14 .Kembali Ke Rumah

951 31 0
                                        

Dengan serius orang tua Kay dan Adam berbincang, mereka berdiskusi terntang kejadian tadi subuh. Bukan diskusi, tapi lebih tepatnya mengutarakan niat baik dari keluarga Adam.

"Bagai mana Abraham apa kamu setuju, dengan keputusan saya yang akan menikahkan Adam dan Kay?" Tanya Kiai Jaya pada ayah Kay.

"Kalau memang itu yang terbaik saya setuju saja Kiai," jawab Abraham.

"Alhamdulillah, kalau begitu lusa kita adakan pernikahannya di mesjid pesantren ini bagai mana?" Tanya Kiai Jaya.

"Kenapa harus nikah sih Kiai? Kenapa gak keluarin Kay aja dari pesantren? Kay janji bakal tutup mulut, jadi nama baik kalian tetap terjaga," ucap Kay angkat bicara.

"Ini bukan masalah nama baik yang tercoreng Kay, tapi ini masalah harga diri didepan tuhan, apa kamu tidak merasa sangat berdosa di hadapannya?" Ucap Kiai jaya mencoba menjelaskan.

"Iya Kay, yang di katakan Abi benar, rasanya saya tidak bertanggung jawab setelah menyentuh kamu, bagaimana jika nanti itu dipertanyakan di akhirat?" Ucap Adam dengan wajah bersalahnya.

"Gue gak masalahin itu, lagian kita juga gak sengaja, itupun cuma pelukan!" Sahut Kay kekeh dengan pendiriannya.

"Tapi apa kamu tidak simpati kepada saya? Apa kamu tega membuat saya merasa bersalah seumur hidup?" Tanya Adam meminta pengertian.

"Tapi apa lo gak kasian sama gue juga? Lo tega liat gue menderita dengan menjalani hubungan ini tanpa cinta?" Ungkap Kay sedih.

"Bahagia atau tidaknya biarkan waktu yang menjawab, saya mohon Kay! saya berjanji akan berusaha membahagiakanmu," ucap Adam meyakinkan.

"Kalau saya setuju saja sama keputusan Kiai, saya hanya berharap anak saya bakal jadi lebih baik setelah dibimbing Gus Adam," jawab Abraham.

"Jadi apakah telah sepakat Kay dan Adam akan segera dinikahkan?" tanya Kiai Jaya memastikan.

Mereka semua menatap ke arah Kay, karna hanya tersisa persetujuannya saja.

"Iya, kay nurut aja," jawab Kay sendu.

"Apakah kami boleh membawa pulang Kay untuk sementara waktu? sampai acara pernikahannya?" Tanya Ranti.

"Baiklah kalian boleh membawa Kay pulang," putus Kiai Jaya.

"Kalau begitu kami mau izin pulang dulu," ucap Abraham.

"Iya silahkan," jawab Kiai Jaya mempersilahkan.

"Assalamu'alaikum," salam Abraham dan Ranti serentak, sedangkan Kay hanya diam saja.

"Wa'alaikumsalam," jawab kiai Jaya, Nyai Roro serta Adam.

"Pah kenapa harus nikah sih?" Tanya Kay kesal saat sudah berada didalam mobil.

"Berani berbuat, berani bertanggung jawab," sahut Abraham sambil menyalakan mobil dan melaju keluar dari area pesantren

_♡_

Setelah menempuh waktu yang jauh, akhirnya Kay sampai di rumah. Dia lelah, bukan hanya lelah badan, tapi pikiran juga. Ini memang salahnya, seharusnya dia tidak begitu.

"Aku ke kamar!" kata Kay setelah mereka sudah berada didalam rumah.

Sesampainya di kamar Kay langsung merebahkan tubuh dikasur sambil memandangi langit-langit kamar.

"Gara-gara rencana sialan itu gue jadi harus nikah sama Adam," batin Kay kesal.

"Gue nyeselll NYESELLL!"teriak Kay meluapkan emosinya.

"KAY?"teriak Ranti dari bawah, mungkin cemas karena mendengar Kay berteriak.

"AKU GAK APA-APA KOK MAH," teriak Kay agar Mamanya tidak khawatir.

"Gue harus kasih tau Bella," gumam Kay dan bangkit dari kasur.

"Mah, ponsel aku mana?" Tanya Kay menghampiri Ranti di dapur.

"Sama papa kamu," jawab Ranti masih fokus dengan masakannya.

"Oh ya Temen-temen kamu udah di undang papa," sambung Ranti.

"Owh gitu, mama gak marah kan sama Kay?" Tanya Kay.

Ranti pun menghentikan aktifitasnya lalu menatap sang anak.

"Percuma mama marah orang sudah terlanjur," jawab Ranti dengan nada sedikit kecewa.

"Maafin Kay ya Ma," mohon Kay tulus.

"Kamu gak salah, mungkin ini udah takdirnya," jawab Ranti tersenyum tipis kearah anak semata wayangnya itu.

"Kalau mau ambil ponsel, kamu ambil aja sama papa, papa kamu lagi ada dikamar," ucap Ranti dan lanjut memasak.

"Nanti aja deh ma," sahut Kay dan kembali ke kamar dengan langkah tak bersemangat.

Kay hanya diam dikamar sambil meratapi kesalahannya, tanpa ada niat untuk keluar kamar.

"KAY AYOK TURUN KITA MAKAN MALAM!" teriak Ranti dari bawah.

"IYA MA!" sahut Kay dan beranjak dari kasur menuju dapur.

"Malam ma pa," sapa Kay lalu duduk.

"Malam," jawab keduanya.

"Kamu mau apa biar mama siapin?" tanya Ranti.

"Aku ambil sendiri aja ma," sahut kay lalu menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk pauk.

Tak ada yang bicara sampai acara makan malam selesai, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.

"Papa selesai," kata Abraham dan bangkit dari duduknya.

"Pa maafin Kay," ucap Kay dan berdiri menghadap Ayahnya.

"Kay tau, papa pasti kecewa sama Kay karena udah berbuat senekat itu, maafin Kay, pa!" ucap Kay dengan mata berkaca-kaca dan memegang tangan papanya.

Namun Abraham hanya diam bahkan tak menatap ke arah Kay.

"Gak apa-apa kok kalau emang papa belum bisa maafin kesalahan Kay," kata Kay pasrah dan melepaskan tangan ayahnya lalu segera akan beranjak, namun terdengar suara yang membuat langkahnya terhenti.

"Papa gak marah sama kamu," sanggah Abraham.

"Papa cuma ngak nyangka putri satu-satunya, yang papa didik dari kecil ternyata seterkekang itu sampai-sampai berbuat nekat, maafin papa udah maksa kamu mondok," kata Abraham dan meneteskan air mata.

Kay segera memeluk papanya.

"Papa gak salah," ucap Kay dalam pelukan Abraham.

"Papa salah Kay, papa salah," sesal Abraham sambil menangis memeluk anaknya.

"Enggak papa ngak salah, bener kata mama ini udah takdir," kata kay sambil menangis juga.

"Udah ah, kok jadi nangis-nangis gini, mama kan juga ikut sedih," kata Ranti sambil mengusap air matanya.

Abraham dan Kay pun merentangkan tangan mereka satu, memberi celah untuk Ranti. Ranti segera ikut memeluk satu sama lain.

"Papa sayang kalian berdua," ucap Abraham dan mencuim puncak kepala istri dan anaknya bergantian.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang