32.responsibility

2.6K 333 12
                                        

"Jeno? Sejak kapan kau di sana?"

Deg

Jeno tersigap sedemikian rupa saat Haechan sadar akan keberadaannya.

"Aku hanya ingin mengembalikan piring"

"Berikan" Ucap Haechan dengan senyum manis mengulurkan tangannya agar Jeno memberikan piring kotor yang anak itu bawa.

Mau tidak mau dengan gugup Jeno memberikan piringnya kepada Haechan. Jeno berdehem pelan "Kau tadi menelepon siapa?"

Senyum Haechan dan penggerakan tangannya terhenti kala Jeno melontarkan pertanyaan tersebut, berarti apakah Jeno mendengar semua pembicaraan nya?

"Apa kau mendengar semuanya?" Tanya Haechan berusaha tetap tenang dengan keadaan.

"T-tidak semua, aku hanya mengetahui sedikit suara asing"

"Tadi hanya seseorang kurir paket" Demi apapun Haechan benar-benar meminta maaf jika Luhan tau jika Haechan memplesetkan status pekerjaannya di depan sang adik menjadi kurir pengantar barang.

"Benarkah?" Tanya Jeno memicingkan alis.

"Apa lagi?"

Apa Jeno bisa mempercayai itu? Tentu tidak "Obat apa Hyung? Kau memesan obat untuk Jisung?"

"Tidak Jeno-ya, untuk isi kotak obat yang ada di rumah —"

"Mark Hyung dan aku sudah membelinya di gudang"

"Kau lupa? Kamar ku tidak pernah ada yang merawat selain diriku sendiri, kau mengapa sangat penasaran? Aku juga sama sekali tidak menyentuh barang-barang yang kalian beli jika tidak ada yang menyuruhku mengambilnya sendiri." Memang pada dasarnya Haechan pintar bermain kata, kini Jeno diam. Benar juga, mengapa dia sangat penasaran "Aku— "

"Kau ingin menitip sesuatu yang habis?"

"Tidak tapi tadi sepertinya— Ah sudah lah!" Gerutu Jeno pergi keluar begitu saja, sepertinya anak itu masuk kembali ke dalam air.

Mendengar jawaban kesal dari Jeno, bibirnya terangkat kecil. Haechan menggeleng pelan dengan tangan yang fokus membersihkan piring bekas milik Jeno.

"Anak itu benar-benar.." Helaan nafas panjang keluar dari mulut Haechan.

Hampir saja nyaris terbongkar karena dia yang tak melihat Jeno ada menguping pembicaraannya dengan Luhan tadi, bagaimana jika Jeno tau kalau semisal yang di hubungi itu adalah dokter?

Apa yang mungkin Jeno pikirkan?

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Haechan sudah siap untuk kembali ke rumah sedangkan Chenle yang awalnya memberitahu Haechan jika akan pulang siang nanti malah sama sekali belum mandi ataupun berganti baju.

Jeno dan Chenle masih ada di kolam renang.

"Kalian tidak mau pulang?" Tanya Jisung pada kedua orang yang sedang sibuk seperti menjemur diri di bawah matahari.

"Sudah jam berapa memangnya?"

"Jam 10"

"Itu masih pagi, sebentar lagi aku akan berganti pakaian" Saut Chenle santai, Chenle dengan kacamata hitamnya berbaring di genangan air kolam di alasi oleh pelampung flamingo.

"Hyung, Haechan Hyung sudah keluar" Ucap Jisung melihat Haechan dengan tas nya menuju mobil.

Jisung yang mendadak panik kemudian berlari ke dalam untuk bergegas mandi lalu membereskan barang-barang yang tersisa.

Jeno dan Chenle serentak mengalihkan perhatian pada sosok Haechan yang ada di belakang mobil tengah membuka bagasi.

"Ayo bersiap" Titah Jeno mendorong pelampung agar menepi, Chenle mengangguk sekilas dan naik ke daratan kembali mengikuti Jeno.

Equanimity || Nct Dream [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang