"KEV, sori banget. Luna tiba-tiba gak enak badan. Gapapa kan kalau gue anterin dia pulang?" tanya Edwin dari telepon. "Tenang aja, palingan cuma sakit perut. Biasalah, demen cemilin beling buat sarapan, hehe. Yaudah, bye."
"Cemilin beling apaan?" tanya Luna.
Edwin menghela napasnya. "Udah, lo lagi kaya gini aja masih ada tenaga buat marah."
Luna hanya terdiam, duduk di sebelah kursi kemudi Edwin dengan tenang sambil memainkan tutup botol air mineral yang Edwin berikan kepadanya tadi. "Jangan mancing emosi, deh. Gue lagi gak ada tenaga buat ladenin lo."
Edwin hanya bisa menahan tawanya. Menurutnya, Luna yang bisa tiba-tiba jadi pendiam begini adalah sesuatu yang langka sekaligus membuatnya ingin tertawa. "Eh, gue boleh videoin lo gak, sih? Ini kejadian langka banget, lo bisa mendadak kalem gini."
Luna hanya diam. Sepersekian detik, perempuan itu mulai mengusap matanya dan membuat Edwin mengatupkan bibirnya, panik. Baiklah, sepertinya Luna benar-benar tak bisa diajak bercanda saat ini. Dia benar-benar rapuh. Namun, tunggu, perempuan segalak Luna bisa serapuh itu hanya karena seorang laki-laki?
"Yah, seenggaknya, kalau dia ngaku suka Dira, berarti dia gak homo," kata Edwin, cengengesan. Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tak ada balasan sehingga keheningan mulai berputar kembali memenuhi atmosfir mobil ini.
Edwin pun meletakkan tangannya di stir, lalu mengendarai mobil ini menjauh dari parkiran stadion. Tangan kirinya terulur untuk memutar musik di mobil ini agar dia tak semakin dibuat sesak oleh keheningan dan kecanggungan yang mulai menenggelamkannya.
Anata, oleh L'Arc-en-Ciel.
"Kok lewat?" tanya Luna ketika Edwin terus menyetir, melewati apartemennya.
"Mau makan dulu, gak?" Edwin bertanya balik. "Satu-satunya yang bisa balikin mood tuh ya makanan."
"Makan apa?"
"Bubur."
"Hah? Bubur jam segini?"
Edwin menyengir kuda. Ternyata, meskipun patah hati, perempuan ini tetaplah perempuan tukang berontak dan galak. Patah hati takkan menghadang itu semua.
"Kenapa sih kalau makan bubur jam segini?" tanya Edwin, melirik jam tangannya. Pukul setengah empat sore. "Gue malahan sering makan bubur ayam malem-malem."
"Dih, orang aneh," balas Luna. "Jangan bilang lo juga sekte bubur diaduk."
"Eh, gue bukan orang yang bakalan memperdebatkan cara makan bubur. Bubur ayam tuh tetep enak mau digimanain juga," kata Edwin, bangga. "Kenapa? Lo sekte bubur gak diaduk?"
"Diaduk," jawab Luna, cengengesan.
"Dih, aneh."
"Lah? Katanya gak bakalan memperdebatkan cara makan bubur," Luna memutar kedua bola matanya sebal, dibalas gelak tawa oleh Edwin. "Ini kita mau kemana?"
"Diskotik."
"Gue gorok lo."
"Ya, lagian, masih aja nanya. Udah, tenang, tinggal duduk manis, gue yang bakalan traktir," ucap Edwin. "Gimana pertandingannya? Seru?"
"Seru."
"Terus?"
"Seseru apapun pertandingannya tadi, gue udah gak bakalan bisa enjoy kalau gue tetep duduk sebelahan sama Kak Kevin," ujar Luna.
"Tapi, Dira kan pacarnya Dito. Lo harusnya masih punya kesempatan untuk tetep perjuangin Kevin, kan?" tanya Edwin. "Lo masih mau perjuangin Kevin atau move on?"
