1. Sebuah Rencana

19.1K 1.9K 616
                                        

Wangi menghela napas panjang usai membaca pesan di ponselnya.

"Kenapa?" tanya Banyu, melirik sejenak ke arah Wangi yang duduk di sampingnya, lalu kembali mengalihkan pandangan ke jalanan di depannya.

"Bu Sri menagih utang," jawab Wangi sambil menutup fitur pesan di ponselnya, "minta ditransfer dalam minggu ini, paling tidak setengahnya."

"Dia masih mengancam menjual tanah simbahmu?"

Wangi mengangguk. "Kalau aku tidak transfer dalam minggu ini, tanah simbah mau dijual karena ada yang berminat beli. Kira-kira, orang yang dia maksud itu Mas atau jangan-jangan ada yang lain?"

"Nanti kutelepon Linda."

"Kok, telepon Linda?" 

"Kangen!"

"Hah?" Wangi terbelalak, spontan memutar badan ke arah Banyu yang sedang menyetir di sampingnya.

"Ya, mau tanya tentang perkembangan pembuatan sertifikat tanah, lah! Dari situ kan jadi bisa tahu, apakah ada orang lain yang berminat pada tanah itu selain aku," sahut Banyu disertai senyum jahil. "Kan sejak awal aku hanya berkontak dengannya soal tanah ini." 

"Oooh ...." Wangi mengembuskan napas.

"Cemburu, ya?" ledek Banyu.

"Tidak!" sanggah Wangi. "Tadi cuma bingung kenapa menghubungi Linda, kan yang barusan kirim pesan bukan Linda, tapi Bu Sri."

"Gengsi banget buat ngaku, sih!"

"Ingin banget aku cemburu, sih?" balas Wangi.

"Ya, jelas aku ingin kamu cemburu, dong!" Banyu berdecak kecewa.

"Kok, gitu?" Wangi bingung.

"Kan katanya cemburu tanda cinta," sahut Banyu, lalu menoleh ke arah Wangi. "Kamu cinta sama aku, tidak?"

"I-iya." Wangi tersipu.

"Iya, apa? Iya cinta atau iya tidak cinta?" desak Banyu dengan nada serius, padahal dalam hati berusaha mati-matian agar tidak tertawa melihat air muka Wangi.

"Iya cinta," jawab Wangi malu-malu.

"Nah, begitu kan lebih jelas." Banyu tersenyum jahil.

Wangi menundukkan kepala, menyembunyikan senyum malu dan rona di pipi. 

Senyum kian berkembang di bibir Banyu. Ekspresi malu-malu versi Wangi selalu mampu membuatnya tersenyum.

"Aku paham kamu merasa perlu berterima kasih kepada keluarga Wiryo, tapi sebaiknya tunjukkan bahwa kamu tidak bisa diperas. Kalau sekarang kamu memenuhi permintaan mereka, meski tidak sebesar yang diminta, maka ke depannya, mereka akan terus menjadikanmu sapi perah." Banyu mengembalikan topik pembicaraan semula.

"Betul juga, ya." Wangi mengangguk-anggukkan kepala.

"Saranku, jangan transfer dulu. Aku cari info dari Linda tentang legalisasi tanah simbahmu. Baru setelah itu, kita mengatur rencana selanjutnya. Gimana?" Banyu meminta persetujuan Wangi.

Wangi mengangguk, memberi persetujuan. "Aku masih penasaran juga dengan alasan Pak Gatot."

"Ya, nanti kita cari tahu itu juga. Semua harus hati-hati, tidak boleh gegabah agar mereka tidak curiga."

"Terima kasih, ya, Mas," ucap Wangi haru. Jika tidak ada Banyu, maka sudah pasti ia tak berpikir panjang. "Terima kasih sudah membantu soal tanah simbah dan sudah mengantarku ke kantor."

Banyu menganggukkan kepala sembari perlahan mengerem mobilnya yang telah berada di depan lobi gedung kantor Wangi. "Sama-sama."

"Mas hati-hati di jalan, ya." Wangi bersiap membuka pintu. "Kalau urusan di Depok sudah beres, tidak usah menungguiku, pulang duluan saja."

Meneroka Jiwa 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang