BERKAT saran dari Edwin kemarin, Luna sengaja datang setengah jam lebih cepat dari kesepakatannya dan Kevin. Luna tak mau kesan pertama mereka yang jalan bareng begini jadi rusak hanya karena Luna datang telat dan membuat Kevin kesal.
"Hai!"
Luna menoleh ke arah sumber suara, menemukan seorang lelaki yang berlari kecil menujunya dengan senyuman di wajahnya. Luna ikut tersenyum, melambaikan tangannya ke arah Kevin yang mengenakan kaos dalam hitam dan outer kemeja garis-garis berwarna abu-abu.
"Kamu udah lama?" tanya Kevin. "Aku telat, ya?"
"Gak, kok, aku aja yang dateng kecepetan," jawab Luna, mulai berjalan beriringan dengan Kevin menuju stadion voli. "Kakak selalu nonton kalau ada pertandingan voli gini?"
Kevin tersenyum, mengangguk. "Habisnya, voli tuh udah jadi bagian hidup aku, Lun. Sejak kecil, malahan."
Mereka berjalan menuju tribun, lalu duduk bersebelahan. Kursi penonton masih banyak yang kosong, sepertinya Luna dan Kevin memang datang terlalu cepat. Namun, ada banyak juga penonton dengan antusiasme tinggi dan menunggu di tribun bahkan sebelum Luna dan Kevin tiba.
"Pertandingan Kakak minggu depan, ya?" kata Luna. "Jadi libero?"
Kevin mengangguk. "Kamu suka posisi apa di voli?"
Hah? Posisi favorit di grup voli? Luna mengatupkan bibirnya, mencoba memikirkan jawaban dari pertanyaan Kevin dengan baik. Sejujurnya, Luna sendiri pun tak terlalu paham mengenai voli. Selain itu, Edwin tak menjelaskan semua posisi di grup voli, kemarin. Lelaki itu hanya menjelaskan posisi setter dan libero. Namun, jika Luna menjawab libero, bukankah itu bisa membuat Kevin bisa langsung menebak kalau Luna tertarik padanya? Maksudnya, secara personal, bukan secara grup voli. Ah, terserahlah.
"Setter… mungkin?" Luna hanya bisa cengengesan. Dia harus menjawab posisi setter sebagai jawaban dari pertanyaan Kevin karena dia tak tau harus menjawab apa lagi.
"Oh, setter?" Kevin tersenyum lebar. "Kalau di tim kita sih, setter tuh ada dua. Edwin, terus Josef dari angkatan 2021, tapi karena toss dari Edwin lebih akurat dan strateginya lebih tajem, Edwin selalu main di pertandingan dan setter lainnya jadi pemain cadangan. Selain itu, servenya juga akurat banget."
Luna terdiam sejenak. Benarkah? Dari sudut pandang Luna, Edwin memang tau banyak mengenai voli dan ilmu itu tentu saja didapatkannya atas dasar kecintaannya terhadap jenis olahraga tersebut, seperti kecintaannya kepada musik. Namun, Luna tak bisa membayangkan bagaimana Edwin bermain di lapangan dan memainkan strategi seperti yang Kevin katakan.
"Edwin sempet minta keluar dari grup voli tahun lalu, tapi kita pikir, Edwin harus stay sampe kita nemu setter yang lebih baik," kata Kevin, terkekeh kecil. "Emang kedengeran sedikit egois, sih."
"Ah. Ngapain sih jadi ngomongin Edwin," Luna menyengir kuda. "Kalau Kakak? Kenapa milih untuk jadi libero?"
"Hm… menarik," Kevin tersenyum. Inilah yang Luna sukai dari Kevin. Dia selalu melemparkan senyumannya kepada orang lain dan terkadang, senyuman itu menular kepada Luna. "Tugas libero itu nyelamatin bola. Selagi bola belum nyentuh permukaan, maka poin kita gak bakalan dicuri oleh lawan."
Luna tersenyum. Benar yang dikatakan Edwin, grup voli itu tidak hanya bergantung kepada salah satu pemain, tapi semuanya bekerja sama untuk memenangkan pertandingan dengan tugas masing-masing.
Tak lama berselang, pertandingan pun dimulai. Luna bisa melihat posisi libero yang Edwin maksud, dengan seragam yang berbeda sendiri dibandingkan anggota tim lainnya. Bola itu mulai dimainkan dan suara peluit pun berkali-kali terdengar di telinga. Luna menikmati permainan ini. Entah karena dia mulai mengerti aturan dalam voli setelah penjelasan dari Edwin kemarin atau ada lelaki yang dia sukai di sebelahnya saat ini.
