[ WAJIB VOTE, KALO NGGA VOTE AUTHOR SLEDING ⚠️ ]
『"Jika seperti ini jadinya, kita impas bukan? Nyawa dibalas dengan nyawa."』
«-Lee Haechan
Katanya setiap perbuatan maka harus ada tanggung jaw...
Seorang anak yang tadinya jatuh tak berdaya di ambang pintu itu kini bisa merasakan langsung sakit pada seluruh badannya begitu ia membuka mata.
"Luhan H-hyung" Panggilnya dengan suara serak, Haechan berdiri perlahan dengan tangan yang berpegangan di knock pintu.
Ceklek.
Bersyukur karena pintu bisa di buka dengan cepat karena kalau tidak maka bisa saja tenaganya saat ini langsung cepat terkuras habis.
Haechan bergerak binggung mencari nomor Luhan, saat menemukannya Haechan langsung menelepon nomor tersebut tanpa basa-basi. Sorot matanya menatap ke arah jam dinding.
Jam 7 malam.
Dia sudah tak sadarkan diri di lantai kamar mandi sekitar 3 jam lamanya.
The number you have dialed cannot be reached.
Ada satu orang yang terbesit di pikirannya saat ini, meskipun tidak tau apakah dia bisa membantu yang terpenting Haechan akan mencoba meminta bantuannya, jika harapan terakhir itu tidak dapat di hubungi maka ia akan memutuskan untuk memaksa agar tidur tanpa mengobati luka merah pada kulit ataupun mengganti pakaiannya yang basah.
Jika basah, nantinya akan kering sendiri bukan?
Drrt ddrrrttt
Halo?
"Hyunjin"
Haechan? Suaramu terdengar lirih sekali
"Apakah kau bisa menemui ku sebentar saja? A-apa boleh aku meminta waktu mu malam ini sekejap?"
Tentu tentu. Kau di mana? Ingin ku jemput di rumahmu?
"J-jangan.. di taman xxxx"
Arraseo.
Pipp
Telepon di matikan sepihak oleh Hyunjin, Haechan menggenggam tangannya sendiri merasakan dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya.
Nanti dia hanya akan berjalan sebentar menuju taman tidak apa bukan?
Haechan yakin dirinya bisa menahan itu semua, jika menahan rasa sakit dalam tubuhnya selama ini bisa lantas mengapa menahan dingin dan rapuh fisiknya saat ini tidak bisa?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam yang dingin ia terobos.
Awalnya Jisung tidak sengaja melihat Haechan yang tampak berjaga-jaga menggunakan jaket pada tubuhnya dan masker yang sudah terpasang. Hendak saja Jisung bertanya sudah terlebih dahulu Chenle menyela, mengajaknya untuk bermain game.
Kini Haechan memasukan tangannya ke dalam kantong jaketnya.
Baju yang tadi basah sudah mengering karena hembusan angin kuat yang mengenai tubuhnya di waktu Haechan perjalanan kemari.