Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bunyi gesekan daun pintu pada lantai berpadu dengan rintikan rinai yang turun memberikan kehidupan. Keduanya mampu mengusik pemuda yang sejak tadi duduk di atas sajadahnya sembari mengangkat tangan, memohon banyak sekali ampunan. Pipinya basah, seiring dengan ribuan rintik hujan yang kian deras.
Sebelum menoleh dirinya mmengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyudahi ritual rutin yang selalu ia lakukan tanpa lelah.
Melihat sang putra yang kian dewasa, Ummi Aisyah tersenyum lalu menghampiri Eza yang telah selesai merapikan sajadahnya. Digenggamnya telapak tangan yang terasa dingin. Berkali-kali batinnya bertanya, apakah putranya baik-baik saja?
Tidak ingin bertele-tele, ia langsung menyampaikan tujuannya menemui sang putra. Wanita paruh baya itu membawa putranya duduk di atas kasur.
"Nak, Ummi mau ngomong sama kamu."
"Tentang apa, Ummi?" tanya Eza lembut. Kemudian ia menggeser tubuhnya agar sang ummi dapat duduk di sampingnya.
"Kamu mau ya dijodohin lagi?" tawar Ummi Aisyah, membuat Eza seketika terdiam, laki-laki itu menggigit bibir bawahnya gugup.
Eza, masih tenggelam dalam ketakutan.
"Emm..., Eza belum bisa," balasnya sambil menunduk dalam, ia tak berani menatap wajah sang ummi. Melihat raut sedih itu membuat Eza seakan dihantam benda keras yang memperparah sakitnya.
Helaan napas pelan terdengar dari sang ibu. "Sudah tiga tahun lebih kamu hidup dalam bayangan masa lalu. Kasihani diri kamu Za, dia sudah tenang disana, kamu harus Ikhlas ya?!" ujar sang ibu sambil menangkup pipi tirus milik Eza. Miris melihat putranya terus berada dalam belenggu masa lalu.
"Eza benci takdir ini," lirihnya pelan, mengingat beberapa butir kenangan itu membuat hati Eza seperti dihimpit. Sesak. Melupakan dirinya tadi telah menangis meminta ampun, namun kini dirinya kembali mengukir dosa dengan ucapannya yang tanpa sadar ia keluarkan.
Ummi Aisyah kembali menghela napas pelan, ia mengusap lembut punggung Eza. Tiga tahun sudah berlalu, nyatanya tak mengubah Eza sama sekali. Hanya detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun yang berganti, tapi kesedihan itu masih ada sampai saat ini.
"Aku gak setegar itu," ujarnya lagi, ummi Aisyah menyembunyikan kepala Eza pada ceruk lehernya. Memang tidak ada suara isakan dari bibir pemuda itu, namun punggung sang ummi basah karena air matanya. Ia menangis dalam diam dan memendam sendirian.
"Kamu diberi hidup seperti ini karena kamu kuat nak," bisik ummi Aisyah menenangkan.
"Kamu mau ya dijodohkan?" tanya sang ummi sekali lagi. Eza menggeleng pelan