‼️WARNING‼️
Terdapat kata-kata kasar di dalamnya. Jadi, dimohon untuk bijak dalam membaca. Ambil bagian yang baik, dan belajar dari keburukannya untuk tidak ditiru.
_______________________________
"Bahkan semesta pun tidak akan pernah menduga jika...
"Perjalanan panjang telah dimulai, di awali dengan sambutan gerimis kecil sebelum diterpa badai"
~ Kania Casandra Melani
____________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
____________________
Akhirnya, ini adalah hari yang di tunggu-tunggu. Hari dimana Kania kembali ke sekolah dan belajar seperti biasanya. Dan untuk sekarang, dirinya tengah sibuk menata kerudungnya di depan kaca dengan satu buah jarum pentul di tangan kanan, serta tangan kiri mengatur posisi kerudungnya. Kania berkacak pinggang. Mungkin butuh waktu lima menit hanya untuk Kania membenarkan kerudungnya, cukup melelahkan.
Disaat itu juga Leni memanggil Kania untuk segera sarapan, makanan sudah siap. Memang, sejak saat Widi-asisten rumah tangga izin untuk pergi pulang kampung, ibunya sakit keras sedangkan ia tinggal sendirian. Mau tidak mau Leni sendirilah yang turun tangan. Namun anehnya Sudah hampir satu bulan belum kunjung kembali. Sulit untuk bertukar kabar dengan Widi, karena ia tidak memiliki ponsel untuk dihubungi.
Dengan terburu-buru Kania menuruni tangga, sesegera mungkin menghampiri Leni. Namun saat itu Leni tidak menyadari sesuatu, dia sibuk berkutat dengan alat masaknya.
Leni menoleh ke arah Kania "ayo cepet sarapan nan-" capan Leni terpotong, mulutnya menganga saat melihat Kania memakai kerudung. Itu momen langka dan wajib diabadikan pada museum ternama. "A-adek pake kerudung?" Tanyanya tak percaya.
"Iya hihi, bagus ga?" Kania memutar badannya.
"Gak takut di gosipin?" Tanya Leni sekali lagi.
Kania menggeleng mantap "enggak dong. Spek ultramen gini di gosipin doang langsung loyo? Sorry gak mempan."
Leni tertawa "anak mama bisa aja." Tangannya kini bergerak cepat untuk menyiapkan satu piring nasi dan lauk, "cepet sarapan, sebentar lagi jam tujuh" titah Leni, Kania lantas mengiyakan.
***
Jalan Kania terburu-buru, ia takut jika terlambat masuk kelas. Tak peduli jika para siswa melihatnya dengan tatapan aneh, di barengi dengan omongan-omongan menusuk hingga inti paling terdalam.
Itu si Kania? Pasti mau caper sama Zaki
Cblcblcbl,caffer banget lohh
Sok suci
Mungkin kepalanya di botakin pas ketahuan di skors kali, jadinya pake kerudung
Kania memilih diam tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Ini awal yang cukup berat untuk Kania, tapi tak apa karena dirinya sendiri yang berbicara bahwa ia seorang ultramen.