"Oh ya, weekend gini, kamu gak pergi jalan bareng Dira?" tanya Kevin. Luna tertegun. Dira? Kevin tau darimana kalau teman dekat Luna adalah Dira? Luna tak ingin salah tangkap, tapi apakah Kevin memerhatikannya sampai-sampai dia bisa tau kalau Dira adalah teman dekatnya?
"Gak. Dia juga gak terlalu suka voli, Kak," jawab Luna, mencoba untuk tetap tenang. Bolehkah dia merasa sedikit senang karena Kevin memerhatikan hal kecil itu darinya?
"Sebenernya, aku juga mau ngomongin ini sama kamu, Lun," Kevin memberi jeda. Dia menatap Luna dengan serius, membuat Luna seketika mematung karena termakan oleh rasa gugup. Apa ini? Dia ingin membicarakan apa? "Sebenernya, aku... punya rasa sama Dira, temen deket kamu."
Luna masih mematung. Namun, kali ini, bukan karena dia gugup, melainkan kaget. Tunggu, apa? Kevin menyukai Dira? Lelaki yang dia taksir menyukai sahabatnya sendiri? Namun, apalah Kevin tak tau kalau Dira sudah memiliki pacar?
"Oh…" Luna terkekeh garing. Sejujurnya, lebih tepat jika dikatakan sebagai terkekeh miris. "Maaf banget, Kak, tapi Dira udah punya pacar. Dito."
Wajah Kevin pun seketika berubah menjadi sedih, meskipun lelaki itu tetap berusaha tersenyum dan mengisyaratkan, "Oh, gitu? Yaudah, gapapa." ke arah Luna. Kevin harus tau, tak hanya dia yang merasa sedih saat ini, tapi Luna pun merasa sedih. Dua-duanya baru saja mengalami patah hati. Namun, sepertinya, rasa sakit yang Kevin rasakan takkan sebanding dengan yang Luna rasakan karena lelaki itu memang tak pernah berbicara dengan Dira sebelumnya. Dia hanya menyukai Dira dari kejauhan.
"Aku ke toilet bentar," ujar Luna tersenyum, kemudian berjalan keluar dari tribun.
Sesampainya di toilet, Luna terdiam, cukup lama. Dia hanya berdiam diri di toilet dan berdiri di hadapan cermin, menunggu sampai perasaannya sedikit lebih baik dan pergelutan di kepalanya sedikit mereda. Dia bahkan sudah tak memiliki niat untuk menonton pertandingan lagi. Dia ingin pulang. Dia tau, meninggalkan Kevin di tengah pertandingan mungkin dicap tidak sopan. Namun, apa yang harus Luna lakukan dengan hatinya saat ini?
Drrt. Drrt.
Luna merogoh tas kecilnya, lalu membaca nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
Edwin jelek is calling...
"Halo."
"Halo."
"Lo kenapa?"
Luna mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Biasanya lo selalu awalin obrolan di telepon dengan ngajak ribut, kaya 'lama banget sih ngangkatnya' dan semacemnya," ucap Edwin.
"Udah, buruan. Lo ngapain tiba-tiba telepon?"
"Nah, ini baru Luna. Sori banget, gue tau, gue ganggu momen lo sama Kevin, tapi abis pertandingannya kelar, gue bisa ngambil MP3 Player gue ke apartemen lo, gak?" tanya Edwin. "Lo tinggal kabarin kalau udah di apartemen."
"Iya. Yaudah."
"Oke. Titip salam sama Kevin, ye."
"Kevan, Kevin, Kevan, Kevin. Berisik," ujar Luna, dengan suara bergetar. Sepersekian detik, Edwin bisa mendengar suara tangisan yang Luna tahan dari seberang telepon. "Gue mau pulang."
"Lo kenapa?" tanya Edwin, mengernyitkan dahinya. "Kevin ngelakuin apa ke lo?"
"Gue mau pulang, Win."
Edwin terdiam sejenak. Dia benar-benar kaget dan sedikit khawatir karena dialah yang mengatur pertemuan Luna dan Kevin hari ini. Jika Kevin malah mengacaukan momennya dengan menyakiti hati Luna, tentu saja semuanya kembali lagi ke Edwin, karena Luna dan Kevin bisa jalan bareng berkat ide Edwin.
"Lo dimana?" tanya Edwin. "Gue jemput."
KAMU SEDANG MEMBACA
Taoreru
RomanceEdwin, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi menjadi musisi. Luna, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi sesuai prodi yang dia ambil, yaitu dokter gigi. Mereka adalah dua orang yang selalu meledek satu sama lain. Namun, hubungan Luna...
