Suasana seketika tegang, hal yang tidak pernah Fitri bayangkan kini benar-benar terjadi. Rahasia yang harusnya sudah terkubur rapat bersama kematian lion sang kekasih kini terungkit kembali.
"Lo tanya gue kenapa bisa ada disini?" Ucap Lean tegas penuh emosi.
"Bu-bukan gitu kak, maksud aku kakak ada perlu apa kesini?" Sahut Fitri gugup.
"Jelas Gue ke sini mau nuntut kematian lion adek gue yang lo bunuh, lo gak mungkin lupa kan?" Ucap Lean.
"Kakak jangan nuduh aku sembarangan!" Elak Fitri marah.
"Gue kesini bawa bukti! Gue jamin sebentar lagi lo bakal masuk penjara!" Sarkas Lean mengambil berkas itu lalu melemparnya ke Fitri.
Dengan panik Fitri memungut kertas-kertas yang berhamburan di lantai. Ia membaca satu kertas yang terlihat lebih mencolok, di situ terdapat foto Lion.
"Lo baru bocah SMP aja udah bisa bunuh orang, apa lagi sekarang," ucap Lean.
"Tapi denger-denger udah bunuh anak mantan tunangan lo juga ya kan?" Sindir Lean dengan senyum puas.
"Yakin gue lo punya bakat pembunuh!" Sambung Lean dan tertawa.
"Gak! Gue bukan pembunuh! Itu gak sengaja...hiks hiks hiks," sanggah Fitri menangis.
"Abi benar-benar kecewa sama kamu Fitri," lirih Abi Sholeh.
"Kenapa kamu bisa jadi kriminal begini!" Ucap Abi Sholeh benar-benar kecewa.
"Loh Abi! Abi kenapa menangis?" Panik Umi Ayu yang baru datang.
Abi Sholeh tak menjawab, ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.
Umi Ayu menatap Fitri yang terduduk di lantai, lalu menatap Lean.
"Fitri ada apa ini!" Bentak Umi Ayu.
"Gak usah di tanya, baca aja noh kertas yang dipegangnya," Sahut Lean santai.
Dengan cepat Umi Ayu merampas kertas-kertas itu, Fitri yang ingin mencegahnya tapi tidak bisa. Ekspresi Umi Ayu seketika berubah setelah membacanya.
PLAK
"DASAR MANUSIA TAK BERHATI!" maki Umi Ayu setelah menampar Fitri keras.
"U-umi Fitri bisa jelasin!" Ucap Fitri dan meraih kaki Umi Ayu.
"JELASIN APA? JELASIN KALAU KAMU SUDAH BANYAK MEMBUNUH ORANG?" Teriak Umi Ayu murka.
"Maafin Fitri Umi! Maafin Fitri!" Mohon Fitri dan bersujud di kaki ibunya.
Tok tok tok
"Permisi!" Ucap salah satu anggota polisi.
Semua langsung menatap kedatangn polisi-polisi itu, lean tersenyum puas, sedangkan Fitri bergetar ketakutan.
"Kami dari kepolisian ingin menangkap saudari Fitri Kusuma atas dasar kasus pembunuhan saudara Lion, aborsi elegal, penculikan saudari Kayra Anatasya dan kematian anaknya," jelas polisi itu.
"Dan ini surat penangkapannya," sambungnya lalu memberikan amplop coklat itu pada Umi Ayu.
"Saudari Fitri diminta untuk segera ikut kami ke kantor polisi!" Ucap polisi itu dan segera menyuruh anggotanya untuk membawa Fitri.
Salah satu Polwan itu langsung sigap memasangkan borgol di tangan Fitri lalu membantunya berdiri.
"Abi! Umi! Fitri gak mau masuk penjara!" Mohon Fitri meminta balas kasihan.
"Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu, siap berbuat siap bertanggung jawab!" Ucap Abi Sholeh tegas.
"Gak! Fitri gak mau...!" Berontak Fitri.
"Jangan banyak drama! Seret dia sekarang!" Titah Lean kesal.
"Saudari Fitri ayo ikut kami!" Ucap Bapak polisi.
Fitri hanya pasrah dan melangkah mengikuti arahan. Ia pergi dibawa dengan mobil polisi. Abi Sholeh dan Umi Ayu hanya bisa menangis menyaksikannya, sedangkan Lean tersenyum puas dan segera beranjak.
"Sudah beres," ucap Lean pada sambungan telpon.
_♡_
Kay yang baru selesai menerima telpon pun kaget karna tepukan di bahunya.
"Eh, kenapa Umi?" Tanya Kay setelah sadar jika yang memegang pundaknya adalah Nyai Roro.
"Telponan sama siapa?" Tanya Nyai Roro penasaran.
"Sama temen Umi," jawab Kay seadanya.
"Owh... itu Hana nangis, kayaknya haus," ucap Nyai Roro.
"Iya Umi," jawab Kay dan segera menghampiri Hana di ruang keluarga.
Setelah membawa Hana ke kamar dan menidurkannya, Adam Datang dengan membawa nampan.
"Kenapa repot-repot di bawa ke atas sih mas!" Ucap Kay yang melihat itu.
"Gak repot kok, Mas malah senang bisa membantu kamu," jawab Adam tersenyum hangat.
"Mas suapin ya!" Izin Adam dan mulai menyendok nasi.
"Aaa... mas sweet banget sih... jadi makin sayang," ucap Kay lalu menerima suapan dari Adam.
"Harus itu," jawab Adam dan tertawa.
"Mas!" Panggil Kay memegang tangan Adam.
"Kenapa?" Jawab Adam.
"Aku udah laporin Fitri ke polisi soal anak kita," ucap Kay.
"Kenapa gak bilang sama mas?" Tanya Adam.
"Mas jangan marah," sahut Kay menundukkan kepalanya.
"Hey... siapa yang marah, kalau kamu bilang mas kan bisa antar," ucap Adam mengangkat dagu istrinya.
"Mas gak marah?" Tanya Kay mengejapkan matanya beberapa kali.
"Kenapa harus marah? Itu memang kesalahannya yang harus di pertanggung jawabkan," jawab Adam.
"Makasih Mas," ucap Kay dan memeluk Adam erat.
"Iya..., ayok makan lagi!" Sahut Adam.
Kay menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Teen FictionMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
