Typo banyakk!
Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan dia yang faham agama, namun belum selesai dengan masa lalunya?
Dia yang keras kepala namun porak poranda batinnya. Dia yang berusaha sembuh dan mencoba menghargai apa yang sudah menjadi mili...
Maaf ya,kemarin malam ga sengaja kepencet publish padahal belum siap ngetik hehe.
Ini asli kok wkwk
Langsung aja
Typo banyak
Jangan lupa Bismillah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Eza duduk sendirian di sebuah bangku taman, tepatnya dibelakang rumah papanya, konon katanya taman ini adalah tempat ter pavorite almarhumah sang mama. Ia memandang hampran rumput hijau yang terawat, disudut taman ini terdapat lumayan banyak bunga mawar putih yang sedang bermekaran, bunga itu awalnya juga ditanam oleh mama Nindya tapi masih terawat baik hingga sekarang. Papa Anandra sendiri menugaskan maid khusus untuk merawat tempat ini.
Eza menyenderkan kepalanya pada senderan kursi, lalu laki-laki itu menghela nafas pelan.
"Kenapa?"
Eza menoleh menatap seseorang yang baru saja duduk disebelahnya. Laki-laki itu masih lengkap dengan jas putihnya dan stetoskop melingkar apik di lehernya, dan ada sedikit bercak darah di ujung jas miliknya.
"Sekarang hobi kamu berantem bukan main basket lagi ya?" sindir Kenan melihat sudut bibir Eza yang sedikit sobek, dan kening pemuda itu memar berwarna biru keunguan dan sedikit bercak darah.
Kenan menghela nafas pelan sebelum menempelkan plaster dikening Eza, setelah selesai ia sempat menepuk pelan luka dibagian bibir Eza membuat pemuda itu meringis pelan.
"Oh sakit ya?" tanyanya sewot.
"Kirain ga sakit makanya suka berantem," sindir laki-laki itu lagi, ia baru pulang kerja tapi sang mama mengatakan Eza berkelahi hingga bibirnya berdarah.
Kemudian ia menatap Eza dengan intens, "siapa yang mukulin kamu?" tanya Kenan serius.
"Ga dipukulin," jawab Eza singkat.
"Terus ini kenapa?" tanya Kenan sambil menujuk luka dibibir Eza.
"Berantem,"sahutnya seadanya.
"Sama siapa?"
"Ga kenal." Kenan ingin sekali memukul wajah adik tirinya yang sangat menyebalkan ini.
"Kenapa Za?"
"Berantem."
Kenan mengelus dadanya sabar melihat tingkah Eza, bukannya langsung bercerita adiknya itu malah menjawab seadanya.
"Abang tau kamu berantem, tapi kenapa bisa berantem?" tanya Kenan gemas, ingin sekali ia menepuk mulut Eza yang irit bicara ini.