Tak terasa liburan semester tiba semua santri wan dan santri wati berkumpul di depan area ndalem menunggu bus tiba, tapi ada sebahagian yang di jemput orang tuanya. Mereka terlihat sangat bahagia, mungkin ini hari yang mereka tunggu, hari di mana mereka pulang dan bertemu orang tua masing-masing. Hari kejayaan bagi sebahagian santri karna mereka akan terlepas sejenak dari lembaran-lembaran penuh ilmu.
Sedangkan Kay terlihat sedikit pucat yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Loh kamu kenapa nak?" Tanya Nyai Roro yang baru dari luar.
"Gak apa-apa umi, cuma agak pusing dikit,"jawab Kay sopan.
"Mau umi antar ke kamar?" Tanya Nyai Roro.
"Gak usah Umi, Kay mau disini aj," jawab Kay.
"Kamu mau pulang ke rumah atau gimana hari ini?" Tanya nyai Roro duduk di sebelah Kay.
"Kay gak pulang Umi, tadi kata mamah, biar mama sama papa aja yang ke sini," jawab Kay.
"Owh gitu," ucap Nyai Roro menganggukkan kepala pelan.
Huek
"Astagfirullah Kay, kamu istirahat ya ke kamar biar umi antar," saran Nyai Roro setelah mendengar Kay mual.
"Em gak usah umi huek huek," ucap Kay.
"Bentar umi panggilin Adam," ucap Nyai Roro.
Tak lama setelah kepergian Nyai Roro datanglah Adam dengan tergesa-gesa.
"Sini aku bantu ke kamar," ucap Adam langsung membopong Kay menuju kamar.
"Aku bisa sendiri," jawab Kay hendak melepas rangkulannya.
"Aku bantu," kata Adam kekeh.
Mereka pun pergi ke kamar.
Huek
Baru sampai dikamar kay mual lagi, Kay menahan mulutnya dengan tangan kanan untuk menahan sesuatu yang sepertinya akan keluar dari mulutnya.
Kay segera berlari menuju wastafel yang ada di dalam kamarnya.
Huek huekkk huek
Adam dengan sigap memberikan sedikit pijatan di tengkuk kay.
"Kamu jauh-jauhhhhh," usir Kay tiba-tiba.
"Loh kenapa?" Tanya Adam.
"Aku gak suka bau parfum kamu, buat aku mual kalau cium baunya," jawab Kay seraya menutup hidungnya.
"Ini parfum yang biasanya kok sayang," sahut Adam seraya ingin mendekat.
"Sana pergi huek huek," ucap Kay.
Adam pun meninggalkan kay sendirian dan menunggunya di kasur.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
"Kay Adam ini mama," ucap mama Kay dari luar kamar.
Mendengar itu Adam bergegas membukakan pintu.
"Masuk mah," ucap Adam setelah salim kepada mama kay.
Mama kay pun masuk dan langsung di sambut pelukan hangat dari Kay.
"Kangen mama sama papa," ucap Kay manja.
"Kata Nyai Roro kamu mual-mual?" Tanya Mamanya Kay sambil mengelus kepala Kay.
"Hehehe kayak biasa mah," jawab Kay cengengesan.
"Udah berapa kali sih Kay mama bilangin kamu buat gak ke balkon lagi malam-malam," nasehat Mama kay.
"Maaf mah," ucap Kay menyesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Takdir
Ficção AdolescenteMenikah dengan pria yang berilmu dan sangat bertanggung jawab memang harapan semua orang, apa lagi itu adalah orang yang di cintai. Tapi bagai mana kisah pernihakan yang terjadi bukan atas dasar cinta? entah akan tetap bahagia atau malah menderita d...
