Seorang pria duduk di depan para juri dan penonton, di sebelahnya juga ada peserta final yang duduk dengan wajah serius. Ia menjawab soal demi soal dengan cara menekan bel merah yang ada di podiumnya.
Babak final penyisihan kejuaraan olimpiade matematika telah dimulai. Jaemin menjadi salah satu peserta yang mendapat kesempatan mengikuti babak final ini. Pria itu tampak serius menjawab soalan demi soalan yang di lontarkan oleh para juri, mulai dari soal bergilir dan terakhir soal rebutan.
Kim Jiya POV on
Dari sini, aku melihat Jaemin yang tampak antusias mengikuti babak final. Wajahnya yang serius membuat banyak orang berdecak kagum, belum lagi bagaimana ia menjawab soalan demi soalan dengan tegas sehingga musuhnya berdecak kesal karena kejeniusannya.
Sempurna, mungkin itu yang bisa menggambarkan seorang Jaemin.
Namun, siapa sangka ternyata pemikiran Jaemin lebih dewasa dari yang aku kira.
"Kenapa kau tidak bilang pada juri bahwa ia curang?" Kesalku, karena Jaemin yang tadinya hampir juara satu sekarang mengambil juara dua karena kecurangan peserta yang tampak sengit pada Jaemin.
Pria itu terkekeh, ia menunduk menatap wajahku sembari mengacak pelan poni rambutku yang sedikit berantakan karena terkena angin.
"Di dalam suatu lomba, pasti ada yang namanya kecurangan. Sudah biarkan saja, lagi pula kemenangan bukan segalanya. Yang aku inginkan adalah pengalaman dan mengasah otak matematikaku yang cukup hebat ini." Ungkap Jaemin santai sembari menggandeng tanganku menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Entah mengapa perkataan Jaemin membuatku malu, dia ternyata lebih dewasa dari yang aku pikir. Secara perilaku dia memang sering manja, namun pola pikirnya. Sungguh diluar nalar. Wajahku merona.
"Kau memang benar - benar hebat Jaemin." Gumamku membuat ia menarik tanganku sehingga posisi kami berhadapan. Semilir angin malam berhembus menerpa kami sehingga aku memejamkan mata karena takut kelilipan.
"Kalau aku memang hebat, kenapa kau tidak memberikanku hadiah?"
Aku mendengus kesal, makna hadiah bagi Jaemin bukanlah barang. Aku mendongakkan wajahku menatap wajah tampannya yang terlihat remang, karena cahaya lampu jalanan memang tidak terlalu terang. Namun nuansa ini sangat memabukkan.
"Kau sangat tinggi, bisa rendahkan sedikit posisimu?"
Dengan senang hati pria itu menundukkan wajahnya, hingga aku sedikit berjinjit mempertemukan kedua bibir kami. Jaemin tersenyum di sela ciuman kami pria itu memegang pinggangku dengan kuat hingga aku sedikit memekik sehingga mulutku terbuka lebih lebar. Merasakan ciuman dalam yang ia berikan bertubi - tubi membuat napas ini semakin habis.
Jaemin menyatukan kening kita sembari mengambil napas sebanyak - banyaknya. Terengah - engah dalam nuansa malam yang sejuk. Aku memejamkan mata karena tidak kuat menatap matanya yang sangat indah. Pria itu memelukku dengan erat, menyembunyikan wajahnya di leherku sembari menetralkan degupan jantungnya yang sedari tadi terdengar olehku.
Aku penasaran. "Kenapa kau juga berdebar?"
Pria itu terkekeh sembari melonggarkan pelukannya. "Kau tahu? Jika seorang pria dan wanita berdebar ketika meluapkan cinta itu artinya mereka memang saling menginginkan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Are You Sure? || FF NCT NA JAEMIN || END
FanficSetiap orang pasti memiliki cerita cinta, namun logis kah jika orang dengan fisik sepertiku menerima cinta dari seseorang dengan visual diatas rata - rata? Kim Jiya Na Jaemin 🐰 Are You Sure 🐰 ©RamadaniWna