KALIAN MALES VOTE DAN COMMENT?? AKU MALES UPDATE PART BERIKUTNYA!
𖥔 ࣪˖ Thantophobia: The Phobia Losing Someone You Love. Translate: (Phobia Kehilangan Seseorang Yang Kamu Cintai) 𖥔 ࣪˖
***
Siang ini, Arkan yang menerima omel-omelan Pak Mulyadi, selaku kepala sekolah, sekolah SMA LAVENDER. Nayara tidak bersama Arkan, memang sengaja dipisahkan oleh Pak Mulyadi.
Arkan bergerak gelisah. Sepertinya, Arkan sudah rindu kepada gadisnya yang galak dan juga menyebalkan tingkat tinggi.
Pak Mulyadi yang memang melihat gerak-gerik Arkan yang tak nyaman dilihat olehnya itu memberhentikan mulutnya untuk mengoceh dan menatap murid kurang ajarnya.
"Kalau guru ngomong itu, didengerin!" tegur Pak Mulyadi membuat Arkan menoleh dengan raut wajah yang menggambarkan, keamarahan, kekesalan, dan kekecewaannya.
"Bacot!" balas Arkan menatap tajam kearah Pak Mulyadi. Pak Mulyadi menghela napasnya lalu mendekati Arkan dan memegang bahu Arkan.
"Kamu harus menjaga omongan kamu, supaya orang lain tidak terluka mendengar omongan kamu" ucap Pak Mulyadi menepuk-nepuk punggung Arkan perlahan.
"Ogah!" singkat Arkan ketus.
"Bayangin aja, kalau kamu bilang kata-kata tidak pantas kepada oranglain, perasaan orang itu akan terluka, Arkan!" Arkan memejamkan matanya tidak ingin mendengarkan ucapan Pak Mulyadi yang menurutnya adalah omong kosong.
"Ya makanya gak usah didengerin kalau gak mau sakit hati! gitu doang ribet banget!" Arkan merotasikan matanya lalu menyingkirkan tangan Pak Mulyadi dari bahunya.
"Terserah kamu, Nayara tidak menyukai orang keras kepala seperti kamu, Arkan" Pak Mulyadi tersenyum manis membuat Arkan semakin dilanda ketakutan.
"Gausah bawa-bawa Nayara!" ujar Arkan tak suka. Pak Mulyadi terkekeh kecil. Arkan yang mendengar suara kekehan itu hanya diam.
"Kamu saya scors selama satu minggu dari sekarang, jika kamu sudah selesai menjalani hukumannya, Nayara akan mendapat hukuman seperti kamu juga" ujar Pak Mulyadi membuat Arkan membulatkan matanya.
"Gausah hukum Nayara! kasih gue hukuman dia, gue aja yang lakuin buat Nayara, soal hukuman buat dia, biar gue yang kasih!"
Pak Mulyadi menggeleng mendengar ucapan Arkan. "Keluar dari ruangan saya, dan segera pulang kerumah, tidak perlu mengunjungi Nayara, saya menyuruh Nayara untuk menjauhi kamu"