"INI hawanya langsung gak enak karena ada lo di sini," celetuk Edwin, memundurkan mobilnya dari parkiran. Lelaki itu menoleh ke belakang dengan tangan kiri yang ada di kepala kursi dan tangan kanan yang berada di stir. Luna selalu menganggap pose lelaki ketika memundurkan mobil itu adalah sesuatu yang keren, tapi tidak jika itu terjadi pada Edwin.
"Gak peduli," kata Luna, sibuk dengan ponselnya.
"Lo pake apa, sih? Kayanya nih mobil hawanya jadi item banget karena lo ada di sini," tambah Edwin. "Pake susuk?"
"Lo jangan sampe gue geplak," balas Luna, kali ini menoleh ke arah Edwin. "Susuk apaan maksud lo? Lagian dimana-mana, susuk tuh jadi pemikat, bukannya bikin aura orang makin gelap."
"Ya gak tau, kali aja karena gue cowok baik-baik, jadi diri gue secara otomatis menentang hal begituan, makanya hawanya jadi gak enak gini."
Tangan kiri Edwin terulur untuk menyalakan musik. Sepersekian detik, mobil ini dipenuhi oleh melodi lagu dengan lembut. Lelaki itu menatap fokus ke depan dengan jemari yang berada di stir, bersenandung kecil mengikuti irama lagu tersebut.
"Eh, kayanya gue pernah denger lagu ini," kata Luna, tampak excited. "Judulnya apa?"
"Gak mau ngasih tau."
"Hah?" Luna mengernyitkan dahinya. "Kasih tau, dong."
"Gak."
"Kenapa, sih?"
"Ruriiro No Chikyuu, oleh Seiko Matsuda," jawab Edwin, akhirnya. "Lagu itu terkenal banget. Masa lo gak tau?"
"Gue gak tau apapun soal lagu Jepang," ujar Luna. "Tapi, gue inget, lagu ini sempet dari soundtrack salah satu film gitu."
"Lagu ini tuh punya makna yang dalem banget," kata Edwin. "Gue ngerasa liriknya rada sinematik dan itu bikin gue bisa ngebayangin alurnya di dalem kepala gue."
"Tentang apa, sih?" tanya Luna, penasaran. "Lagu sedih, ya?"
Edwin menggeleng.
"Terus?"
"Gak mau ngasih tau."
Ah, mulai lagi. Luna mendengus sebal, tak membalas apapun lagi. Edwin hanya bisa menahan tawanya. Menurut Edwin, kebahagiaan yang sesungguhnya terletak ketika dia berhasil membuat Luna, perempuan sotoy plus paling menyebalkan di angkatannya, merasa kesal.
"Cari tau soal lagu-lagu, deh, soalnya Dokter Eddie kan suka musik," ucap Edwin, sukses membuat Luna spontan menoleh sembari melebarkan matanya kaget.
"Kenapa tiba-tiba bahas Dokter Eddie?" tanya Luna.
"Ya, kan lo suka sama dia."
"Siapa yang bilang kalau gue suka sama Dokter Eddie?" tanya Luna, memberikan tatapan intimidasi. Edwin menelan salivanya. Perempuan ini memang galak dan Edwin sudah sering melihat wajah kesalnya, tapi kali ini, wajahnya tampak benar-benar membuat Edwin merasa seram sendiri.
"Gak ada yang bilang. Orang lo transparan banget," jawab Edwin. "Lagian, apaan, sih. Jarak dua puluhan tahun, anjir. Tuh orang juga bentar lagi nikah, paling."
Luna hanya bisa diam, tak merespon apapun. Ah, sepertinya topik terakhir yang Edwin bawakan ini membuat Luna benar-benar kesal dan malu.
"Udah sampe," kata Edwin. "Buruan, turun."
Luna segera membuka pintu mobil Edwin dan turun.
"Gak bilang apa dulu, gitu?" tanya Edwin, memperhatikan Luna yang melenggang pergi tanpa mengucapkan apapun. "Makasih, misalnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Taoreru
RomanceEdwin, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi menjadi musisi. Luna, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi sesuai prodi yang dia ambil, yaitu dokter gigi. Mereka adalah dua orang yang selalu meledek satu sama lain. Namun, hubungan Luna...
