"LO gak ada agenda apapun malem ini?" tanya Dira baru keluar dari kamarnya, bertanya kepada Luna yang sedang duduk di atas sofa dengan santai beserta toples makanan di pangkuannya. "Malem minggu gak kemana-mana?"
"Menurut lo?" balas Luna dengan datar sembari mengunyah makanannya. "Gue di sini aja. Lo mau pergi sama Dito, kan?"
"Iya. Gapapa? Lo mau nitip sesuatu gak di luar?" tanya Dira. "Edwin kemana? Gak ada niatan ngajakin lo jalan, gitu?"
"Ngapain gue pergi sama dia."
"Yah, bukan kenapa-napa, meskipun lo udah ditolak sama dia, tapi kan kalian tetep temen deket," ujar Dira, menyengir kuda. "Sama-sama jomblo juga. Apa salahnya jalan atau makan bareng buat ngisi malam minggu?"
"Hah? Bisa-bisanya lo ngomong tanpa beban. Jangan ingetin gue kalau gue pernah ditolak sama dia," Luna menutup telinganya, benar-benar tak ingin mengingat kejadian itu lagi. "Lagian, pasti dia sibuk sama bandnya."
"Gak bakalan tau kalau gak dicoba," Dira meraih ponselnya, lalu menekan kontak Edwin. "Nih. Ngomong."
Nada sambung itu membuat Luna melebarkan matanya. Bisa-bisanya perempuan ini menelepon Edwin dengan santainya tanpa mempertimbangkan banyak hal. Bagaimana jika Edwin sedang sibuk? Seperti bermain musik, menciptakan lagu, atau apapun? Luna hanya bisa meraih ponsel Dira tersebut dengan tatapan sebal, lalu menunggu nada sambung itu berubah menjadi suara Edwin.
"Tuh, liat. Dia lama banget ngangkatnya, pasti lagi sibー"
"Halo."
Luna mengatupkan bibirnya, kaget. Dia bahkan tak sengaja menggigit lidahnya. Tunggu, kenapa dia harus kaget dan gugup?!
"Dir? Lo disana gak, sih?" tanya Edwin, dari seberang sana. "Ada perlu apa?"
"Halo," jawab Luna, cengengesan. "Ini gue."
"Pantesan ada aura iblis pas panggilannya masuk," kata Edwin, mencibir.
"Hah? Aura iblis, lo bilang?" Luna memutar kedua bola matanya sebal. "Lo, ya, baru ngobrol udah ngajak berantem."
Edwin tertawa. "Jadi, ada apa?"
"Lo lagi ngapain?"
"Denger lo nanya gue lagi ngapain gitu bikin gue merinding."
"Bangke," Luna tersenyum kecut. "Yaudah, gak jadi."
Edwin tertawa lagi. "Gue lagi di luar sama Roby."
Luna mengernyitkan dahinya. "Roby?"
Beberapa minggu ini, Edwin memang selalu mengunjungi Roby meskipun lokasi panti asuhan itu cukup jauh dari rumah Edwin. Sesuai janjinya, Edwin membelikan gitar untuk Roby, sekaligus mengajari lelaki kecil itu caranya bermain gitar. Edwin juga sering bercerita kepada Luna bahwa Roby adalah anak yang gigih dan mudah mengerti. Entah itu karena bakat ataupun ambisinya yang besar.
"Iya," Edwin memberi jeda. "Hari ini, mungkin hari terakhir gue bisa ngajarin Roby main gitar."
"Terakhir? Kenapa?" tanya Luna. "Ada sesuatu yang terjadi sama Roby?"
"Gak," jawab Edwin. "Dia bakalan diadopsi sama satu keluarga. Jadi, mungkin abis ini, orang tuanya bakalan masukin Roby ke kursus alat musik atau semacemnya."
"Beneran?" Luna tersenyum. "Gue seneng banget dengernya."
"Iya," ujar Edwin. "Makanya, abis ini, gue bakalan jarang ketemu Roby. Mungkin, cuma bisa komunikasi sama Roby lewat telepon. Jadi, malem ini, kita jalan bareng."
"Iya. Emang seharusnya kaya gitu," kata Luna. "Yaudah, lo harus bikin dia seneng, gak boleh enggak."
"Gak perlu dikasih tau," kata Edwin. "Oh ya, jadi malem ini, lo ngapain telepon gue?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Taoreru
Roman d'amourEdwin, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi menjadi musisi. Luna, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi sesuai prodi yang dia ambil, yaitu dokter gigi. Mereka adalah dua orang yang selalu meledek satu sama lain. Namun, hubungan Luna...
