Chapter 25: Jawaban

509 76 1
                                        

"INI udah empat hari dan kalian masih aja diem-dieman," ujar Dira, menghela napasnya. "Sebenernya, kalian mutusin untuk jadi musuh aja atau gimana?"

Luna yang sedang memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas, bersiap untuk pulang, pun menggeleng. Sebenarnya, Dira dan Dito yang merupakan orang terdekat Edwin dan Luna, benar-benar bisa melihat perbedaan yang signifikan mengenai hubungan Edwin dan Luna. Padahal, biasanya, mereka berdua sudah berisik di pagi hari dengan perdebatan hal sepele atau sebagainya. Namun, sudah empat hari sejak Luna mengungkapkan perasannya kepada Edwin, dan semakin hari mereka malah semakin menjauh satu sama lain.

Meskipun menurut Dito, ini adalah hal yang wajar karena tak mudah bagi Luna untuk berhadapan dengan Edwin, setelah perempuan itu memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya, tapi sungguh, Dira merasa khawatir jika perasaan Luna untuk Edwin malah mengantarkan mereka berdua kepada hubungan yang renggang, bahkan tak bisa berteman dan saling ledek seperti biasa lagi.

"Mungkin, seharusnya, gue gak nyatain perasaan gue waktu itu," ujar Luna. Perempuan itupun menenggelamkan kepalanya ke meja, menutup matanya. "Gue ngerasa, gue udah ngerusak pertemanan gue sama Edwin."

Dira menatap khawatir. "Jadi, apa yang bakal lo lakuin kalau Edwin nolak lo?"

Luna terdiam sejenak. Dia mengangkat kepalanya, menatap Dira, cukup lama. Pertanyaan yang Dira lontarkan barusan adalah hal yang benar-benar dia takuti untuk sekarang. Namun, dia pun tak bisa mengontrol perasaan orang lain, termasuk Edwin. Dia juga tak mau Edwin menerimanya dengan perasaan terpaksa.

"Gue bakalan tetep temenan sama dia dan berusaha gak ada kejadian apapun di antara kita," jawab Luna, halus.

"Lo bisa?"

"Gue harap," Luna memberi jeda. "Habisnya, cuma karena perasaan gue, kita jadi canggung gini. Gue emang bego banget. Harusnya, gue gak ungkapin perasaan gue, waktu itu."

"Udah, jangan dipikirin," Dira tersenyum ringan. "Gue yakin, Edwin pun tetep pengen temenan sama lo."

Dira dan Luna pun berjalan keluar dari ruangan ini, lalu menuruni anak tangga dan berjalan keluar dari gedung fakultas. Sepersekian menit, dua gadis itu merengut sebal ketika mereka baru menyadari bahwa hujan di luar benar-benar deras, tak seperti yang mereka bayangkan. Padahal, setelah ini, Luna, Dira, dan mahasiswi angkatan 2019 lainnya sudah sepakat untuk berkumpul di kafe dekat kampus, soalnya besok sudah libur karena akhir minggu.

"Yah, hujan," gumam Luna. Kedua matanya memandangi air hujan yang menghujam atap gedung ini dan membuat buliran air hujan menjelma menjadi garis lurus vertikal. Bulan ini benar-benar musim yang tak cukup baik untuk beraktivitas. Terkadang, kalaupun tak hujan, di luar hanya akan mendung dan suhu udaranya pun dingin.

"Dir," Luna dan Dira menoleh ke belakang, ke arah suara yang baru saja memanggil Dira. "Dito minta gue buat manggil lo, barusan. Dia mau bantuan lo untuk rapiin absen di ruang 51."

Edwin berjalan ke arah mereka setelah menyampaikan pesan dari Dito tersebut. Lelaki itu memegang payung di tangan kanannya, serta tangan kirinya yang memegang MP3 Player.

"Hah, rapiin absen? Males banget," kata Dira, menghela napasnya panjang. "Yaudah, lo duluan aja, Lun."

"Kok duluan? Terus, lo gimana?"

"Nanti gue nyusul. Habisnya, kalau lo nungguin gue, bakalan lama. Mending lo duluan aja," ujar Dira. "Eh, Win, lo gak ada kesibukan, kan? Tolong anterin Luna ke Kafe Birdy, dong. Lo bawa payung, kan?"

"Hah? Kenapa jadi gue?" Edwin menoleh ke arah Luna. Dua insan itu mengalihkan pandangannya, mulai ditenggelamkan oleh rasa canggung lagi.

"Apa salahnya, sih? Kan deket," kata Dira.

TaoreruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang