48. Rumah Sakit

152 3 0
                                        

Adam terus menelusuri setiap lorong rumah sakit, dengan sedikit berlari ia berjalan menuju ruang IGD. Ketakutan menghantui isi pikirannya, bayang-bayang tentang Kay terus berputar di kepala. Adam takut tidak bisa melihat senyum itu lagi, senyum yang selalu menghiasi hari-harinya yang kosong, rengekan dan ocehan yang membuatnya kadang geleng-geleng kepala. Tapi hari ini sosok itu terbaring lemah tak berdaya.

"Kamu pasti kuat, mas yakin sayang!" Tangis Adam di depan pintu IGD.

Ceklek

Seorang dokter muda keluar dari IGD, Adam yang melihat itu seketika langsung menghampirinya.

"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tanya Adam cepat.

"Luka pasca melahirkan kemarin sedikit terbuka tapi sudah kami tangani, tapi... istri bapak mengalami kebutaan dan sekarang masih belum sadarkan diri," jelas Dokter itu.

Adam yang mendengar itu seketika terduduk lemas di lantai seraya menangis keras. Ia gagal lagi menjaga istrinya, kenapa ia seburuk itu.

Di sela tangis tiba-tiba sepasang tangan memegang pundaknya lalu membantu berdiri.

"Mas Yusuf...," lirih Adam langsung memeluk kakaknya.

"Sabar Dam! Mas yakin kamu kuat, kalau kamu bisa Kayra pasti bisa juga lewatin semuanya," Ucap Yusuf menguatkan Adam.

"Adam gimana keadaan Kay?" Tanya Ranti panik.

"Kay belum sadar ma dan... Kay mengalami kebutaan," jawab Adam tertunduk dalam.

Semua orang terkejut, saking syoknya Ranti sempat pingsan. Anak yang sudah ia anggap darah dagingnya sendiri kini mengalami hal yang mungkin dia sendiri tidak bisa terima.

"Papa bawa mama ke ruang istirahat dulu Dam," pamit Abraham dan membawa istrinya.

"Umi...," panggil Adam.

Nyai Roro yang paham langsung memeluk Adam erat dan menguatkannya.

"Jangan begini Dam, kamu pasti kuat," ucap Nyai Roro.

"Adam ini ada pihak kepolisian ingin bertemu kamu," ucap Kiai Jaya yang baru sampai dengan di ikuti beberapa polisi.

"Ada apa pak?" Tanya Adam setelah menyeka air matanya.

"Dari hasil yang kami dapat saudari Kayra Anatasya memang mengalami tabrak lari tapi sepertinya memang disengaja atau sudah direncanakan, untuk motif dan penabraknya kami masih belum bisa mengetahui, karna dari cctv di area kejadian itu terlihat tidak ada nomer plat mobilnya tapi kami akan terus menyelidiki," jelas polisi itu.

"Apakah saudari Kayra memiliki musuh atau semacamnya?" tanya polisi yang lain.

"Setau saya dia tidak memiliki musuh," jawab Adam.

"Kami sudah menyelidiki siapa saja yang terakhir kali saudari kayra hubungi, kemungkinan salah satu dari mereka pasti ada hubungannya dengan kecelakaan ini, kami juga akan mengintrogasi mereka satu-satu," jelas polisi yang pertama.

"Terima kasih atas bantuannya, kami selaku keluarga mengharapkan adanya titik terang dari kasus ini," sahut Kiai Jaya lalu menjabat tangan para polisi.

"Kalau begitu kami permisi, Assalamu'alaikum," ucapnya pamit.

"Iya Wa'alaikumsalam," jawab Semuanya.

Setelah kepergian polisi itu tak lama Kay di pindahkan ke ruang inap, dengan harapan akan segera bangun.

Hari sudah mulai malam, Adam masih setia duduk di samping Kay.

"Kamu yang kuat ya sayang!" Ucap Adam mencium tangan Kay.

Dengan hati-hati Adam mulai mengusap wajah Kay, sampai pada jemarinya menyentuh kain penutup mata Kay. Ia mengusap lembut di kain itu, menyalurkan rasa sayangnya pada sang istri.

"Umi! Hana sama siapa di rumah?" Tanya Adam menghampiri Nyai Roro dan yang lainnya di ruang tunggu kamar Kay.

"Sama Yusuf, tadi abis Kay dipindahin ke ruang inap dia langsung pamit pulang," jawab Nyai Roro.

"Umi Sama yang lain kalau mau pulang atau ada urusan, duluan aja gak apa-apa kalian pasti cape juga seharian disini," ucap Adam.

"Ya sudah Abi sama Umi pulang dulu, takutnya Hana rewel di rumah," jawab Nyai Roro pamit.

"Iya Umi," jawab Adam.

"Papa sama mama pulang dulu ya nak, setelah bersih-bersih ke sini lagi," pamit Abraham juga.

"Iya pa," jawab Adam.

Setelah semuanya pulang Adam kembali duduk di samping Kay, sesekali ia akan mencium atau bahkan sekedar mengusap kepalanya pelan.

Istrinya yang cantik itu terus tertidur, dan ia tidak bosan-bosan memandanginya. Menurutnya Kay itu wanita tercantik yang pernah ia lihat. Senyumnya yang manis, tawanya yang merdu selalu terbayang di benak Adam.

"Cepat sadar ya bidadarinya mas," lontar Adam berusaha mengukir senyum indahnya.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang