tak terasa waktu terus berjalan, hal yang tak pernah melintas sama sekali dipikirannya kini terjadi.
Dengan balutan kebaya putih serta hijab yang senada, dia duduk di pinggiran kasur ditemani oleh sang ibu. Ia harap ini cuma mimpi dan ingin segera bangun, tapi tidak bisa, karena ini nyata bukan mimpi atau semacamnya.
"Kay udah dong jangan nangis lagi nanti make up nya luntur, ini hari bahagia kamu loh," ucap sang mama sambil memeluk putri semata wayangnya.
"Ma hiks Kay belum siap hiks hiks sama sekali gak siap hiks hiks hiks," tutur Kay terisak pilu.
"Dan Kay belum siap pisah sama mama dan papa hiks hiks," sambung Kay.
"Kan kamu masih bisa ke rumah kalau kangen sama mama dan papa," jawab Ranti lembut sambil mengusap lembut pipi anaknya.
"MA..., CEPET BAWA KAY TURUN! KEBURU MACET INI DI JALAN! ADA TEMANNYA KAY JUGA!" teriak Abraham dari bawah.
"Yuk sayang!" ajak Ranti seraya berdiri sambil menggenggam tangan Kay.
Kay menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah masam.
"Percaya deh sama mama, semuanya bakal baik-baik aja," bujuk Ranti.
"Hm," jawab Kay seraya mengangguk pelan dengan senyum yang dipaksakan.
"KAY...!" Seru bella langsung memeluk Kay erat setelah menuruni tangga.
"OMG... cantik banget sih temen gue ini... cieee yang bentar lagi mau dihalalin," kata Bella setelah melepaskan pelukannya.
"Apasih lo," kata Kay dengan tersenyum paksa.
"Kay ayo kita jalan!" Seru sang papa.
"Kay perginya sama Bella ya pa?" Pinta Kay.
"Kay gak bakalan kabur kok, kalau papa gak percaya, papa bisa ngikutin kami dari belakang. Plis pa Kay mohon, ini permintaan terakhir Kay sebelum Kay pisah sama papa!" Mohon Kay.
"Ya udah, papa bakalan ngikutin kamu dari belakang," putus Abraham.
_♡_
Kini rombongan Kay sudah pergi menuju Pesantren, dengan mobil Bella yang berada dipaling depan disusul mobil sang papa dan rombongan keluarga lainnya.
"Bel," panggil Kay pelan.
"Hm," jawab Bella fokus pada jalan.
"Kak Reno juga di undang sama bokap gue?" Tanya Kay.
"Ya ampun gue lupa Kay!" Seru Bella heboh dan menatap Kay.
"Maksudnya?" Bingung Kay.
"Bokap lo yang nyuruh gue buat ngundang temen-temen, tapi gue lupa ngundang Kak Reno," sahut Bella kembali fokus pada jalanan.
"Kalau lo mau, lo bisa chat Kak Reno pake hp gue," kata Bella.
"Enggak deh, gue gak sepenting itu juga bagi Kak Reno," sahut Kay dengan nada lemah.
"Serah lo aja deh," sahut Bella yang paham betul dengan sahabatnya ini.
"Ya emang serah gue!" jawab Kay.
"Mulai deh, kenapa sih kalau kita ketemu bawaannya pengen berantem mulu, heran gue" kesal Bella.
"Iya gue juga bingung, padahal kalau jauhan kengen-kangenan," sahut Kay tekekeh pelan.
"Cieee berarti selama ini lo kangen dong sama gue?" tanya Bella sambil melirik Kay sebentar.
"KePDan," sahut Kay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
