Setelah serangkaian acara sederhana tadi, kini kedua mempelai tengah berada didalam kamar Adam. Lebih tepatnya sekarang juga menjadi kamar Kay, tapi tidak lagi di bawah, sekarang kamar Adam dipindah ke atas. Kata Nyai Roro kamar yang di bawah lebih sempit, jadi tidak terlalu cukup untuk ditempati dua orang.
Adam baru selesai dengan ritual mandinya, ia telah mengenakan pakaian santai seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Sedangkan Kay masih dengan baju kebayanya duduk di sisi kasur sambil menatap Adam.
"Apa?" Tanya Adam mengangkat sebelah alisnya.
"Lo lama benget sih mandinya, badan gue udah gerah dari tadi," omel Kay kesal.
"Dari pada kamu ngomel mending cepat mandi, saya sudah selesai," sahut Adam.
"Gue juga udah mau mandi kali," sahut Kay ketus dan beranjak menuju kamar mandi.
"Awas ngintip!!" peringat Kay menyembulkan kepalanya di pintu dan menatap Adam tajam.
"Kamu pikir saya laki-laki macam apa," sahut Adam dingin.
"Siapa tau ya kan," ucap Kay memutar bola matanya malas dan langsung menutup pintu kamar mandi kasar.
Brakk
"Astagfirullah," lontar Adam kaget.
Setelah selesai dengan rambut nya Adam pun keluar kamar menuju dapur untuk minum.
"Eh Adam, Kay nya mana?" Tanya Ranti saat melihat Adam yang baru memasuki area dapur.
"Lagi mandi tante," jawab Adam sopan.
"Jangan manggil tante dong, panggil aja mamah kan udah jadi suaminya Kay, iya gak Nyai?" Tanya Ranti pada Nyai Roro yang tengah memotong sayuran.
"Iya Ran," sahut Nyai Roro masih fokus pada sayurannya.
"Iya mah," jawab adam sambil tersenyum ke arah mertuanya itu.
"Nah gitu kan enak," sahut Ranti dan melanjutkan aktifitas memasaknya bersama Nyai Roro.
Adam segera mengambil minum dan membawanya kemeja makan.
Baru meletakkan gelasnya dan ingin duduk, tiba-tiba Kay datang langsung meminum setengah minumannya dan menaruh kembali.
"Makasih," ucap Kay.
"Iya," sahut Adam dan minum air sisa Kay ditempat yang sama.
Sontak Kay membulatkan matanya menatap Adam tidak percaya.
"Kok lo minum ditempat bekas gue sih?" ucap Kay.
Adam hanya diam, tak menjawab atau merespon ucapan Kay sama sekali.
"Cepat sekali kamu mandi!" ucap Adam sambil memerhatikan Kay.
"Ngapain juga lama-lama," sahut Kay menyilangkay kedua tangannya didepan.
"Pasti mandi bebek," tebak Adam sambil memainkan alisnya.
"Enak aja! Biarpun cepet setidaknya gue tetep wangi! Cium aja nih kalau gak percaya!" Sargah Kay dengan memajukan sedikit badannya.
"Boleh!" Jawab Adam dan memajukan badannya.
"Tolong...!!" Teriak Kay dan berlari.
_♡_
"Mamah!" Seru Kay langsung memeluk sang ibu dari belakang.
Sontak Ranti pun terkejut.
"Astagfirullah, kamu ini ngagetin aja sih," ucap Ranti sambil memegangi dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Ficção AdolescenteMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
