44. Menjalankan Rencana

133 1 0
                                        

      Tidak terasa kini Hana memasuki usia 1 bulan. Hari-hari mereka semakin berwarna, meski kadang sedih jika mengingat anak satunya.

Dengan kasih sayang Kay menggendong anaknya di teras, merasakan sejuknya pagi ini.

"Cantik banget sih anak bunda," ucap Kay gemas dengan Hana.

Hana hanya menggeliat sebentar dan kembali tertidur.

"Kita liat Fitri siapa yang bakal hancur," batin Kay dan tersenyum jahat.

Dengan langkah pelan Kay kembali masuk ke Ndalem. Ia mencari keberadaan Nyai Roro karna ingin menitipkan Hana sebentar.

"Umi, Kay boleh titip Hana dulu gak? Kay ada urusan sebentar di luar," ucap Kay yang menemui Nyai Roro di ruang keluarga.

"Boleh... tapi kamu mau kemana Kay?" Tanya Nyai Roro dan mengambil Hana dari gendongan Kay.

"Ada masalah yang perlu Kay beresin Umi," jawab Kay.

"Kamu baru lahiran Kay! Apa sebaiknya nanti saja!" Usul Nyai Roro yang khawatir.

"Insyaallah aman kok Umi," jawab Kay.

Nyai Roro hanya bisa tersenyum dan berdoa semoga menantunya selalu dilindungi.

"Ya sudah Kay pergi dulu Umi, Assalamu'alaikum," pamit kay dan melangkah pergi.

      Setelah beberapa puluh menit Kay telah sampai di bangunan sederhana bergaya klasik.

"Pagi Mba!" Sapa satu orang yang membukakan Kay pintu.

Kay hanya mengangguk dan masuk, pintu pun di tutup kembali.

Tanpa basa-basi Kay langsung duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu dan mengutarakan niatnya.

"Mana bukti yang lo punya?" Tanya Kay pada laki-laki berhoodie hitam.

"Santai...," jawabnya sambil menyalakan rokok.

"Gue gak ada waktu ngeladeni basa-basi lo," ucap Kay jengah.

"Apa ke untungan yang gue dapat?" Tanyanya.

"Lo mau apa? Uang? Sebut aja!" Ucap Kay.

"Uang gue banyak," jawabnya songong lalu melempar rokoknya ke lantai dan menginjaknya.

"Kalau gue mau lo... gimana?" Tanya Laki-laki itu dan berjalan mendekati Kay.

"Lo gila atau oon sih?" Marah Kay.

Entah di mana orang itu menaruh otaknya, dia tau Kay sudah bersuami dan memiliki anak tapi tetap mau di embat.

"Iya gue gila! Gila karna lo!" Ucapnya dan memegang dagu Kay.

"Lepasin tangan lo!" Sarkas Kay dan menghempaskan tangan itu dari dagunya.

"Gue punya syarat!" Angkuh laki-laki itu dan kembali duduk di kursinya.

"Jangan banyak bacot! Gue muak lama-lama sama lo!" Lontar Kay sudah mulai kehabisan kesabaran.

"Gue kasih bukti tapi lo harus jadi milik gue Gimana?" Ucapnya dengan enteng.

"Emang gila ya lo!" Hardik Kay benar-benar muak.

"Ya udah gini aja! Sebagai timbal baliknya lo harus mau setiap kali gue ajak ketemu gimana?" Ucapnya mengusulkan lagi.

"Ya udah mana buktinya!" Titah Kay.

"Senang berbisnis dengan anda," ucap laki-laki itu lalu pergi meninggalkan Kay dengan Berkas di atas meja.

Kay menghela napasnya pelan, iya tau ini jalan yang salah, tapi ia ingin hidupnya bebas dari gangguan.

Kay segera pergi dari tempat itu, ia berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi.

Kini Kay telah berpindah tempat, ia duduk berhadapan dengan seoarang wanita cantik di sebuah Kafe.

"Gue cuma perlu lo buat nganterin berkas ini ke alamat yang sudah ditulis dan harus sampai di tangannya langsung," ucap Kay menaruh berkas itu di meja.

"Oke, laksanakan," jawabnya tersenyum senang.

"Senang kerja sama sama lo," ucap Kay dan mengulurkan tangannya.

"Gue lebih senang, karna akhirnya dendam gue terbalaskan," jawabnya dan menerima uluran tangan Kay.

"Gue duluan," pamit Kay dan ingin segera beranjak.

"Mau gue antar?" Tawarnya.

"Gak perlu repot-repot, gue udah mesen taksi," jawab Kay dan pergi.

_♡_

      Dengan langkah mantap Lean, wanita yang duduk bersama Kay di kafe, kini berjalan memasuki rumah besar.

"Duduk dulu Non, Saya panggilkan Tuan sebentar," Ucap ART.

"Iya," jawab Lean dan duduk di salah satu sofa.

Tak lama suara langkah kaki mulai mendekat dan muncullah Abi Sholeh.

Lean berdiri sebagai tanda menghormati tuan rumah.

"Duduk saja," ucap Abi Sholeh mempersilahkan.

"Saya Lean, saya hanya ingin memberikan berkas ini," ucap Lean dan menyerahkannya.

"Berkah apa?" Bingung Abi sholeh.

"Anda silahkan baca langsung saja!" Jawab Lean.

Dengan pelan Abi Sholeh mulai membuka berkas itu, dibacanya kata demi kata sampai habis. Betapa terkejutnya ia jika itu adalah berkas yang berhubungan dengan anaknya, Fitri. Dengan perasaan campur aduk Abi Sholeh syok sambil memegangi dadanya.

"Mungkin sebentar lagi anak anda akan masuk penjara," ucap Lean puas.

"Saya mohon jangan laporkan anak saya!" Ucap Abi Sholeh sambil menyatukan tangannya didepan dada.

"Lalu apakah anda bisa menghidupkan adik saya jika memaafkannya?" Bentak Lean dengan mata berkaca-kaca.

"Ada apa ini Abi?" Tanya Fitri yang baru datang dari luar.

"Jawab dengan jujur Fitri apa saja kejahatan yang kamu lakukan!" Bentak Abi Sholeh langsung berdiri dan mendekati Fitri.

Fitri yang bingung pun menoleh ke arah Lean.

"Kak Lean? Ke-kenapa kakak bisa ada disini?" Kaget Fitri dan mulai ketakutan.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang