"LO bawa payung?" tanya Edwin. Luna menggeleng. Edwin menurunkan tasnya sedikit, lalu membuka ritsleting tasnya dan meraih payung berwarna biru muda, lalu mengembangkan benda tersebut. "Ikut, gak?"
Luna hanya bisa terdiam sejenak, tapi akhirnya perempuan itu tetap berjalan mendekat ke arah Edwin, berdiri di bawah payung dengan tatapan yang mencerminkan jelas bahwa dia merasa terpaksa. Edwin hanya bisa menghela napasnya malas melihat kelakuan perempuan yang di sebelahnya ini.
Hening cukup lama. Mereka menelusuri jalan yang dihujam air hujan itu dengan tenang. Faktanya, kafe yang Dito maksud itu tidak terletak tepat di seberang kampus. Mereka harus berjalan sedikit lebih jauh, barulah menemukan kafe tersebut.
Luna menoleh ke kanan. Sepersekian detik, perempuan itu menyipitkan matanya ke arah bahu kanan Edwin yang tampak basah oleh air hujan karena lelaki itu sengaja melebihkan payungnya ke kiri sehingga sisi payung itu justru kelebihan di bagian Luna. Luna menghempaskan bahunya dengan bahu Edwin, membuat Edwin lantas mendengus kesal karena lelaki itu jadi keluar dari payung yang melindungi mereka dan terkena air hujan.
"Kenapa, sih?" tanya Edwin, kesal.
"Ya, biar apa lo lebihin payungnya ke gue?" Luna bertanya balik. "Gue gak mau bales budi."
Edwin hanya memutar kedua bola matanya malas, lalu membenarkan posisi payungnya seperti yang Luna mau, meskipun sejujurnya dia merasa kesal karena perempuan ini begitu aneh dan menyebalkan. Bukankah seharusnya dia berterimakasih dan bukannya marah?
"Lo lagi dengerin apa?" tanya Luna, akhirnya membuka obrolan setelah mereka cukup lama dihanyutkan oleh keheningan selain suara rintik hujan yang menghujam permukaan payung.
Edwin tersenyum ringan, lalu melepaskan salah satu sisi earphonenya dan menempelkannya di telinga kanan Luna.
I'm telling you
I softly whisper
Tonight, tonight
You are my angel
Luna mendengarkan lagu itu dengan tenang. Selain suhu yang dingin dan aroma khas tanah yang terkena air hujan, lagu yang saat ini dia dengarkan pun menentramkan hatinya, entah kenapa. Lagu itu terdiri dari lirik bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Namun, sepertinya, lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi asal Jepang.
"Bagus, kan?" tanya Edwin, tersenyum lebar. "Gimana?"
"Suka," jawab Luna. "Suka banget."
"Ya, kan?" Senyuman Edwin masih terukir. Senyuman itu cukup menjelaskan betapa lelaki itu mencintai musik yang saat ini dia dengarkan. "Itu lagu dari One Ok Rock, band asal Jepang."
"Oh ya, di mobil waktu itu, lo juga dengerin lagu Jepang," ujar Luna. "Lo wibu?"
Senyuman Edwin memudar. "Apa?"
"Lo suka lagu-lagu Jepang, ya?" tanya Luna lagi, mengubah pertanyaannya.
"Suka. Suka banget," Edwin memberi jeda. "Bahkan, waktu manggung di malam festival kampus, kita bawain lagu One Ok Rock."
Luna mangut-mangut, mengerti.
Edwin menyipitkan matanya. "Emangnya lo tau One Ok Rock?"
Luna menggeleng.
"Lagu yang barusan lo dengerin ini juga lagunya One Ok Rock," kata Edwin. "Judulnya Wherever You Are."
Luna terdiam, cukup lama. Dia bisa melihat gemercik api dari Edwin ketika mereka berbicara mengenai musik dan itu bukanlah hal yang aneh karena Luna sendiri pun sudah pernah melihat fakta bahwa Edwin bukan hanya penikmat musik, tapi juga pemain musik. Baru kali ini, Luna bisa melihat senyuman yang tulus dari Edwin kepadanya dan dia dapat melihat itu karena topik mengenai musik.
Lelaki itu menggenggam MP3 Player dengan wajah yang berseri. Tak perlu diragukan lagi, dia benar-benar mencintai musik.
"Kalian habis darimana?" teriak Dito, dari seberang jalan. Edwin dan Luna yang baru saja hendak menyeberang di zebra cross jalan, lantas tersentak mendengar suara Dito yang menggelegar dari seberang mereka. Edwin menepuk jidatnya. Lelaki itu membuat beberapa pelanggan yang baru saja keluar dari kafe melihat ke arah mereka.
Edwin spontan menarik earphonenya dari telinga Luna, membuat perempuan itu sedikit kaget.
"Lo gak bisa lebih lembut lagi nariknya?" tanya Luna, menatap kesal.
