43. Saling Dendam

154 1 0
                                        

      Suara tangisan terdengar begitu menyayat hati, dengan tangan gemetar Adam menyentuh wajah anaknya.

"Maafin papa gak bisa jaga kamu," lirih Adam.

"Yang sabar ya Adam, ikhlas!" Ujar Kiai Jaya memegang bahu Adam.

"Coba aja tadi Kayra gak jatoh pasti ke dua anak Adam gak bakal kenapa-kenapa," ucap Adam terus memeluk anaknya.

"Setelah Kay sadar baru kita adakan pemakamannya, dia pasti juga tidak menyangka akan punya dua anak," ucap Ranti pada Adam.

"Iya ma," jawab Adam.

"Siapa namanya Dam?" Tanya Nyai Roro.

"Yang ini namanya Hani Adam Sanjaya," jawab Adam sambil mengelus pipi anaknya yang dalam pelukannya.

"Dan ini Hana Adam Sanjaya," sambung Adam sambil mengusap sisi tabung inkubator.

Adam benar-benar tidak menyangka ia akan memilki dua anak sekaligus, ia juga tak menyangka jika anak-anaknya secepat ini lahir. Antara sendih dan bahagia, semuanya campur aduk.

Kay masih terlihat tenang setelah dipindahkan dari ruang oprasi, ia masih dalam pengaruh obat bius. Dengan lembut Adam mengusap kepala Kay dan sesekali menciumnya.

"Maafin mas sayang! Mas gak bisa jaga kalian!" Sesal Adam masih terus menangis.

"Mas~," panggil Kay lemas.

"Alhamdulllah kamu udah bangun!" Ucap Adam antusias dan mencium puncak kepala istrinya.

"Mana anak kita mas?" Tanya Kay mencari-cari keberadaan anaknya.

"Satu anak kita di tabung inkubator dan satunya gak bisa di selamatkan," jawab Adam tertunduk.

"Ki-kita punya dua anak?" Tanya Kay tak percaya.

"Iya sayang," jawab Adam tersenyum simpul.

Ranti mendekat dengan menggendong Hani, bayi itu langsung di letakkan disisi kanan Kay.

"Maafin bunda sayang, maafin bunda," ucap Kay yang tangisnya langsung pecah.

"Mas... ini semua salah Fitri mas! Dia harus tanggung jawab!" Amuk Kay.

"Istigfar sayang, istigfar!" Ucap Adam menenangkan Kay.

"Anak kita mas! Hiks hiks," raung Kay.

Adam dengan sigap langsung memeluk Kay dan anaknya.

"Ikhlas Kayra, kita harus ikhlas," bisik Adam.

"Ini bukan masalah ikhlas atau enggak mas! Ini masalah tanggung jawab! Hiks hiks hiks," ucap Kay.

"Kita liat fitri apa yang bisa gue lakuin ke lo!" Batin Kay tersenyum sinis di sela pelukan Adam.

Kay sudah tidak menangis atau meraung-raung lagi, dan kini jenazah anaknya telah di bawa Kiai dan Nyai ke pondok untuk segera di makamkan, sedangkan Kay masih tidak diperbolehkan pulang.

Berita kematian anak Kay dan Adam sudah menyebar bahkan sampai ke telinga Fitri dan keluarganya.

"Fitri! Abi tidak pernah mengajarkan kamu berbuat jahat! Kenapa kamu tidak berprikemanusiaan sekali!" Marah Abi Sholeh pada anaknya.

"Istigfar Fitri! Hiks hiks, kamu sudah membunuh anakmu sendiri dan sekarang kamu sudah bunuh anak orang lain juga!" Kini Umi Ayu angkat bicara.

"Maafin Fitri Abi Umi, Fitri gak bermaksud begitu!" Tangis Fitri sambil sujud di hadapan orang tuanya.

"Abi sudah mencoba memaafkan kamu masalah kemarin dan sekarang kamu buat masalah baru!" Marah Abi Sholeh menjadi-jadi.

"Mau di taruh di mana muka keluarga kita Fitri!" Sarkas Abi Sholeh lalu pergi ke kamar.

"Banyak-banyak minta ampun Fitri sama Allah, dan jangan lupa kamu minta maaf juga ke keluarga Kiai Jaya! Ingat itu!" Ucap Umi Ayu dan menyusul sang suami.

"Semuanya hancur! Hisk hiks hiks, semuanya berantakan! Hiks hiks hiks," tangis Fitri di lantai ruang tamu.

Dengan gemetar ia mulai berdiri, melihat ke dua tangannya. Sejahat itu kah ia di mata orang lain? Bahkan orang tuanya sendiri. Ia hanya ingin membalaskan sakit hatinya, ia ingin orang sadar bahwa dia juga sakit hati, terpuruk dengan keadaan. Tapi satu orang pun tidak ada yang mau merangkulnya, mengaatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hilang arah, ia hilang kendali.

"Kenapa begini," ucap Fitri getir.

"Kalau sudah tercebur kenapa tidak tenggelam sekalian," monolognya lalu berlali ke luar rumah.

Dengan kecepatan tinggi Fitri mengendarai mobil entah kemana tujuannya, yang jelas hatinya sekarang penuh bara api yang menggebu-gebu.

"Kita ketemu sekarang di tempat kemaren."

"Oke gue langsung ke sana!"

"Gue bakal hancurin sehancur-hancurnya," batin Fitri terus menambahkan kecepatan mobilnya.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang