Kini perut Kay sudah terlihat besar, kira-kira sekitar 8 bulanan. Kay yang dulu aktif sekarang mudah lelah. Hari-hari yang biasanya disibukkan dengan sekolah dan kegiatan lainnya kini mulai dibatasi. Semua terasa begitu cepat, sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.
Duduk di teras sambil mengelus perutnya sayang, kay sesekali tertawa melihat Bella dan Zea bertengkar di depan teras sana.
"Bellaa Zea! Udah... ngapain jadi berantem sih," lerai Kay yang mulai lelah dengan dua temannya itu.
"Dia duluan Kay! Gue harus kasih pelajaran!" Jawab Zea dan ingin menjambak Bella.
"Gue gak sengaja!" Ucap Bella sambil terus menghindari serangan Zea.
Mereka tidak berhenti terus bertengkar padahal cuma karna Bella yang tidak sengaja menarik kerudung Zea sampai terlepas sehingga ditertawakan oleh beberapa santri yang kebetulan lewat.
"Gue malu tau..!" Lontar Zea masih berusaha menjambak Bella.
"Gue min_"
TIN TIN TIN
Sontak suara kelakson itu langsung menghentikan keduanya.
"Siapa?" tanya Bella pada Zea.
"Mana gue tau!" Sahut Zea masih kesal.
Seseorang langsung keluar dari mobil dan tanpa aba-aba mendorong Kay dari kursi, alhasil Kay seketika langsung terbaring di lantai.
"KAY!" teriak Bella dan Zea.
Mereka langsung menghampiri Kay.
"Astaga! Lo gak apa-apa Kay?" Panik Zea.
" Kay di mana yang sakit?" Panik Bella juga.
"Pe-perut sama kepalaku sakit Bella! Zea!" Ucap Kay sambil merintih.
"LO APA-APAAN SIH!" Murka Zea dan mendorong Fitri.
"LO YANG APA-APAAN DORONG-DORONG GUE?" sahut Fitri.
"LO DULUAN DORONG KAY! YA GUE BELA DIA!" marah zea.
"ITU URUSAN GUE, LO GAK USAH IKUT CAMPUR! DIA EMANG PANTAS DIGITUIN!" sahut Fitri.
Fitri mendorong balik Zea dan mendekati Kay.
"Lo kan yang kirim surat itu ke bokap gue? JAWAB ANJ*NG!" tanya Fitri dengan memegang dagu Kay.
"Tangannya gak usah gitu juga!" Ucap Bella dan menepis tangan Firti dari dagu Kay.
"Su-surat apa? Aku gak tau apa-apa!" Elak Kay yang tak mengerti maksud Fitri.
"JANGAN SOK BODOH LO!" marah Fitri berteriak pada Kay.
"FITRI KAMU APA-APAAN BEGITU KE ISTRI SAYA!" amuk Adam yang baru saja datang.
Adam segera menghampiri Kay dan memangku kepalanya.
"Ma-mas sa-sakit!" Ucap Kay dan pingsan.
"Kalian siap kan mobil!" Pinta Adam panik.
"DAN KAMU! LIAT APA YANG BAKAL SAYA LAKUKAN!" murka Adam menunjuk ke arah Fitri.
"A-aku gak sengaja," ucap Fitri lirih.
Fitri ingin memegang tangan Adam, tapi di tepis.
"JAGA BATASAN KAMU!" sarkas Adam.
"Dam mobilnya udah siap," ucap Bella.
Dengan tergesa-gesa Adam segera mengangkat Kay menuju mobil.
Dengan perasaan takut dan khawatir Adam terus mengucapkan doa-doa sambil memangku Kay, Bella yang melihat itu dari kaca mobil merasa sedih.
"Kamu udah temuin tempat yang pas Kay," batin Bella.
"Jangan ngelamun woy!" Ucap Zea yang duduk di sebelah kursi pengemudi.
"Bella kamu bisa lebih cepat?" Ucap Adam.
"Siap!" Jawab Bella dan segera melajukan mobilnya sekencang mungkin.
Sesampainya di rumah sakit Kay langsung ditangani oleh dokter. Semua keluarga sudah di hubungi dan diminta untuk segera datang ke rumah sakit. Nyai dan Kiai yang sedang di acara sahabatnya kini telah berada di samping Adam, sedangkan orang tua Kay masih dalam perjalanan.
Dokter keluar dari IGD dan segera menghampiri Adam.
"Kita harus segera melakukan oprasi sesar karna benturannya terlalu keras, apa bapak dan keluarga setuju?" ucap dokter itu.
"Apa pun itu dok yang terpenting istri sama anak saya selamat!" Sahut Adam cepat.
"Baik kami akan segera memindahkan pasien keruang oprasi," ucap Dokter dan masuk kembali.
"Nak yang kuat ya!" Ucap Nyai Roro sambil memeluk anaknya.
Adam yang hampir tidak pernah terlihat mengangis kini meneteskan air mata, ia takut, tapi ia yakin tuhan pasti selalu bersama ia dan istrinya.
Kay di bawa keluar dari IGD Adam memegang tangan Kay lalu menciumnya cepat sebelum Kay di bawa ke ruangan oprasi.
"Mas yakin kamu pasti kuat!" batin Adam menapat Kay yang mulai menjauh.
Semua menunggu Kay di depan pintu ruang oprasi, mereka selalu berdoa dan berharap keselamatan. Tak lama orang tua Kay datang dengan tergesa-gesa. Bella menceritakan kejadiannya dengan teliti. Ranti menangis meraung mendengar cerita itu. Sampai pada akhirnya satu tangisan bayi membuat mereka tegang.
"Alhamdulillah," lega semuanya, tapi tidak dengan Adam yang memikirkan istrinya.
Dokter keluar dari ruang oprasi setelah sekitar 40 menitan, ia memberi tahu kabar gembira sekaligus duka.
Mereka menangis karna kehilangan satu nyawa yang bahkan belum sempat di peluk dengan cinta di akhir hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