"Ih, bawel banget. Nanti kalau kita jadi dicengcengin mereka, lo juga yang sebel," jawab Edwin. "Lo bisa pegangin ini dulu, gak? Gue mau ngiket tali sepatu bentar."
Luna meraih MP3 Player yang Edwin sodorkan, menunggu lelaki itu mengikat tali sepatunya sebelum mereka menyeberang secara beriringan. Secara logika, tanpa teman-teman mereka melihat Edwin dan Luna mendengarkan musik yang sama pun, mereka sudah pasti meledek dua insan itu. Lihat saja, Edwin dan Luna tampak seperti pasangan kasmaran yang sedang merajut cinta di bawah sebuah payung.
"Habis pacaran?" tanya Dito menaikturunkan alisnya ke arah Edwin dan Luna secara bergantian, dibalas dengan pukulan di jidat oleh Luna, membuat Dito, lelaki yang berstatus sebagai ketua angkatan mereka itu, lantas meringis.
Sebenarnya, semua orang di angkatan mereka sudah tau kalau Edwin dan Luna itu tak pernah akur. Bagaikan Tom dan Jerry, mereka selalu berdebat ketika bertemu. Apalagi, kejadian di ospek yang membuat nama keduanya melambung tinggi di kalangan para kakak tingkat dan angkatan mereka sendiri karena Edwin dan Luna yang berdebat mengenai yel-yel kelompok. Namun, semuanya tau, bukan berarti Luna membenci Edwin, begitu pula sebaliknya. Terkadang, perdebatan mereka justru terlihat lucu meskipun mereka saling sebal satu sama lain.
Edwin menyengir kuda ketika dia melihat semua teman-teman angkatannya sudah duduk di dalam kafe dan saling bercengkrama. Sepertinya, mereka belum memulai rapatnya hanya karena menunggu Edwin dan Luna.
"Oke, karena semuanya udah di sini, mari kita mulai rapatnya," ucap Dito, membuat semua pasang mata menoleh ke arahnya. Keuntungan dari cuaca yang sedikit buruk pagi ini adalah mereka bisa melangsungkan rapat di sebuah kafe favorit yang terdekat dari kampus tanpa hsrus memikirkan pelanggan yang akan terganggu oleh mereka, karena kafe ini pun sedang sepi. "Bukan rapat kali, ya. Gue cuma mau ngasih beberapa pengarahan. Pertama, tentang ujian praktikum minggu depan. Kedua, tentang acara Kaninus."
Semuanya memerhatikan Dito dengan seksama.
"Nah, yang pertama, gue dapet info dari penanggung jawab blok, Dokter Elin, mulai sekarang kita harus nyiapin beberapa peralatan praktikum. Jangan sampe ada yang ketinggalan atau gak lengkap, karena kita sama-sama tau kalau Dokter Ellin adalah dosen yang cukup keras dan disiplin banget. Gue gak mau ada di antara kita yang nilainya bermasalah sama Dokter Elin," ucap Dito.
Luna spontan menoleh ke arah Edwin, lalu menunjuk Edwin dan menggeret lehernya dengan telunjuk, mengancam lelaki tersebut. Edwin yang semula hanya menopang dagu malas dan memasang wajah mengantuk, lantas mengernyitkan dahi ketika membaca bahasa isyarat yang Luna berikan dari kejauhan.
Masalahnya, nomor induk mahasiswa mereka berdekatan. Edwin memiliki nomor belakang 11, sedangkan Luna 12. Itulah kenapa mereka selalu sekelompok dalam urusan praktikum ataupun tutorial, sejak awal. Meskipun seharusnya keteledoran mahasiswa yang tidak membawa alat praktikum adalah urusan individual, tapi satu dosen akan mengawasi satu kelompok yang terdiri dari sepuluh mahasiswa dan biasanya, para dosen memercayai bahwa tujuan dari kuliah tak hanya menimba ilmu, tapi juga mempererat hubungan antar teman sejawat.
Sepersekian detik, Edwin hanya bisa memutar kedua bola matanya sebal. Dia memang seringkali ceroboh dalam urusan perkuliahan. Tidak hanya menyangkut praktikum saja. Namun, bukan berarti hanya Edwin yang pernah ceroboh. Ada beberapa anggota kelompok mereka, mahasiswi, yang juga ceroboh, tapi Luna tak memarahi mereka sama sekali. Bukankah itu pilih kasih?
"Terus, yang kedua, gue mau ngomongin soal acara Kaninus," ujar Dito. "Coba di sini siapa aja anggota kepanitiaan Kaninus?"
Beberapa mahasiswa dari angkatan mereka pun menunjuk tangan.
"Selebihnya, gue dapet info dari kating, kalau anggota UKM olahraga bakalan ikut bertanding lawan kampus lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Taoreru
RomanceEdwin, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi menjadi musisi. Luna, mahasiswa kedokteran gigi yang memiliki mimpi sesuai prodi yang dia ambil, yaitu dokter gigi. Mereka adalah dua orang yang selalu meledek satu sama lain. Namun, hubungan Luna...