Luna menaikkan bahunya. "Gak tau."
"Lagian, lo juga kenapa sih selalu demen sama cowok yang gak suka sama lo? Dokter Eddie, Kevin, besok siapa lagi?" tanya Edwin. "Kakak tingkat yang mau sama lo juga banyak yang cakep. Tinggal milih."
"Ah elah, kalau Dokter Eddie tuh bukan suka, kali. Sekedar kagum. Lagian… susah. Standar cowok gue ketinggian. Gue nyari cowok yang bervalue, bukan cakep," jawab Luna.
"Tai kucing."
"Udah gitu, yang suka sama gue modelannya tengil kaya lo semua, makanya gue ogah."
Edwin menghela napasnya, pasrah.
"Ini lagu apa?" tanya Luna. "Lagunya One Ok Rock lagi?"
Edwin tersenyum ringan. "Bukan. Ini band L'Arc-en-Ciel. Band legendaris Jepang juga dan udah ada dari tahun 90-an."
"Namanya ribet banget," komentar Luna, membaca nama tersebut di tape mobil Edwin. "Bacanya gimana?"
"Itu artinya pelangi dalam bahasa Prancis, tapi disebut sebagai Laruku oleh para fans karena yah, L'Arc dibaca Laruku dalam aksen Jepang. Soalnya, bandnya kan asal Jepang. Jadi, di Jepang tuh, L diganti R, terus mereka gak bisa nyebutin kata yang gak diakhiri huruf vokal," terang Edwin dengan rinci. "Bandnya bagus. Bagus banget. Lo harus coba dengerin lagunya."
"Anata," gumam Luna, membaca judul lagu yang terputar tersebut. "Artinya?"
"Anata artinya kamu," jawab Edwin. "Lagu ini tuh bisa dibilang sebagai lagu sedih. Kalau lo liat di youtube, tiap kali mereka nyanyiin lagu ini konser mereka, penonton bakalan nangis karena lagu ini emang lagu yang menurut gue emosional banget."
"Tentang?"
"Sebenernya, tiap orang pasti punya perspektif yang beda-beda, tapi kalau menurut gue, lagu ini menceritakan tentang jatuh bangun dari band ini karena yah… band Laruku tuh sempet ada di posisi yang terpuruk karena personilnya terjerat kasus narkoba, tapi tetep aja, mereka punya fans yang nungguin mereka balik lagi dengan karya baru," Edwin tersenyum. "Itulah kenapa, banyak yang nangis di konser kalau lagu Anata dinyanyiin."
Sekali lagi, Luna bisa melihat sisi itu dari Edwin. Sisi dimana dia bisa melihat Edwin seperti sekelebat cahaya dan senyuman yang tulus. Posisi dimana Luna tak mengetahui apapun, tapi Edwin tau dan berusaha memberitahu Luna tanpa bersikap menggurui. Luna menyukai itu.
"Lo emang secinta itu sama musik, ya," ucap Luna, tersenyum ringan. "Terutama lagu Jepang."
"Itu mimpi gue," balas Edwin. "Mimpi gue adalah punya band dan ciptain lagu dengan lirik Jepang."
"Trapnest, ya," Luna memberi jeda. "Artinya apa?"
"Dalam bahasa Inggris, artinya jebakan," jawab Edwin. "Tapi, gue pake nama itu karena gue suka komik Nana dan band di situ namanya Trapnest."
"Wibu."
Edwin menatap sinis. "Apa tadi?"
"Kaga."
"Soalnya, bokap gue juga penyanyi asal Jepang. Dia yang ngajarin gue tentang semua yang berkaitan sama musik," tambah Edwin, memarkirkan mobilnya. "Yuk, turun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Taoreru
RomanceEdwin, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi menjadi musisi. Luna, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi sesuai prodi yang dia ambil, yaitu dokter gigi. Mereka adalah dua orang yang selalu meledek satu sama lain. Namun, hubungan Luna...
