46. Satu Fakta

147 3 0
                                        

      Pagi yang cerah secerah senyuman Kay hari ini, dengan sayang Kay membangunkan Hana. Bayi mungil yang cantik itu terlihat nyaman dalam balutan selimutnya. Karna gemas Kay mencubit pipinya pelan.

"Gemesss banget sih anak bunda...," ucapnya.

"Cantik kayak bundanya," tutur Adam seraya memeluk Kay dari belakang.

"Gombal," ucap Kay sambil menegakkan dirinya dari box bayi.

"Ini tuh fakta," sahut Adam sambil terus memeluk Kay.

"Iya deh iya...," ucap Kay dan membalikkan badannya namun masih berpelukkan.

"Coba senyum yang lebar!" Pinta Adam.

Kay pun menurutinya, ia tersenyum pepsodent membuat keduanya seketika tertawa.

"Mas!" Panggil Kay di tengah tawanya.

"Iya kenapa istriku," sahut Adam.

"Janji ya mas jangan tinggalin aku!" Pinta Kay dan menunjukkan jari kelingkingnya.

"Janji!" Jawab Adam mantap dan menautkan jarinya.

"Hari ini aku boleh pergi lagi gak mas?" Tanya Kay hati-hati.

"Mau ke mana lagi? Hm?" Tanya Adam.

Kay melepaskan pelukannya lalu mengambil ponsel dan memperlihatkan sebuah pesan masuk.

"Kenapa Gak Bella saja yang ke sini?" Ucap Adam mencoba mencegah Kay.

"Ya gak bisa mas..., dia lagi sedih jadi aku harus susulin," ucap Kay menjelaskan.

"Mas antar!" Putus Adam.

"Gak usah mas, aku udah minta supir Bella jemput," ucap Kay.

"Mas kawatir, kamu kan masih baru lahiran," sahut Adam menjelaskan ke takutannya.

"Aman mas...," ucap Kay.

"Jam berapa?" Tanya Adam.

"Jam 10 an mas," jawab Kay.

"Iya boleh," putus Adam sedikit terlihat ragu.

"Aku pasti baik-baik aja," ucap Kay lalu mencium pipi Adam.

"Iya..." jawab Adam lirih.

Kay pun membangunkan Hana dan mengangkatnya untuk mandi.

Setelah selesai memandikan Hana mereka turun untuk sarapan.

"Pagi nenek kakek!" Sapa Kay dengan menurukan suara bayi.

"Aduh... cucu nenek udah cantik aja," puji Nyai Roro langsung menggendong cucunya.

"Cucu Abi juga ya," sahut Kiai Jaya tak mau kalah.

"Ponakan Yusuf itu," sahut Yusuf juga.

Adam dan Kay hanya tersenyum senang melihatnya.

"Ayok kita makan!" Seru Nyai Roro lalu duduk di kursi sambil terus menggendong Hana.

Kay mengambilkan makan untuk suaminya dengan telaten ia menyiapkan.

Setelah selesai sarapan kini Hana telah di bawa Nyai Roro keluar Ndalem untuk melihat-lihat pesantren bersama Kiai Jaya.

"Mas pergi ngajar dulu ya sayang!" Pamit Adam.

"Iya mas... semangat...," sahut Kay lalu menyalimi.

Setelah Adam pergi tak Lama Yusuf menghampiri.

"Saya pergi juga Kayra," pamit Yusuf.

"Iya mas," sahut Kay sopan.

Sepeninggal semuanya Kay pun segera masuk ke kamar, ia langsung membuka ponsel dan menelpon Lean.

"Jadi hari ini?" Tanya Kay.

"Iya jadi, tapi sorry gue gak bisa ikut nemenin," sahut Lean diseberang sana.

"Iya gakpapa, lagian cuma ketemu aja," ucap Kay.

"Hati-hati, dia bukan orang sembarangan" ucap Lean memperingati.

"Iya gue tau," sahut Kay.

"Ya udah gue matiin dulu, gue lagi banyak kerjaan," ucap Lean lalu mematikan sambungan telpon.

"Huhhhh, nambahin kerjaan gue aja tuh orang pake acara ngajak ketemu," monolog Kay.

Setelah selesai bersiap Kay langsung pergi ke restoran sesuai alamat yang dikirim laki-laki itu.

Dengan kesal Kay tetap melangkahkan kakinya memasuki restoran, ya walau ada rasa tak ikhlas.

"Dengan Mbak Kayra?" Tanya pelayan yang berjaga di pintu masuk.

"Iya," jawab Kay ragu.

"Silahkan ikut saya! Tuan Reno sudah menunggu," ucapnya.

"Reno?" Ucap Kay masih bingung.

"Iya, mari ikut saya," jawab pelayan itu.

Kay pun mengikutinya sampai mereka berada di rooftop yang berhiaskan bunga-bunga.

Kay melihat seorang pria tengah duduk santai di kursi dengan memegang satu buket bunga. Kay lalu menghampirinya.

"Loh kak Reno?" Kaget Kay melihat Kakak kelasnya itu berada di sana.

"Selamat datang!" Sapa Reno dan berdiri lalu memberikan bunga itu pada Kay.

"Ja-jadi kamu laki-laki itu," ucap Kay tak percaya dan melangkah mundur perlahan.

"Aku sengaja sekongkol sama Fitri dan pura-pura mendukungnya, supaya aku bisa memastikan kamu baik-baik aja," jelas Reno dan mendekati Kay.

"Maksudnya?" Tanya Kay.

Reno pun menjelaskan dari ia yang pertama kali bertemu Fitri di jalan, Fitri yang mengajaknya kerja sama, bahkan alasan kenapa ia bisa memiliki bukti-bukti kejahatan Fitri.

"Berarti kamu juga terlibat atas kematian anakku!" Sarkas Kay menangis.

"Aku gak tau apa-apa perkara itu," sanggah Reno.

"Tapi kamu sekongkol sama dia buat celakain keluargaku!" Marah Kay.

"Itu semua di luar rencana! Dia yang menjalankannya gak sesuai arahanku!" Jelas Reno.

"Tapi rencana kamu bisa buat suamiku mati Reno!" Amuk Kay.

"Apapun itu asal aku bisa dapetin kamu, semua gak masalah," jawab Reno lirih.

"KAMU GILA!" Teriak Kay lalu berlari.

"MESKI FITRI SUDAH DI PENJARA HIDUP MU TETAP TIDAK AKAN TENANG!" Ucap Reno memperingati.

Kay berhenti berlari, ia seketika menegang di tempat, apa maksud semua ini, kenapa hidupnya begini.

Kay lalu menyapu air matanya dan kembali pergi, meninggalkan Reno yang menatapnya dengan kosong.

Garis TakdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang