BAB:23.MAAF UNTUK EZA

1.9K 175 22
                                        

Assalamu'alaikum

Haiiiiii

Typo tandai

Jangan lupa Bismillah

Sejuknya angin malam tak melunturkan keberanian seorang gadis untuk memasuki kawasan pesantren yang sudah sepi, untung satpam yang berjaga mengenali bahwa ia menantu Kiayi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sejuknya angin malam tak melunturkan keberanian seorang gadis untuk memasuki kawasan pesantren yang sudah sepi, untung satpam yang berjaga mengenali bahwa ia menantu Kiayi. Jika tidak, mungkin ia tidak diperbolehkan masuk ke sana. Bagaimana tidak sepi, sekarang sudah pukul setengah 12 malam. Di sepanjang perjalanan Azea terus menangis mengingat dosanya pada Eza, ia sudah berkata dengan nada tinggi dan menunjuk-nunjuk wajah Eza.

Azea berdiri didepan ruang pribadi milik Eza, ia mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada sahutan dari dalam, ia mengintip dari jendela namun tidak dapat melihat apa-apa karena ruangan itu gelap, sepertinya lampu sengaja dimatikan, ataukah Eza sudah tidur karena ini memang sudah larutm

"Assalamu'alaikumm cari Gus Eza ya ning?" tanya seseorang, Azea terkejut dibuatnya. Mungkin ini salah satu santri disini? .

"Wa'alaikumussalam. Iya, kamu lihat?" Azea balik bertanya dan menatap wajah laki-laki dihadapannya ini, sontak laki-laki itu menundukkan pandangannya. Mana berani ia sembarangan menatap istri Gusnya.

"Sehabis maghrib tadi beliau pergi bersama Gus Ikhwan," jawabnya gugup, ia merasa tak nyaman berduaan dengan wanita ditempat sepi, apalagi ini istri dari seorang Eza.

"Kemana? kamu tau ga dia pulangnya kapan?"tanya Azea lagi.

"Saya kurang tau beliau kemana ning, kayaknya acara majelis dzikir dan shalawat, soalnya anak-anak hadrah pada ikut," jelas laki-laki itu sambil memilin baju kokonya.

"Emm ..., kalau pulangnya biasanya agak tengah malam ning, paling cepet jam 12 malem, dan paling lama jam 2 pagi," ujarnya sopan. Mendengar itu Azea hanya menghela nafas pelam, sekarang baru jam 23:35. Berarti ia harus menunggu Eza disini.

"Kalau begitu saya permisi ning, Assalamu'alaikum," ujarnya, ia segera melangkah dari sana.

"Wa'alaikumussalam, terimakasih" balas Azea pelan, gadis itu duduk di keramik yang dingin lalu menyenderkan kepalanya pada pintu.

"Afwan."

Bulir bening kembali mengalir membasahi pipi mulus Azea, dirinya malu pada Eza, merasa bersalah pada laki-laki itu. Tadi ibunya datang berkunjung kerumah mereka, namun Ningsih kaget melihat penampilan Azea yang berantakan dan mata gadis itu sembab, ia sempat khawatir jika Eza menyakiti sang putri, namun sang putri yang jelas-jelas menyakiti Eza.

Mau tak mau Azea menceritakan semuanya pada Ningsih, alhasil gadis itu diceramahi habis-habisan oleh ibunya dan menyuruh Azea meminta maaf pada Eza. Teringat jelas pada benak Azea perkataan ibunya tadi

"Surga seorang wanita sesudah menikah itu adalah suami Azea. Hak suami lebih besar dibandingkan hak orang tua!"

"Dampak besar durhaka kepada suami adalah, amalannya tidak diterima, mendapat laknat dari malaikat, menjadi teman syaitan, dan mengundang turunnya adzab, tidak mendapatkan syafaat dari Rasulullah.
Mau kamu seperti itu?" Azea menggeleng berutal.

EZAZEA(end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang