[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
"Aku pulang" Suara terdengar dari depan pintu. Yap, Jaemin baru pulang jam 8 malam.
Entah apa yang anak itu lakukan hingga pulang melebihi waktu yang di janjikan. Saat terdengar suara Jaemin, Jisung yang kebetulan baru turun menengok sekejap setelahnya mengalihkan pandangannya ke arah semula.
Jaemin melihat Jisung heran, tidak biasanya si bungsu mengabaikannya begitu saja?
"Jisung-ah, di mana yang lain?" Tanya Jaemin meletakkan kantong plastik yang tadi bekas buket bunga, Jaemin lupa membuangnya.
"Di atas" Balas Jisung meneguk minuman "Kau kemana saja Hyung? Semua menunggumu memasak makanan, tidak ada yang bisa memasak di sini"
"Maaf" Jawabnya lirih, Jisung memutar bola matanya jengah "Tidak apa-apa, mereka juga sudah tidur kecuali Chenle dan Jeno Hyung"
Jisung pergi meninggalkan Jaemin di ruang itu sendirian, Jaemin juga lupa dengan waktu. Ia tadi terlalu sibuk mengatur jadwal sehingga lupa jika dirinya memiliki janji akan pulang cepat.
"Aku juga butuh waktu sendiri" Bisik Jaemin sekilas setelahnya ia melenggang pergi menyusul Jisung ke lantai 2.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haechan meremas perutnya dengan kedua telapak tangan, perutnya kini terasa terpelintir karena belum sama sekali menerima makanan sedikitpun. Haechan tak berani hanya sekedar keluar dari kamar saat ini bahkan tadinya.
"Seharusnya aku lebih baik menanggung hukuman di akhir dari pada menyiksa diri ku sendiri seperti ini"
Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan keluar untuk mencari makanan di dapur, lagi pula di jam seperti ini semua sudah tidur tapi bisa saja Chenle dan Jisung masih terbangun karena bermain game.
Langkah Haechan terhenti tepat di depan ruang kerja Mark.
Dengan penuh keberanian Haechan membuka perlahan pintu itu, yang pertama dia lihat adalah Mark yang tertidur lelap di meja kerjanya dengan berkas-berkas yang menumpuk.
Haechan menghembuskan nafas panjang, dan anak itu pun masuk.
Membaca satu persatu tulisan, berkas dan laporan yang membuat Mark tertidur di ruang kerja seperti ini. Andai saja ada Renjun, pasti Renjun sudah membantu Mark di saat seperti ini.
"Mark Hyung, ijinkan aku untuk mengerjakan ini" Bisik Haechan menatap dalam mimik wajah kakaknya yang tertidur pulas "Jika ada yang salah, Mianhae Nee.." Lanjut Haechan pada akhirnya mengangkat tumpukan berkas tersebut ke meja kecil di samping sofa yang tak jauh berada di sana.
Haechan mulai membaca dan membuka lembar-perlembar berkas milik Mark. Setelah di rasa paham, Haechan mulai menulis di kertas itu.
Rasa laparnya hilang begitu saja.
"Ah ternyata ini sangat berat" Ucap Haechan mengamati berkas yang sudah ia selesaikan beberapa.
Tenang saja, Mark sudah menulis hal-hal yang harus di lakukan pada berkas tersebut pada lembaran khusus. Karena jika Mark tidak menulisnya maka dia akan lupa.