Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Azea menatap dirinya dicermin Fullbody, tubuh langsing gadis itu sudah terbalut seragam putih abu-abu, pagi ini ia berniat untuk kembali bersekolah setelah libur 2 hari.
Cklek!
Eza baru saja keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar, handuk putih melingkar di pinggangnya dan satu handuk lagi ia pakai untuk mengeringkan rambut.
Azea meneguk ludahnya melihat badan atletis milik laki-laki menyebalkan itu, tidak pernah sekalipun ia melihat perut seperti milik Eza, ingin rasanya ia mengelus kotak-kotak membahana itu.
Puk!
gumpalan handuk kecil melayang mengenai wajah Azea, gadis itu tersentak lalu mengarahkan pandangannya kearah lain. Eza menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Malu sekali rasanya ketika laki-laki itu menyadari bahwa Azea sedang memperhatikannya, ingin rasanya Azea menghilang dari bumi.
"Liat apa?" tanya Eza dengan mata menyorot dingin, tatapan itu tidak pernah berubah.
"Dih, liatin apa?, pede banget." Wanita itu tertawa sumbang menutupi kegugupan nya. Lalu setelahnya ia terdiam ketika Eza menatapnya tanpa berkedip.
"Tidak ada rok lain, Azea?." Tanya Eza menatap singkat Azea.
"Ada kak, tapi kegedean, cuma ini yang paling pas," sahut wanita itu sambil berdiri dari duduknya.
"Tidak ingin berganti?" Kini Azea menatap jengah Eza. Apa salahnya?.
"Gak kak, ribet kek badut," jawab Azea sabar.
"Baiklah," Laki-laki itu mengangguk lalu berjalan menuju walk-in closet.
Melihat hal itu Azea bergegas mengambil tasnya dan berlari keluar kamar. ia duduk di kursi meja makan sambil meminum segelas air putih, karena hanya ada itu di dapur.
Tak lama suara langkah kaki seseorang menuruni satu-persatu anak tangga menuju dapur, laki-laki itu adalah Eza. Ia menggunakan kaos putih dan celana training panjang berwarna hitam dengan les putih memanjang, hari ini ia tidak bekerja, kuliah ataupun pergi kepondok.
Laki-laki itu mengelus perutnya yang terasa keroncongan karena ia tidak makan dari kemarin siang.
Ia duduk dikursi sambil meirik meja didepannya, tidak ada hidangan apapun kecuali satu teko air putih, kemudian ia menatap Azea. apa dia tidak bisa memasak. batin Eza.
Azea yang merasa ditatap pun membalas tatapan Eza "Apa?, Lapar?" tanya wanita itu ngegas.
"Aku bukannya gak bisa masak ya kak!, tapi dirumah ini gak ada yang bisa dimasak," gadis itu berkata seolah mengerti isi dari pikiran Eza.