata mu" Gurau Renjun melihat nyawa Chenle yang sepertinya belum semua terkumpul.
Renjun tiba-tiba menepuk paha Haechan yang ada di sampingnya membuat sang empu tersentak kaget.
"Kau mengagetkan ku" Gumam Haechan.
"Maaf" Ucap Renjun di selingi tawa kecil "Aku menyuruh kalian semua untuk berkumpul karena sebentar lagi kalian lulus bukan?"
"Nee Hyung" Balas Jaemin.
"Benar" Lanjut Jeno.
"Aku hanya mengingatkan kalian agar belajar dengan sungguh-sungguh.. dan Jeno? Kau Kamis akan olimpiade bukan? Belajarlah dengan sungguh-sungguh, Jebbal"
"Hyung mu ini akan sangat bangga jika kau mendapatkan juara terbaik" Jeno menunduk sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya dengan senyum tipis "Akan ku usahakan"
"Haechan" Panggil Renjun.
"Marahi saja Jeno jika dia tak mau belajar, ajari dia agar menjadi anak yang rajin dan pintar" Perkataan Renjun membuat Jeno memutar bola matanya malas, padahal Jeno tidak se malas itu walaupun sedikit dari penuturan Renjun adalah pernyataan yang benar.
"Chenle Jisung"
"Nee?" Saut Jisung dengan menggoyangkan lengan Chenle agar saudaranya terbangun dan membuka mata.
"Kau sebentar lagi akan naik kelas, belajarlah dengan baik dan coba kerjakan pekerjaan rumah mu sendiri.. jangan bergantung kepada orang lain karena apa? Kunci kesuksesan mu tidak ada pada orang yang kau berikan beban tersebut" Jelas Renjun kepada semua adik-adiknya.
Renjun hanya ingin, semua kembali seperti semula tanpa adanya pertengkaran.
Entah dari Mark ataupun Haechan dan semuanya.
"Tidak apa Hyung, lagian dia tidak keberatan" Ujar Chenle yang sudah membuka matanya dan menatap Renjun malas.
"Hyung apakah pernah mengajari mu seperti itu? Jaga sikap mu terhadap yang lebih tua Lee Chenle"
KAMU SEDANG MEMBACA
Equanimity || Nct Dream [END]
Fiksi Penggemar[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ] 『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』 «-Lee Haechan Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
![Equanimity || Nct Dream [END]](https://img.wattpad.com/cover/307957819-64-k158430.jpg)