Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Masa aku lupa kalau cerita ini religi dan si Eza ini anak angkatnya kiayi:)
Aku cuma fokus ke konflik tapi lupa nambahin bumbu-bumbu religi disini wkwk
Yaudah langsung aja
Typo tandai
-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejak subuh Eza terlihat berseri membuat Kenan penasaran, ada apa dibalik senyum tipis adiknya yang tak kunjung luntur itu?.
"Gigi kamu ga kering Za senyum mulu?" celetuk Kenan, semua menoleh kearah Eza namun pemuda itu segera mendatarkan ekspresinya. Tumben-tumbenan kan Eza secerah ini?. Biasanya pemuda itu itu akan selalu murung ditanggal-tanggal seperti ini.
"Azea kenapa diem aja?, Eza ngapain kamu?" tanya papa Anandra.
"Nah senyum lagi," cibir Kenan melihat adik tirinya itu seperti orang gila.
Gimana ga senyum kalau subuh-subuh udah mandi bareng. Eza kembali tersenyum mengingat itu, apalagi Azea yang malu-malu kingkong. Kemudian Eza melirik gadis disebelahnya lalu menaikkan alisnya menggoda. Wajah Azea terasa merona, sungguh ia malu. Tangannya terulur menyubit pinggang Eza pelan, ia memberi isyarat supaya Eza diam.
"Azea!"
Azea segera menoleh kearah Nadhira yang ada didepannya.
"Iya, kenapa ma?" tanyanya gugup. Nadhira tersenyum tipis melihat Azea yang nampak gugup.
"Mama ga bakal ikut-ikutan ledekin kalian kok, santai aja," kata Nadhira sambil terkekeh, gadis didepannya hanya menghela nafas pelan.
"Setelah sarapan, kamu mau ga bantuin mama kepasar buat belanja sayur dan teman-temannya?"
"Boleh ma, mau berangkat langsung setelah ini?" tanya Azea. Nadhira menatap Azea sebelum mengangguk.
"Iya."
"Ma!" panggil Eza ragu. Bukan hanya mama Nadhira yang menoleh kearahnya namun Kenan dan papa Anandra juga.
"Kenapa nak?" tanya wanita itu menatap Eza dengan hangat
"Biar Eza aja yang kepasar bareng Azea," ujarnya mengusulkan
"Dih, tumben menawarkan diri," cibir Kenan pada adik tirinya itu.
"Be-ri-sik." kata Eza penuh penekan.
"Ohh, boleh-boleh Alhamdulillah kalau kamu mau hajatan Azea soalnya mama juga mau lanjut buatin orderan kue untuk ibu-ibu hajatan."
"Kalau gitu Azea siap-siap dulu ma, permisi," pamit Azea pada mertuanya. Ia sempat menjawil Eza sebagai isyarat untuk naik ke kamar mereka.
"Pasti ada udang dibalik bakwan," Kenan memandang adiknya itu penuh intimidasi.