‼️WARNING‼️
Terdapat kata-kata kasar di dalamnya. Jadi, dimohon untuk bijak dalam membaca. Ambil bagian yang baik, dan belajar dari keburukannya untuk tidak ditiru.
_______________________________
"Bahkan semesta pun tidak akan pernah menduga jika...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
______________________
Cakrawala gelap, tiada bulan ataupun bintang. Angin sejuknya mampu membuat gorden kamar berayun-ayun. Ini sudah pukul sembilan malam, Kania tengah menangis sendirian, lara-nya menghujam. Kepalanya terus saja memikirkan Nisa. Bagaimana jika nanti ia kehilangannya? Ini akan terasa sangat sepi.
Namun di tengah tangisnya itu ponselnya berdering, sebuah pesan WhatsApp menghampirinya. Dengan segera ia buka aplikasi tersebut, pesan itu berasal dari Zaki.
_____CHAT_____
Calon Suami: - assalamualaikum - maaf ganggu waktunya, aku bukan mau hubungan kamu sama mama kamu hancur, tapi ada sesuatu yang mau aku kasih tau ke kamu. - mama kamu itu punya hubungan sama pak Heri
Kania: - waalaikumussalam - beneran Ki?
- kamu liat sendiri?
Calon Suami: - iya, pas mau beli sate di perempatan mini market, pak Heri manggil Bu Leni pake sebutan sayang
Kania: - oh iya - makasih
Calon Suami: - sama sama
__________
Hancur berkeping-keping, rasanya sebuah tangisan tidak lagi bisa menjadi sebuah ekspresi dari semua ini. Air mata Kania mengalir begitu saja tanpa henti, tapi bibirnya sama sekali tak mengeluarkan suara tangis.
"Kenapa semua luka ini seperti datang berturut-turut wahai Rabb ku?..."
"Kenapa?..."
Demi memastikan apa yang dikatakan Zaki, dia segera pergi ke kamar Leni. Kania mengetuknya, dan segera masuk. Matanya yang sembab membuat Leni menanyakan banyak hal.
"Mana ada yang luka? Adek di-bully lagi?" tapi tidak ada jawaban dari Kania.
"Adek sakit..." Ucap Kania dengan lirih.
"Sakit ya? Yang mana sayang?" Tanya Leni kembali.
"Ini" jari telunjuk Kania mengarah ke dada, pandangan Leni kini terlihat bingung.
"Mama ada hubungan apa sama pak Heri?..." Pertanyaan Kania membuat Leni terduduk kaku tanpa jawaban apapun.
"Kenapa?!" Tanya Kania dengan nada sedikit meninggi.
"Berani sekarang bentak orang tua?! Udah dibelai-belai malah kayak gini?!" Timpal Leni dengan nada emosi.
"Jawab dulu pertanyaan adek!" Ujar Kania sembari menatap mata Leni, seketika setetes air jatuh ke pipinya.
Plak!
Leni menamparnya keras. Kania hanya bisa diam, hatinya menyangkal jika ini adalah kenyataan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tangannya sibuk memegang pipi kiri.