"ELO?" teriak Kay kaget.
"Ngapain lo disini?" Tanya Kay ketus.
"Ini kan rumah saya, jadi ya terserah saya juga."
"Tapi kan bisa lo gak kesini!"
"Memang ada larangan undang-undang kalau tidak boleh kepekarangan belakang rumah?"
"Ya ga gitu juga! tapi setidaknya sekarang lo gak kesini dulu..!"
"Lo mau ngapain juga sore-sore gini kesini?"
"Loh! seharusnya saya yang tanya, kamu ngapain di atas situ?"
"Owh gue, em... itu eee gue em...," gagap Kay bingung hendak menjawab apa.
"Em apa?" selidik Adam.
"G-guee, gue mau metik buah mangga!" jawab Kay cepat.
"Buah mangga?"
"Iya buah mangga," jawab Kay meyakinkan.
"Tapi saya lihat pohon itu tidak berbuah," sahut Adam.
"Bodoh bodoh bodoh, kayak gak ada alasan lain aja lo Kay,"umpat Kay dalam hatinya.
"Saya tau, kamu pasti mau kaburkan?"selidik Adam.
"Ngak kok, siapa bilang!" Dalih Kay dan mengalihkan pandangannya.
"Jangan bohong! cepat turun!" titah Adam.
"Gak, gue gak mau turun!" tegas Kay agak keras.
"Turun atau kamu mau di situ sampai malam berteman sama__,"Adam menghentikan ucapannya, karena dia tau gadis itu pasti mengerti maksud ucapannya.
"Iya gue turun!" putus Kay kesal.
"Males banget gue kalau ketemu ni orang, pasti nanti dia ngadu ke bonyoknya," batin Kay kesal.
"Tapi ngeri jugakan kalau gue disini sampe malem, terus ada mba kunti!, ih... gak mau...," batin Kay lagi.
"Cepat turun!" Titah Adam.
"Sabar napa, lo kira gampang!" Kesal Kay dan mulai turun.
Tapi saat Kay menginjak anak tangga, tiba-tiba patah.
Aaaaaaaaaaa
Adam yang melihat itu sontak langsung memajukan badannya.
BUG
"ANJIR! Berasa remuk badan gue!" teriak Kay setelah badannya menghantam tanah.
"Lo gak ada inisiatifnya sama sekali ya! gak berpri kemanusiaan banget!" Cerca Kay marah sambil menatap tajam Adam.
"Setidaknya lo tadi tangkep gue! ini malah menghindar!" Kesal Kay masih terduduk di tanah.
"Mau saya bantu?" Tanya Adam dengan muka tak bersalah.
Ya memang tidak bersalah sih dia.
"Gak! Gak perlu!" sahut Kay lalu berdiri dan menepuk-nepuk bajunya.
"Kemaren ketabrak pohon mangga, sekarang jatuh dari pohon mangga, entah nih pohon yang pembawa petaka? atau lo yang pembawa sial!" Marah Kay mencurahkan isi pikirannya.
"Gue pergi, BAY!" Ucap Kay lalu melangkah pergi.
"Tunggu!" Pinta Adam tiba-tiba.
Kay yang merasa dipanggil pun menoleh.
"Kamu saya hukum hafalin surah Al-Kahfi, saya tunggu setorannya setelah selesai sholat Isya, di rumah saya!" putus Adam dan pergi dari situ.
"IHHHH! DASAR GUS KULKAS GAK BERPRI KEMANUSIAAN, GUE BENCI SAMA LO...!" maki Kay emosi lalu beranjak dengan kaki di hentak-hentakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
