Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu minggu sesudah perang dingin itu kini keduanya menjalani hari-hari seperti biasanya, mereka tak lagi canggung,bahkan keduanya secara terang-terangan menunjukkan kasih sayang satu sama lain, toh mereka sudah sama-sama cinta, sudah sah lagi.
Seperti saat ini, jam 04:10 Azea sudah mandi, rambut gadis itu tergerai indah, ia sengaja mandi lebih awal. Gadis cantik itu duduk disebelah Eza, biasanya Eza yang akan bangun dan bersiap lebih awal, namun kini laki-laki itu masih terlelap dalam gulungan selimut tebal, Azea tau suaminya itu sangat lelah.
"Kak udah subuh," ujar gadis itu sambil menarik selimut yang dikenakan Eza dengan lembut. Namun laki-laki itu kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh.
"Subuh!, subuh!, subuh!" seru gadis itu sambil kembali menarik-narik selimut Eza.
"Berisik!" balas Eza kesal, laki-laki itu menyibak selimutnya dan menatap Azea dengan muka bantalnya, tetap ganteng meskipun bangun tidur.
"Kakak!, aku udah wudhu!" pekik gadis itu kesal ketika Eza mengenggam pergelangan tantangannya, Eza tersenyum miring, ia langsung menarik Azea membuat gadis itu terjatuh kedalam dekapannya.
"Ish, aku kan jadi wudhu lagi," gerutunya sebal, Eza tak peduli, ia semakin mengeratkan pelukannya sembari menghirup aroma buah dari rambut Azea.
"Kak sebentar lagi subuh, ayo mandi!"suruh Azea lagi.
"Mandi bareng?" tawar Eza. Mendengar ucapan suaminya itu membuat gadis itu merinding.
"Ga dulu, makasih," sahutnya kikuk.
"Kak ayo mandi ih, 15 menit lagi jam setengah lima," perintah gadis itu. Eza menggeleng pelan, tangannya melingkar erat dipinggang istrinya.
"Cium dulu! "
"Apaan sih kak, kenapa jadi aneh gini?" tanya Azea heran, suaminya itu terus saja menempel dari kemarin, tapi Azea suka. Eza benar-benar banyak tingkah, tapi tetap saja Azea mau menurutinya, gadis itu mengecup singkat pipi tirus milik suaminya, sontak laki-laki itu membuka matanya lebar-lebar.
"Ayo mandi!" ujarnya bersemangat, namun sama saja, masih terlihat datar. Padahal Eza sudah berusaha semaksimal mungkin.
"Aku udah mandi kak, kalau mandi lagi buang-buang air, mubazir" sahut Azea kikuk, sungguh ia belum siap untuk saat ini.
"Ayo kak!, sebentar lagi waktunya shalat subuh!" desak wanita itu, ia menarik tangan Eza dengan kencang, namun tetap saja tidak berefek sama sekali.
"Sebelah belum," ujarnya tersenyum manis sambil menunjuk pipi kanannya, Azea benar-benar gemas pada suaminya ini, jarang sekali ia melihat senyum Eza yang seperti ini. Azea mendekat lalu kembali mengecup pipi suaminya itu membuat Eza bersorak senang.