49. Sadar

173 2 0
                                        

Suara azan subuh berkumandang tapi tidak membuat bangun pria satu anak itu. Ia tertidur dengan posisi duduk dan kepala bertumpu pada tangan. Deru nafas yang teratur terasa hangat, mata dengan bulu mata lentik itu masih terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dengan bibir yang terlihat merah muda.

"Mas bangun udah subuh!" Ucap Kay sambil meraba ke samping.

"Iya...," jawab Adam lirih sambil membuka mata.

"Eh," kaget Adam baru sadar sesuatu.

"Kapan kamu sadar? Astagfirullah kenapa gak bangunin mas?" Tanya Adam.

"Gak lama sebelum azan," jawab Kay lemah sambil tersenyum.

"Aku buta ya mas?"

Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, yang pasti hati Adam kembali sesak di buatnya.

"Maafin mas gak jaga kamu," tangis Adam seketika.

"Mas gak salah, mungkin ini sudah saatnya," jawab Kay tersenyum getir.

"Bagai manapun keadaan kamu, mas janji tidak akan ninggalin kamu," janji Adam dan membawa satu tangan Kay ke pipinya.

"Makasih mas," jawab Kay haru.

"Mas sholat dulu," izin Adam.

"Iya mas, jangan lupa doain Kay ya," pinta Kay masih tersenyum.

"Pasti sayang!" Jawab Adam mencium dahi Kay lalu pergi.

"Kenapa ini begitu cepat terjadi, aku masih ingin melihat dunia meski abu-abu saja," monolig Kay menangis.

Ia menyentuh kain perban di matanya, meremasnya pelan dan kembali menangis.

"Aku gak siap, aku takut," lirih Kay.

"Aku harus hubungi dokter Laura," ucap Kay.

Dengan cepat ia meraba-raba sekitarnya tapi tidak menemukan ponsel. Ia terus meraba sampai tak sengaja menjatuhkan gelas minum. Kay mulai kesal, ia marah dengan kondisinya sekarang. Kay mulai emosi lalu menyentak semua benda yang dapat ia raih. Seketika keadaan kamar itu berantakan dengan barang-barang berjatuhan di lantai.

"AKU GAK MAU GINI!" amuk Kay histeris.

Adam yang baru saja datang langsung memeluk Kay, menyalurkan kehangatan untuk membatu Kay tenang, memberi tahu kalau dia tidak akan pernah meninggalkannya.

"Sayang mas disini...," ucap Adam Lembut sambil mengusap-usap kepala Kay.

"Aku takut mas... aku bingung gimana menjalaninya," tangis Kay.

"Kenapa harus takut? Ada mas disini, mas bakal jadi matanya Kayra," ucap Adam meyakinkan.

Kay tersenyum, walau hatinya tetap belum menerima tapi ia akan berusaha kuat demi keluarga kecilnya.

"Mas...," panggil Kay sedikit menarik baju Adam.

"Iya kenapa? Kamu mau apa?" Tanya Adam melonggarkan pelukannya.

"Boleh ambilin ponsel aku?" Ucap Kay

"Bentar ya mas carikan," jawab Adam lalu mengambilkannya.

"Ini," ucap Adam menyerahkan ponsel itu ke atas tangan Kay.

"Mas tolong telpon dokter Laura," ucap Kay menyodorkan ponsel itu kembali ketangan Adam sebelum ia melepasnya.

"Ini," ucap Adam setelah melakukan panggilan kepada dokter Laura.

"Assalamu'alaikum," salam Kay terdengar lemah.

"Wa'alaikumsalam Kay," jawab dokter Laura lembut.

"Bagaimana kondisi kamu sekarang? Apa ada masalah?"

"Alhamdulillah aku baik, sekarang sudah mendingan," jawab Kay sendu.

"Apa donor mata sudah di siapkan?" Tanya Kay pelan.

"Maaf Kay kakak belum bisa nemuin donor mata yang cocok buat kamu."

"Kak...," panggil Kay menangis.

"Hey! Kenapa menangis? Kakak selalu disini."

Kay tak menjawab, ia terus menangis terisak. Walau pun mereka sebatas hubungan pasien dan dokter, tapi mereka sudah menganggap saudara satu sama lain.

"Kakak kesana ya!"

"Aku tunggu!" Jawab Kay lalu memberikan ponsel itu pada Adam.

Saat ponsel itu telah di tangan Adam, satu notifikasi muncul menampilkan pesan masuk.
Adam meremas ponsel itu kasar, ia benar-benar emosi.

"Mas...," panggil Kay.

"Eh em... kenapa sayang?" tanya Adam.

"Mas kenapa? Kok diem?" Ucap Kay balik bertanya.

"Enggak, mas gak kenapa-kenapa," jawab Adam tersenyum

"Mas peluk!" Pinta Kay manja.

Adam lantas segera memasukkan ponsel itu ke saku celananya, ia pun memeluk Kay.

"Tumben minta peluk," ucap Adam.

"Supaya bisa mastiin kalau mas selalu didekat Kay," jawab Kay mengeratkan pelukannya.

"Gak kamu pastikan pun mas bakal selalu ada," jawab Adam.

"Permisi!" Ucap dokter Laura yang baru datang.

"Masuk aja Kak!" Sahut Kay antusias.

"Maaf ya kak ganggu," ucap Dokter Laura tertawa pelan.

"Enggak kok," jawab Kay.

"Sini kakak peluk dulu!" Ucap Dokter Laura lalu mendekat ke samping Kay.

"Kay jadi ingat dulu," ucap Kay setelah menerima pelukan dari dokter Laura.

"Coba Papa masih ada, mungkin sekarang Papa juga meluk kamu Kay," ucap Dokter Laura sedih.

"Kay! Mas tinggal sebentar ya kamu sama Dokter Laura!" Izin Adam.

"Sekalian mas panggilin OB buat bersihin kamarnya," sambung Adam.

"Iya mas," jawab Kay.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang