Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seorang anak kecil tengah asik menendang bolanya kesana kemari, meski kaki kecilnya belum begitu lincah untuk berlari dan sesekali terjatuh diatas rumput ia tetap semangat bermain ditemani oleh sang papa.
Hari ini tanggal 12 Desember 2*** tepat dimana anak itu genap berusia 1 tahun, dihari yang sangat spesial ini ia meminta kedua orang tuanya untuk bermain bola bersama.
"Papa cape," ujar anak itu sambil merebahkan tubuhnya diatas tikar yang sudah disiapkan sang mama.
"Papa juga," ujar Anandra-sang papa, ia juga ikut berbaring disampimg tubuh mungil putranya itu.
"Minum dulu kalau lelah." Nindya segera menyodorkan sebotol air mineral dan sebuah dot berisi susu vanilla kesukaan putranya.
"Untuk papa aja ya." Anandra mengambil alih botol dot ditangan istrinya dan pura-pura ingin meminumnya.
"Papa no!, itu punya Eja," ia merengut.
Tangan kecilnya segera merebut botol itu dari sang papa, ia memasukkan nipple buatan itu kedalam mulutnya, matanya berbinar merasakan cair manis kesukaannya.
"Papa liat!" ujarnya antusias menunjuk pesawat yang melintas diatas mereka.Pasangan suami istri itu mendongak melihat arah tunjuk putranya.
"Nanti eja mau kelja dipecawat, jadi plot," celoteh anak itu riang,keduanya tertawa mendengarkan anak mereka itu,ia memang sangat menyukai transportasi udara.
"Kenapa mau jadi pilot?" tanya Nindya sambil mengecup pipi gembul yang memerah karena paparan sinar matahari.
"Cupaya bica telbang tinggi mama," ia tersenyum menampilkan giginya yang putih dan rapi. Anandra dan Nindya tersenyum gemas melihat tingkah putranya itu
Nindya memandang langit yang berawan, sepertinya akan turun hujan, ia segera mengemasi barang-barangya
"Mas bantu aku angkat ini ke mobil!" ujarnya menunjuk beberapa alat piknik yang mereka gunakan
"Oke sayang," ia segera berdiri dan mulai membantu sang istri, sesekali mereka memperhatikan tingkah bocah berusia dua tahun itu
Tak terasa rintik hujan mulai membasahi bumi, Anandra dan Nindya bergegas melakukan pekerjaannya, sedangkan sikecil tertawa bermain air hujan, kaki kecilnya ia bawa berlari menginjak genangan air, hingga genangan itu menyiprat kemana-mana.
"Sayang ayo pulang!" ajak Nindya, ia menggenggam tangan mungil milik Eza.
Bocah itu mendongak, menatap wajah cantik milik sang mama, "no mama, eja macih mau main," ujarnya memelas. Nindya tersenyum, ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang putra.