Dengan kecepatan tinggi Adam mengendarai mobilnya, ia sesekali mendahului pengendara yang lain. Wajah Adam terlihat kemerahan, ia sedang di puncak emosi.
"Astagfirullah," ucap Adam pelan namun masih mengendarai mobilnya ugal-ugalan.
Tak lama ia sampai di bangunan bergaya klasik itu. Namun, saat ia akan masuk tiba-tiba dua orang menghalangi langkahnya.
"Anda siapa?" Tanya salah satu dari mereka.
"Saya suaminya Kayra, rekan bos kalian," jawab Adam.
"Apa sudah membuat janji?"
"Dia yang meminta saya ke sini," jawab Adam dan memperlihatkan pesan teks itu.
"Baik," jawab mereka lalu membukakan pintu.
Adam masuk dengan langkah pelan sambil melihat-lihat bangunan itu. Rapi dan tersusun sempurna, warna yang tidak terlalu mencolok dan dekorasi yang tidak berlebihan.
"Lewat sini," ucap Laki-laki yang menemaninya masuk.
Adam terus berjalan membuntuti sampai pada ruangan yang di tuju.
Laki-laki itu mengetuk pintu pelan.
"Langsung masuk!" Jawabnya dari dalam.
Adam masuk sendirian, ia berjalan mendekati laki-laki yang duduk membelakanginya.
"Duduk aja Kay gak usah sungkan," ucap Reno sambil membalikkan badannya.
Reno terkejut, bukannya Kay yang datang ia malah melihat Adam.
"Mana Kay?" Tanya Reno nyolot.
"Ada apa kamu sama istri saya? Apa kamu ada hubungannya sama kecelakaan Kay? Dan mau apa kamu mengajak istri saya bertemu?" Cecar Adam dengan beberapa pertanyaan.
"Santai bro! Silahkan duduk dulu!" Jawab Reno.
"Saya perlu kejelasan bukan basa basimu!" Lontar Adam.
"Tunggu! Kamu kan laki-laki yang sempat beberapa kali ke pesantren?" Sambung Adam setelah mengingatnya.
"Yap! Gue kira lo gak ingat!" Sahut Reno lalu tertawa.
"Jelaskan pada saya apa kamu dalang dari kecelakaan istri saya?" Sarkas Adam marah.
"Kecelakaan?" Ucap Reno balik bertanya.
"Kamu jangan sok tidak tahu!" Bentak Adam menggebrak meja.
"Gue emang gak tau!" Jawab Reno marah.
Adam langsung melayangkan bogeman di pipi Reno, Reno yang belum siap pun hanya bisa memegang wajahnya.
"Jawab! Kamu kan dalangnya?" Bentak Adam emosi tidak terkendali.
Beberapa orang masuk dan langsung mengunci pergerakan Adam. Reno mendekat dengan songong.
"Gue gak tau apa-apa, bahkan gue baru tau dari lo," ucap Reno mendorong bahu Adam pelan.
"Hajar!" Perintah Reno lalu kembali duduk di kursinya.
Adam dihajar habis-habisan, walaupun ia masih bisa melawan tapi tetap saja terkena pukulan. Adam terlihat sangat kualahan, ia berusaha tetap bertahan meski wajahnya sudah penuh dengan lebam.
Merasa puas, Reno menyuruh anak buahnya berhenti dan keluar ruangan.
Setelah mereka pergi Adam duduk terkulai lemas di lantai.
"Lo bukan tandingan gue, sekarang pergi!" Titah Reno sambil menggebrak mejanya.
Adam berdiri menghampiri Reno, dengan penuh emosi ia langsung memberi satu pukulan keras di pipi Reno.
"Jangan ganggu atau usik keluarga kami," tutur Adam lalu pergi.
Sepeninggal Adam, Reno terlihat prustasi, ia memukul meja berulang kali dan menjatuhkan semua berkas yang ada.
"Sial, dia udah bergerak di luar perintah," monolog Reno duduk dengan kasar.
Reno menyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya. Hembusan demi hembusan asap terbang mengisi ruangan, itu adalah cara terbaik dia untuk menenangkan pikiran.
"Sial," ucap Reno pelan lalu memejamkan matanya.
Di sisi lain Adam telah sampai rumah sakit, ia masuk dengan langkah pelan. Dokter Laura yang melihat itu seketika terkejut melihat keadaan Adam sekarang. Dokter Laura ingin menanyakan hal itu tapi dihentikan oleh Adam dengan memberi kode diam. Adam duduk disamping Kay pelan dengan hati yang berkecamuk.
"Mas..," panggil Kay.
"Iya sayang kenapa?" Tanya Adam.
"Coba sini deketin muka mas!" Pinta Kay tersenyum.
Adam mendekatkan wajahnya dan menaruh tangan Kay di pipi.
Shtttt
Ringis Adam saat tangan Kay mengenai luka di wajahnya.
"Mas kenapa?" Tanya Kay kebingungan.
"Ketusuk kuku aku ya?" Tanya Kay lagi.
"Enggak! Mas gak apa-apa," jawab Adam.
"Kay Kakak pulang ya!" Izin Dokter Laura dengan canggung.
"Iya kak, makasih udah mau jengukin aku di sini," jawab Kay.
Dokter Laura pergi tanpa sepatah kata pun pada Adam.
"Mas aku mau makan!" Pinta Kay memegang tangan Adam.
"Oke sini mas suapin," jawab Adam lalu mengambil semangkuk bubur di nakas.
Dengan telaten Adam menyuapi Kay.walau banyak pertanyaan yang mengisi kepalanya tapi ia tak berniat sedikitpun untuk mempertanyakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Ficção AdolescenteMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
