19.Lo!

899 30 0
                                        

"Assalamu'alaikum," salam seorang gadis.

"Wa'alaikumsal.....lam," jawab Kay dengan nada berbeda diakhir, saat melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.

"Ngapain lo kesini?" Sambung Kay judes, dengan melipat kedua tangannya didepan dada.

"Heh seharusnya gue yang tanya sama Lo," kata Gadis itu maju satu langkah.

"Lo ngapain disini?" Sambung gadis itu dengan penuh penekanan sambil mendorong bahu Kay dengan ujung jari telunjuknya.

"Tamu gak sadar diri," monolog Kay sambil memutar bola matanya malas.

"Lo tuh yang gak sadar diri," jawab gadis itu dengan suara naik beberapa oktaf.

"Eh tunggu-tunggu!" Kata Kay dan melihat Gadis didepannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Eh tunggu-tunggu!" Kata Kay dan melihat Gadis didepannya dari ujung kaki sampai ujung kepala

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Tobat sekarang lo Pit?" Sambung Kay setelah memperhatikan pakaian gadis itu.

"Terserah gue lah," jawab Gadis itu dengan muka songong.

"Udah lama ya Pit gak ketemu, makin jelek aja," hina Kay.

"Pit pit pit, mentang mentang situ lebih tinggi seenaknya ganti nama orang," kata gadis yang dipanggil Pit itu.

"Kan Nama lo Fitri jadi akan lebih enak kalau dipanggil pipit, cocok juga sama badan lo yang cebol itu hahaha," kata Kay lalu tertawa mengejek Fitri.

"Gak berubah, dari SMP sampe sekarang tetep aja ngeselin," kata Fitri dengan wajah tak suka.

"Udah hus hus sana, gue gak terima tamu," kata Kay mengusir Fitri.

"Siapa juga yang mau bertamu sama lo, gue kesini mau ketemu Gus Adam, calon suami gue" jawab Fitri.

"Calon suami hahahaha," tawa Kay seketika langsung pecah.

"Kenapa? iri?" tanya Fitri sombong.

"Ngapain juga iri sama lo yang cuma calon istrinya doang," jawab Kay.

"Btw ngapain lo mau ketemu sama dia?" Tanya Kay kepo.

"Terserah gue dong, ini tuh bukan urusan lo," jawab Fitri.

"Jelas urusan gu____," ucapan Kay terpotong karna ada yang mengucap salam.

"Assalamu'alaikum," salam Laki-laki bergamis dan peci putih serta sajadah ditangannya.

"Assalamu'alaikum," salam Laki-laki bergamis dan peci putih serta sajadah ditangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Wa'alaikimsalam," jawab Kai dan Fitri

"Gus," sapa Fitri sopan dan menundukkan kepalanya.

"Eh sayang udah pulang dari mesjidnya?" Kata Kay dan langsung menyalimi Adam.

Adam pun hanya diam dan mengikuti alur.

Adam berdiri disebelah Kay, Kay sontak langsung menaruh tangan kirinya di pinggang Adam.

Adam hanya terdiam kaku sambil menatap wajah istrinya.

Kay yang merasa ditatap sontang menoleh dan menatap Adam balik.

Kay pun tersenyum manis dan kembali menatap Fitri yang ada didepannya, yang menatapnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.

"Eh lupa kalau ada TAMU, ayo masuk Pit. Katanya ada yang mau di omongin sama SUAMI GUE," ucap Kay dengan menekan beberapa kata di dalamnya.

Mendengar itu Fitri langsung menatap Kay penuh emosi.

"Urusan kita gak akan pernah selesai," ujar Fitri dan langsung pergi tanpa pamit.

Sepeninggalan Fitri sontak Kay langsung tertawa. Melihat itu Adam pun tersenyum karna menurutnya Kay sangat cantik jika tertawa lepas seperti itu.

"Eh Sory," kata Kay setelah berhenti tertawa saat sadar tangannya masih dipinggang Adam, dan langsung menurunkannya.

"Gue duluan, Bayyy," kata Kay dan memaju mundurkan jari-jari tangan sebelah kirinya bergantian. lalu pergi meninggalkan Adam yang masih diam didepan pintu masih setia menatap punggung istrinya yang mulai menjauh.

"Adam," panggil seseorang dengan menepuk pundak Adam pelan.

"Eh Umi," kata Adam saat melihat sang pelaku.

"Ngapain?, kok gak masuk?" Tanya Nyai Roro.

"Tidak ada apa-apa Umi, ya sudah ayo kita masuk," kata Adam dam mempersilahkan Nyai Roro lebih dulu.

_____🖋

"Kamu gak sekolah hari ini?" Tanya Nyai Roro saat merapikan meja makan bersama Kay.

"Astagfirullah Umi, Kay lupa," jawab Kay seraya menepuk jidatnya.

"Ya udah kamu ke kamar terus ganti baju sama sekalian panggilin Adam biar kita sarapan sama-sama baru kalian berangkat," ujar Nyai Roro.

"Siap Umi," jawab Kay dan meninggalkan meja makan menuju kamarnya.

Ceklek

Suara Kay membuka pintu, terlihat Adam tengah membolak balik kertas tapi entah kertas apa itu.

Kay pun masuk dan langsung membuka lemari bajunya.

"Kata Umi makan," ujar Kay tanpa menatap Adam.

"Iya," jawab Adam dan menaruh semua lembaran kertas itu di meja belajar.

Saat hendak melangkah tiba-tiba Kay berkata.

"Seragam gue yang mana hari ini?" Tanya Kay.

"Yang ini atau ini?" Tanya Kay lagi dan menunjuk dua Gamis wanita dengan model yang sama namun warna yang berbeda.

"Senin sampai Rabu warna putih dan sisanya pink," jawab Adam, dan akan melangkah lagi.

Baru satu langkah dan Kay menghentikan langkahnya lagi.

"Boleh tolong lo ambilkan bajunya?" Tanya Kay membelakangi Adam, karna jujur dia sangat malu saat ini.

"Jangan salah faham, gu.. gue gak bisa bedain warnanya, lebih tepatnya buta warna," kata Kay lirih diakhir kalimatnya.

Ya, Kay memang buta warna karna ia tidak bisa melihat dengan normal, penglihatannya hanya hitam putih sejak kecelakaan yang ia alami beberapa tahun yang lalu.

Adam yang mendengar itu sontak langsung menatap punggung Kay iba.

Adam pun mengambilkan gamisnya serta kerudung yang harus Kay gunakan kesekolah hari ini.

"Makasih, maaf udah ngerepotin lo," kata Kay sambil menunduk.

"Iya tidak apa-apa," jawab Adam dan mengelus kepala Kay yang tertutup oleh hijab.

"Cepat ganti baju, saya tunggu kamu dibawah," ujar Adam dan meninggalkan Kay.

Kay pun tersenyum masam menatap kepergian Adam.

"Sampai seterusnya gue bakal nyusahin lo Dam, tapi gara-gara kesalahan gue pernikahan ini terjadi. Seharusnya lo bilang sama orang tua lo kalau ini salah faham dan ini salah gue, tapi kenapa lo diam aja dan nerima semua ini. Maafin gue, gue gak tau bakal kayak gini," batin Kay lirih.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang