Kayra Anatasyia, gadis bar-bar si pembuat onar, bahkan semua murid di SMA PPB (Putra Putri Bangsa) mengenalnya. Kay sebenarnya bisa dibilang gadis baik, hanya saja terkadang suka berulah, apa lagi jika merasa bosan. Baru 3 bulan yang lalu dia pindah ke sekolah ini, kalian pasti bisa menebak alasannya? Yap! Dia di keluarkan dari sekolah karna kenakalannya.
Dengan bersenandung kecil dan senyum yang terpatri sempurna, ia berjalan menuju sang ibu yang tercinta.
"Hallo mamaku sayang!" Sapa Kay dan mencium kedua sisi pipi wanita didepannya.
"Kay! ini terakhir kalinya kami datang ke sini, Mama cape sama kelakuan kamu!" Tutur Ranti, menjauhkan badan sang putri dari tubuhnya.
"Ini udah yang ke tiga kalinya kamu pindah sekolah! Bahkan sampai-sampai kita harus pindah rumah juga. Baru Tiga bulan loh kamu pindah kesini! Tapi kami hampir tiap minggu di panggil kepala sekolah!" marah Mama Kay menatap tajam anaknya.
"Ma! kan udah Kay bilang mereka yang duluan, gak bakal ada asap, kalau gak ada api!" Jawab Kay membela diri.
"Tapi gak sampai dipukulin juga anak orang Kay, Mama masukin kamu ke perguruan pencak silat, agar kamu bisa jaga diri, bukan malah buat anak orang babak belur!" tekan Mama Kay mulai jengah dengan anaknya.
"Iya deh iya, Kay janji gak ngulangin lagi," ucal Kay pasrah.
"Jangan iya iya aja!" sentak Mama Kay.
"Sudah Ma, gak malu apa diliatin orang," lerai Abraham Papanya Kay, menenangkan Ranti.
Pasalnya sekarang mereka masih berada di sekolah Kay, lebih tepatnya diparkiran, dan memang lumayan banyak murid disini karna jam istirahat.
"Iya tuh Pa! Mama malu-maluin nyerocos gak tau tempat," kata Kay merasa menang dari sang Mama.
"Dan kamu Kay!" tegas Papa kay dan menatap anaknya, sontak membuat dia langsung kicep.
"Papa sama Mama udah setuju buat pindahin kamu ke pesantren, dan Papah juga udah ngurus perpindahan kamu tadi sama kepala sekolah. Hari ini telakhir kamu sekolah," lanjut Papa kay menjelaskan.
"Ih kok ke pesantren sih Pa, jangan gitu dong!" Protes Kay.
"Gak ada bantahan, ini demi kebaikkan kamu juga. Sudah sana masuk kelas, papa sama mama mau pulang dulu!" setelah menyelesaikan ucapannya, Abraham dan Ranti masuk mobil.
"Pa! papa boleh pindahin aku kesekolah mana aja, yang penting gak ke pesantren pah! Kay mohon!" Bujuk Kay pada Papanya sambil memukul-mukul pintu mobil.
Bukannya menjawab Abraham malah menyalakan mesin mobil dan beranjak dari situ.
"PA! PAPA!" panggil Kay keras, berharap orang tuanya mau mendengarkan.
Namun nihil, melihat ke arah Kay saja tidak, apa lagi membalas ucapannya. Hati kay terasa sakit, dengan langkah gontai dia pergi menuju kelas.
_♡_
"Hai Kay," sapa laki-laki bernama Reno Pradipta sambil berjalan menyesuaikan langkah Kay.
"Eh, hai juga kak Reno," sapa Kai balik.
"Gue denger tadi orang tua lo dipanggil lagi ke ruang Kepsek?" tanya Reno menatap Kay.
Huhhhh
Kay menghembuskan nafas pelan, seperti memikul beban yang begitu berat.
"Iya kak," sahut Kay lesu tanpa menatap Reno.
"Lo kenapa, kok gitu wajahnya? Biasanya juga santai-santai aja," tutur Reno.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
